Fast Car

Waktu berjalan cepat jika kita menikmatinya. Terjadi sebaliknya saat tidak menikmati.

Satu tahun ke belakang saya banyak belajar. Pertama, belajar nyetir manual. Setahun ini tugas saya antar jemput anak-anak sekolah. Yang awalnya deg2an lewat jalan kecil, sekarang kayak piece of cake. Yang awalnya jantung mau copot waktu macet di jalan tanjakan, sekarang santai.

Kedua, saya belajar jadi orang tua murid. Awalnya saya pikir gampang. Antar-jemput, senyumin aja kalau ketemu orang tua lain, gak mau terlalu aktif tapi eksis. Bayangan saya orang tua murid membosankan.

Turns out, no. Saya seperti menemukan soul sisters. Di minggu pertama saya tau kami akan kompak. Gak nyangka aja banyak banget hal yang ternyata sama2 kami alami. Saya banyak belajar dari mereka, tentang banyak hal.

Have I told you I’m the youngest?

Dan kenyataan bahwa kami tidak akan bertemu lagi secara rutin di sekolah mulai besok, agak menyedihkan. Tidak ada lagi bahasan mau ngumpul dmn, kuliner di mana, numpang ke mana. Saya akan sangat merindukan mereka.

Tapi saya beruntung bertemu dengan mereka di hari-hari kehidupan saya. Sebelumnya, saya tidak pernah punya teman dengan kondisi yang sama dengan saya. Punya anak, ngasuh sendiri, cemas akan perkembangan anak. Saya blum pernah sreg ngobrol tentang banyak hal sebelum bertemu mereka.

I love you, soul sisters! Til we meet again :*

Terakhir, saya belajar menjadi ibu (lagi). Awalnya saya pikir, itu semua tugas guru-guru di sekolah. Tapi sebenarnya, siapa yang akan diminta pertanggung jawaban akan anak di akhirat?

Saya belajar banyak dari guru-guru di sekolah Ara. Tentang keikhlasan, tentang cinta, tentang waktu yang terbuang untuk hal yang menyenangkan. Tentang tawa anak2, tentang surat Alfatehah yang dihapal Ara setiap hari, tentang serangkaian doa yang dinyanyikan Ara, tentang hal-hal penting lain yang luput saya ajarkan.

Dari mereka saya juga belajar tentang memberi, yang tidak mengharap pamrih. Memberi apa yang dipunya, walau hanya senyum. Memberi apa yang bahkan semua orang punya tapi terlupa, seperti waktu.

Mereka masih muda, punya banyak cita-cita. Tapi satu tahun ini mereka membantu mewarnai hari Ara, dan saya sangat menghargai itu.

Tidak ada materi yang bisa menggantikan apa yang telah mereka lakukan. Hanya doa yang terbaik bagi mereka, seperti yang mereka lakukan untuk Ara. Saat itu saya bersyukur Ara dikelilingi orang-orang baik.

Rasanya baru tadi malam nulis kesan di 3 hari pertama sekolah Ara.

Kalau bisa saya mau tahun depan masih sama. Dengan guru-guru yang sama, teman-teman Ara yang sama, juga ibu-ibu yang sama. Tapi saya sadar dengan begitu saya tidak bisa mengajarkan Ara tentang perubahan, tentang beradaptasi, bahwa tidak semua hal dalam hidup terjadi sesuai keinginan kita.

Walau kadang perubahan itu indah, tapi tidak mudah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s