Why I Choose Uber (And Others Do Too)

Uber telah menjadi rekan perjalanan saya selama setahun terakhir. Ini beberapa alasannya:

It’s cheaper

Serius, lebih murah dibandingkan taksi-taksi argo. Minimal tarif Uber adalah 3000 rupiah, sementara minimal tarif taksi argo mencapai 40.000 rupiah. Bahkan kalau mau dibandingkan, rute regular saya lebih murah mencapai 50.000 rupiah jika menggunakan Uber. Buat di area Bogor yang rata-rata jaraknya dekat? Juga lebih murah, dibanding taksi argo yang biayanya plus biaya panggil dan argonya lebih kecil dari minimal tarif.

2057412uber-5780x390

Gambar dari Citizendaily.net

It’s easier

Teknologi memang memanjakan, ya? Banget! Karena sistemnya memanggil mobil yang paling dekat posisi, seringkali tidak perlu menunggu lama. Apalagi jika berada di daerah yang sedang ramai Uber. Aplikasinya juga mudah digunakan, responsif, sudah terhubung dengan nomor kontak driver, ditambah ada rating driver kalau kita tidak yakin.

Dan karena menggunakan kartu kredit, Uber sangat memudahkan saya yang seringkali bepergian dengan satu bayi dan satu balita. Kebayang gak kalau di mobil mesti menyiapkan uang tunai, dengan satu tangan pegang bayi? Ini agaknya jadi alasan utama saya sih. Tapi jangan khawatir, sudah bisa pakai cash kok.

It’s safer

Ketika terhubung dengan aplikasi Uber, kita akan tahu nama dan foto driver, nomor polisi mobil, dan nomor kontak yang bisa dihubungi. Semua info itu bisa kita screenshot lalu kirim ke keluarga atau teman dekat, untuk berjaga-jaga. Itu semua bisa dilakukan sebelum mobilnya datang, kalau misalnya di mobil lupa kirim infonya.

Karena itu juga saya sering pesan Uber untuk jemput Mama atau Nenek. Kita bisa tahu info driver-nya, lokasi mereka sedang berada di mana. Ada juga yang cerita pernah pesan Uber untuk keponakannya yang tiba dini hari di terminal bus. Aman banget untuk yang suka pulang malem-malem.

It’s friendlier

Bukan driver yang ramah ya, tapi user experience-nya yang buat saya berbeda. Numpang mobil orang gitu! Beda kan rasanya? Dan karena kebanyakan mobil pribadi, saya sering dapat mobil yang sengaja dibuat nyaman. Ada juga yang menyediakan minum, tisu. Kalau di luar negeri bahkan ada yang langsung connect ke Spotify, katanya.

Tanpa seragam, tanpa warna tertentu; buat saya sih itu sebuah pengalaman yang beda ya. It’s like riding with a friend.

***

Nah, merunut Uber yang lagi dituntut untuk dihapus belakangan ini, saya gak punya kaliber untuk bahas sisi hukumnya. Dua hari yang lalu pernah dibahas Aulia Masna, selengkapnya bisa dibaca di sini deh.

Saya tidak ambil pusing mikirin status legalitas Uber yang tengah dibahas (walau yang dijelaskan Aulia Masna kan memang legal). Selain pengalaman di atas, memang banyak sih pengalaman buruk. Misalnya, tidak semua driver bisa baca GPS, kadang mobil bau asap rokok, cara nyetir driver yang gak enak. Tapi semuanya tidak sebanding dengan kenyamanan dan keamanan yang didapatkan.

Kalau memang diberhentikan, saya termasuk yang kecewa berat.

*Outside links from Medium are user experiences, could be factual or fictive. This post is not affiliated; words and opinions are completely my own.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s