Linux Mint Elyssa, a Call for Black Lovers

Linux mau tak mau menjadi pilihan saya saat tengah menjadi panitia sebuah seminar pengenalan Linux di kampus. Dengan embel-embel sebagai software yang halal, mengapa tidak dicoba. Sempat beberapa waktu, saya memakai Ubuntu Feisty Fawn; love that orange works. Tapi kemudian, kambuhlah masalah. Diawali dari ribet karena pake diutak-atik yang bukan bidang saya. Saya pun mulai termehek-mehek pake Ubuntu. Akhirnyaa, dengan penuh rasa bersalah, beralih juga ke Windows lagi.

Sempat terlena dengan Vista, sampai akhirnya crash. Kecewa berat… Pilihan pun jatuh kembali ke Linux. Tapi, dengan pengalaman malas utak-atik, saya pun beralih ke Linux Mint; sebagai distro Linux yang pertama kali saya kenal. Setelah mencari berbagai referensi (thanks to many friends, especially Mas Ghoz. Jauh-jauh dari Arab buat kasi referensi, haha), akhirnya pilihan pun jatuh pada Linux Mint Elyssa. Dan inilah alasan mengapa saya lebih memilih Elyssa, sedangkan Anda tidak… Continue reading