Novel “Hujan Bulan Juni”: Sebuah Mesin Waktu

IMG_2407

Saya girang menemukan buku ini. Sebagai penggemar rangkaian kata SDD, puisi ini pasti membekas di hati. Terlepas dari jalan ceritanya mengenai apa, saya lebih penasaran dengan pemikiran SDD tentang cerita di balik puisi itu sendiri. Siapa yang tabah? Hujan seperti apa? Kisah cinta (pastinya) yang bagaimana?

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Alkisah diceritakan Sarwono dan Pingkan, dengan profesi sebagai peneliti dan asisten dosen yang saling merajut cinta. Diceritakan halangan cinta mereka adalah latar belakang suku Jawa dan Manado yang saling tarik menarik. Pada akhirnya, sebenarnya, pertanyaan di atas tidak banyak terjawab. Entah apakah novel ini berhubungan dengan puisinya, tapi sebagai pembaca yang egois saya lebih memilih berpikir bahwa memang berhubungan.

Dua karakter dalam novel tidak menyampaikan perasaannya satu sama lain. Seakan merahasiakan “rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.” Keduanya tidak berbicara mengenai perasaan tapi saling mengerti. Terkadang memang cinta tak perlu dikatakan ya.

Tentang ragu-ragu pastinya ada. Di sini, isu latar belakang Pingkan dan Sarwono yang berasal dari daerah yang berbeda menjadi yang utama. Apakah Pingkan harus memilih calon suami yang berdarah Manado, sementara dia sudah lama tinggal di Jawa? Ah. Rumit.

Pada akhirnya, novel ini dibiarkan tergantung oleh SDD. “Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.”

Uniknya, gaya SDD terbaca jelas. Walau ditulis di zaman sekarang, gaya tulisnya masih kentara gaya zaman dulu. Bukannya aneh, justru unik. Semacam mesin waktu. Apalagi ditambah SDD banyak memasukkan istilah teknologi sekarang, seperti WA, iPad, Keynote. Jadi seakan pikiran terlempar ke masa lampau dengan gaya tulisannya, lalu tertarik kembali ke zaman sekarang begitu bertemu dengan ‘Keynote’.

Membaca karya penulis klasik selalu mengingatkan pelajaran bahasa di SMA dulu. Permainan kata yang saling tumpuk tanpa tanda baca, penjelasan ngalor ngidul khas penulis dahulu menjadi pembeda. Sepertinya memang tidak ada yang bisa melompat generasi, sekalipun waktu menulisnya berbeda.

Rangkaian kata-katanya membentuk inspirasi. Termasuk bagi saya. Penutupan yang menggantung bahkan melahirkan banyak pemikiran lain. Apakah memang harus tabah dalam bercinta?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s