Resensi Jujur: CRITICAL ELEVEN

Udah lama banget pengen tulis resensi buku ini, tapi urung selalu. Kenapa? Sepertinya karena banyak orang, dan teman juga, yang memang suka banget dengan buku ini. Jadi mau berpendapat yang agak berbeda, maju-mundur.

[SPOILER ALERT]

Oke. Langsung ya, nih. Menurut saya, Critical Eleven ini…

…biasa aja.

Kalau dibilang novel fiksi ini yang versi ringan banget. Buat saya genrenya drama romantis, dengan masalah yang yah sebenarnya dekat dengan kita. Entah pernah kita rasakan atau tidak. Saat baca tuh memang rasanya seperti ada mutual understanding. Oh iya nih gue pernah gini. Atau, oh kayaknya gue bakal gini deh. Semacam itu.

11931213_901313609958501_512026240_n

Tapi yang mau saya bahas lebih kepada karakternya. Karakter-karakter dalam Critical Eleven ini agak berlebihan. Banyak yang bilang kebawa nangis dan merasa dapet banget feel jadi Anya. Buat saya, karakter Anya cengeng. Hanya satu masalah, diam berbulan-bulan.

Sementara itu, karakter prianya, Ale, menurut saya malah tidak gentle. Saya dibesarkan dan juga menikahi orang yang tiap punya masalah langsung diselesaikan. Jadi itulah definisi gentleman buat saya, tidak menumpuk masalah. Ale diceritakan, begitu didiamkan oleh Anya, dia juga ikutan diam (walau berusaha juga).

Konflik hubungan yang tercipta dalam Critical Eleven adalah imajinasi yang kemungkinan ada dalam pikiran tiap wanita. Saya juga. Kalau saya ngambek, saya maunya diam diam diam terus.

Tapi mau ditanya duluan.

Sayangnya, Ale gak tanya duluan. Gak kelar-kelar deh. Gemes, kan.

Terus yang juga mengganggu pikiran saya adalah: meratapi anak. Meratap. Aduh, sedih banget lho meratap sendiri begitu. Siapa coba yang mau? Semacam perilaku merusak diri.

Ekspektasi saya begitu tinggi akan buku ini. Selain karena memang banyak temen yang bahas katanya bagus, juga karena pengenalan di depan bukunya bagus dan mengundang. Terlihat serius sekali.

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

Dan yang lebih disayangkan, bahasanya campur. Sayang, deh. Saya terlalu sering baca buku sastra sih memang. Begitu baca novel metropop dengan bahasa campur sana sini, terasa seperti baca blog. Kurang cocok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s