Karena Anak Tidak Butuh Lokasi…

Pernah kepikiran nggak, kenapa acara main anak rata-rata bayar 100.000++? Urusan mahal relatif ya. Kalau buat saya, mahal. Mungkin karena unsurnya bukan cuma main. Ada sewa lokasi juga, snack, perlengkapan, dan sebagainya.

Bisa saja bagi sebagian orang biaya yang tertera tidak mahal. Seperti teman saya, sebut saja namanya Agiet. Bagi Agiet, biaya tersebut sepadan dengan bertemu keluarga lain, bertukar pengalaman tentang mengasuh anak, juga situasi dalam acara tersebut.

Saya setuju. Saya juga ingin bertemu dengan keluarga lain yang sama-sama memiliki anak, bersama menertawakan anak, bersama lepas sejenak dari rutinitas mengasuh yang menjenuhkan ini.

Tapi bukan berarti harus mahal.

Continue reading “Karena Anak Tidak Butuh Lokasi…”

Advertisements

Perpus PAUD Kemendikbud Senayan: Mau Baca Buku atau Main?

Ara sangat penasaran dengan perpustakaan. Diawali dari yang dia lihat di film The Peanuts Movie kesukaannya (yang diputar berulang kali). Ada satu scene yang menggambarkan Charlie Brown lagi di perpustakaan. Tiap nyampe scene itu, dia selalu tanya “Itu apa?” “Itu di mana?” Dan karena berambisi menjadikan dia seorang pembaca, saya pun semangat membawa dia melihat perpustakaan.

Continue reading “Perpus PAUD Kemendikbud Senayan: Mau Baca Buku atau Main?”

Daycare, Akhirnya

I’m feeling like Pamela Druckerman right now. Writing at home while the kid is in the creche–or well, daycare.

Minggu ini akhirnya kami mencoba juga menitipkan Sahara di penitipan anak. Kebetulan memang dekat rumah dan pemiliknya sahabat baik rekan kerja saya dulu (whom she speak highly recommended). Jadi, walaupun pernah punya pengalaman buruk dengan daycare sebelumnya, saya agak meyakinkan diri untuk hari ini (iya, tadi malam tidak bisa tidur hehe).

Ternyata memang Sahara sudah bisa dan mau bermain sendiri.Β Sepertinya dia mengikuti perkembangan alam usianya yang akan menginjak 3 tahun setengah tahun lagi.

Continue reading “Daycare, Akhirnya”