Cerita Kelahiran Aksara

Disclaimer: This is an imaginary conversation I have with myself some time when thinking back to give birth.

Jadi, bagaimana rasanya sekarang?

Lega. Lega banget. Bayi sudah keluar dengan selamat, jahitan tidak begitu banyak. Yah, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Semua harapan palsu dalam minggu-minggu lalu terbayar sudah.

Harapan palsu?

Kontraksi palsu, lebih tepatnya.

Berapa kali?

Hundreds! Sampai pernah ke ruang bersalin dan dites CTG setelah satu malam merasa kontraksi sudah rutin dan intens. Tapi setelah dicek masih kurang kuat. Saya pikir saya masih merasa segar dan tenang karena pengaruh yoga dan banyak gerak dibanding kehamilan pertama. But it turns out, no. False alarm. Ini terjadi dua minggu sebelum hari lahir sebenarnya.

Di hari lahir yang sebenarnya, apa yang terjadi?

Tidak ada. Tidak ada kontraksi yang kuat. Maksudnya, kontraksi ada tapi tidak sampai pembukaan. Saya melahirkan hari Jumat, sudah di RS sejak Kamis malam karena sudah merasakan kontraksi kuat dan intens (again) sejak Kamis siang. Kamis malam diperiksa masih pembukaan satu tapi tidak bertambah-tambah sampai 24 jam ke depan.

How stressful is that?

I try not to be stress. Walau kasur dan aura ruang observasi tidak nyaman sekali, saya coba untuk rileks. Bernafas dengan sadar, meditasi, mencoba berbagai posisi memancing kontraksi.

Did it help?

No.

Lalu bagaimana?

Setelah 24 jam, dicek lagi dan lagi malah mengalami penurunan. Flek darah menghilang, kontraksi tidak menguat, pembukaan masih sama. Dsog saat itu merekomendasikan induksi. Terlebih dia menunjukkan rekam CTG yang menandakan akselerasi jantung janin sempat beberapa kali menurun saat kontraksi. Bisa terjadi kalau kontraksi tidak kuat dan dalam waktu yang lama, seperti selama 24 jam ini. Bisa jadi janin jenuh karena kelamaan. Belum lagi janin sempat terlilit tali pusar saat dicek USG terakhir.

Akhirnya memilih induksi?

Induksi sebenarnya bukan pilihan kami. Bukan pilihan setiap ibu, sepertinya. Tapi keadaan janin ini di luar pengetahuan saya dan suami. Dengan berat hati, terutama saya, akhirnya kami memilih induksi.

Mengapa berat hati? Pertimbangannya karena janin kan?

Jujur, saya takut. Pertama, banyak yang cerita induksi rasanya lebih sakit. Kedua, saya ingat melahirkan itu antara hidup dan mati. Kalau tidak hidup, ya mati. Dan dalam pikiran saya, kalau saya mati, saya belum siap meninggalkan anak pertama, Sahara. Jadi saya takut tidak bisa bertemu lagi dengan dia. Cukup emosional saat memutuskan induksi.

Jadi, induksi. Bagaimana?

Induksi yang dimasukkan semacam hormon penguat kontraksi ke dalam infus. Model ini yang dikatakan sakitnya ampun-ampunan.

Sakitnya seperti apa?

Kuat sekali ya. Dan cepat. Bayangkan saja kalau dalam proses melahirkan yang normal, pembukaannya kan bertahap, sakitnya juga bertahap. Kalau dibantu induksi, pembukaan cepat, sakitnya juga rasanya bertambah.

Rasanya?

Tidak ada yang bisa menenangkan saya. Saya panik. Latihan nafas seperti di senam hamil, lewat. Latihan nafas di yoga, lewaatt! Nothing helps! Akhirnya saya teriak. Dan menarik atau meremas semua yang dalam jangkauan tangan, termasuk suami. Tapi saya paling sering menarik tiang infus ke pinggir tempat tidur. Kuat dan tidak bergerak. Kenapa? Karena jika ada salah satu bagian tubuh yang mengalami nyeri luar biasa, salah satu distraksinya dengan membuat nyeri di bagian tubuh lain sehingga pikiran bisa fokus ke situ. Dalam kasus saya, mengencangkan otot-otot lengan.

Berapa lama dalam pengaruh infus induksi?

Oh sebentar, kira-kira satu jam. Bahkan dikurangi 15 menitan saat saya kabur ke kamar mandi. Ini kabur dalam arti yang sebenarnya lho. Jadi setelah kontraksi mulai terasa kuat, saya minta ke kamar mandi karena infus akan dihentikan sementara. Di kamar mandi, saya menenangkan diri cukup lama. Sialnya, setelah dari kamar mandi, tahap tetesan infus dinaikkan. Makin terasalah! Kabur ke kamar mandi yang kedua kalinya tidak membantu mengurangi nyeri. Akhirnya saya minta infus dihentikan. Kalau tidak salah sudah pembukaan 5-6. Setelah itu kontraksi berjalan tanpa bantuan infus. Total kira-kira 3-4 jam dari induksi sampai pembukaan sempurna.

Ada pembelajaran dari pengalaman melahirkan kali ini?

Pertama, jangan teriak. Sungguh menghabiskan tenaga, tapi saya tidak punya pilihan. Akhirnya saya lelah dan tidak bisa menahan untuk tidak mengejan di pembukaan 8-9. Ketuban pecah. Untungnya saya induksi dan dari ketuban pecah sampai ke pembukaan 10 agak cepat.

Kedua?

Always expect the unexpected. Jangan pernah samakan pengalaman melahirkan anak yang satu dengan yang lain. Orang bilang, kalau anak pertama lahirnya cepat, anak kedua lahirnya lebih cepat. Benar sih lebih cepat, tapi lebih sakit. Saya tidak tahu kenapa pembukaan tidak maju-maju, tidak selancar dulu. Itu hal yang saya memilih untuk tidak dibahas lagi karena banyak kemungkinan dan itu sudah lewat. Tapi lumayan sih untuk dibahas dengan Dsog, kalau mau.

Apa yang unik dalam melahirkan anak kedua ini?

Uniknya, saya cuma membatin kalau saya mau melahirkan hari Jumat. Dua minggu sebelumnya, yang kali pertama tes CTG itu hari Jumat. Saya berharap lahir, tapi ternyata belum. Minggu depannya, tidak ada tanda-tanda. Minggu depannya, saya ke rumah sakit hari Kamis. Tapi ternyata lahirnya hari Jumat.

Selama proses persalinan, siapa yang paling berjasa kali ini?

Suami. Selalu. Saya tahu dia sebenarnya mengantuk, karena malam sebelumnya tidur sebentar dan tidak nyaman di ruang observasi. Lalu malam Jumat pun tidak sempat tidur karena induksi dimulai tengah malam. Tapi dia mengesampingkan tidurnya dan tetap berada di sisi saya selama pembukaan. Bahkan setelah lahir pun, saya harus membangunkan tidurnya di mobil karena saya lapar dan tidak bisa menyuap makanan karena otot lemas semua (terima kasih, tiang infus). Memang dikatakan saat setelah melahirkan, ibu akan merasa sayang dan bergantung pada suami. Rasanya, tidak mau jauh-jauh!

Terakhir, apakah mau hamil lagi setelah ini?

Kalau ditanya sekarang, saya belum mau. Tapi memang setiap hamil itu berat, setiap melahirkan akan sakit. Semua akan terbayar ketika kepala bayi sudah keluar, terdengar suara tangis, lalu bayi dibaringkan di dada. Dan nyeri melahirkan, buat saya, seperti orang bilang “what happens in the past, stays in the past.” Karena intinya bukan nyerinya saja, tapi apa yang dijalani bertahun-tahun ke depan saat membesarkan anak. Jadi memang melahirkan sakit, tapi kenapa banyak ibu yang melakukannya berkali-kali? Go figure! šŸ™‚


Advertisements

2 thoughts on “Cerita Kelahiran Aksara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s