Pengalaman 39 Minggu

So. It’s been going on 39 weeks! Sangat tidak sabar untuk akhirnya menggendong bayi mungil yang sering bergerak dalam perut ini. Sambil menghitung hari, ingin menuliskan hal-hal yang selama ini saya alami.

Dibanding dengan kehamilan pertama, kehamilan kali ini agak lebih banyak PR. Setelah kehilangan di minggu-minggu awal (cerita di sini) pada kehamilan sebelumnya, saya jadi lebih ingin fokus menjaga ini. Saya ganti prioritas, yang tadinya sedang sibuk mengejar karir jurnalis harus rela melepas dan menjadi freelancer. Saya pikir dengan tidak bekerja tetap, saya bisa menjaga kehamilan sambil mengejar ketinggalan perkembangan milestone anak pertama saya, Sahara.

Sejauh ini, saya merasa ini profesi terbaik yang pernah saya jalani. Sekarang sih lagi berhenti cari project karena menghitung hari. Tapi di awal kehamilan, saya bisa menghemat tenaga dan meluangkan lebih banyak waktu istirahat. No more catching morning trains!

Namun kira-kira di trimester dua, PRT yang menginap di rumah tidak balik lagi. Saya pun lebih banyak bersama Sahara, sementara yang dulu mengasuh dia jadi mengurus rumah. Dan ternyata saya ketinggalan banyaaakk momen perkembangannya. Saya terlalu terlena dengan kehadiran pengasuh anak waktu kerja dulu, tanpa mengontrol lebih lanjut apa yang sudah dilakukan selama ini.

It felt like I was missing one year of her development.

Dari situ saya seperti harus belajar dari awal lagi. Usia sekian bulan, mainan apa yang cocok untuk perkembangan motoriknya? Aktivitas apa yang bisa memicu kreativitasnya? Saya ketinggalan semua. Lalu mulai satu minggu sekali saya bawa Sahara ke playgroup yang menerima trial harian.

Saya pun jadi kurang feeling saat bersama Sahara. Insting yang dulu bekerja dengan baik, soal kapan dia merasa bosan, kapan dia mengantuk, kapan dia lapar. Semuanya blank, random. Like I said, kembali ke awal.

Dan belajar semuanya dari awal sangat tidak mudah saat hamil. Alhamdulillah hamil kali ini tidak merepotkan. Tidak ada morning sickness (working sickness ada, saat masih kerja haha), tidak terlalu pemilih makanan. Namun tetap rasanya seperti ada jarak dengan Sahara.

Salah satunya cepat lelah. Saya jadi sering membiarkan dia bermain sendiri sementara saya istirahat. Belum lagi kalau lelah sekali dan Sahara sedang tidak mau diatur–begitulah.

Kehamilan jadi agak terabaikan. Rasanya tidak seperti kehamilan pertama yang embracing the moment. Menghitung waktu, bahkan membuat catatan kehamilan tiap minggunya. Kali ini sangat tidak sempat menulis momen apapun. Fokusnya satu, Sahara.

Tanpa terasa bahkan sudah menginjak trimester tiga. Saat cek kandungan, ternyata janin masih dalam posisi sungsang. Dari situ saya merasa tertampar. Dulu saat hamil Sahara, tidak ada masalah yang berarti. Sampai bosan dibilang dokter kalau semuanya normal hehe. Karenanya begitu sekarang ada masalah, rasanya ada yang salah.

Walau sebetulnya di kehamilan kedua dan selanjutnya, janin lebih bergerak fleksibel karena area rahim tidak sesempit di kehamilan pertama. Dan saat dibilang sungsang itu kalau tidak salah masih di 28 minggu. Jadi sebenarnya janin masih bisa berputar.

But still. Akhirnya kami mengadakan pengajian kecil-kecilan untuk mendoakan janin. Hanya mengundang tetangga, lalu membahas ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan hamil bersama murabbi. Itu saja saya merasa telat karena tidak sempat diadakan saat empat bulanan. Saat itu saya berharap semoga bisa menjadi awal dari emotional bonding saya dengan janin, yang sebelumnya jarang dilakukan saking disibukkan dengan anak pertama.

Mengenai posisi sungsang, dokter menyarankan untuk melakukan knee chest position, seperti yang juga diajarkan di senam hamil. But I’m telling you, it was the worst position ever! Saya tidak suka, bikin pusing dan tidak nyaman. Dan saya baca dilakukan selama 10 menit. Big no!

Tak lama setelah dibilang sungsang dan pengajian, saya mulai mencari oase. Semacam titik balik, pelarian. Saya pun memilih kelas prenatal yoga di Bogor. Saat hamil Sahara juga saya sempat mencoba satu kali di Jakarta, lalu dilanjutkan yoga di rumah lewat DVD. Dulu masih sempat, sekarang rasanyaaa…

Setelah ikut yoga prenatal, saya merasa lebih baik. Jauh lebih baik. Secara fisik, secara emosi. Karena rutin dilakukan di hari Sabtu, saya merasa sudah membagi minggu saya dengan baik. Senin-Jumat saya fokus ke Sahara, Sabtu saya fokus bonding dengan janin. Bahkan setelah itu saya bisa jalan dengan suami karena Sahara dititip di Mama.

Dari kelas yoga prenatal saya belajar posisi-posisi yang bisa diulang di rumah sesekali. Misal posisi kalau kaki bengkak, pinggang atau panggul pegal. Atau bahkan belajar bernafas dengan sadar, relaksasi dan meditasi.

Kehamilan kali ini pun berat badan saya tidak naik bombastis seperti dulu. Bahkan ada satu bulan yang hanya naik kurang dari satu kilo. Itu saat pengasuh yang biasa datang suap makan malam Sahara tidak datang selama sebulan, jadi yah cukup menguras tenaga.

Tapi alhamdulillah, berat badan janin bergerak normal. Bahkan lebih dari Sahara saat itu. Terakhir cek minggu ini, berat badan janin sudah mencapai 3,300 gram. Lebih berat dari Sahara yang ditaksir 3,100 gram dan lahir di berat 2,700 gram.

Di minggu-minggu terakhir ini, akhirnya datang bala bantuan untuk mengurus Sahara. Bersyukur sekali, mungkin sekarang saat yang tepat untuk bonding lebih lama lagi dengan janin dan melakukan yang belum dilakukan. Seperti tidur lebih banyak, ngaji lebih banyak, baca lebih banyak, makan lebih banyak, relaksasi lebih banyak. Akhirnya saya pun punya waktu untuk diri sendiri dalam hari-hari ini.

Rasanya terbagi dengan adil ya? Rusuh dan sibuk sepanjang kehamilan (kami bahkan baru sempat belanja keperluan bayi baru bulan lalu!), akhirnya menemukan ketenangan di akhir. Alhamdulillah.

Sahara pun saat ini sudah jauh lebih berbeda dari awal kehamilan saya. Dia sudah mandiri, bisa saya tinggal saat sekolah, bisa ditinggal satu hari di daycare, makan pun makin banyak, kata-katanya juga makin banyak dan jelas, sudah lepas popok dan tidak ngompol di malam hari, tidur sepanjang malam. Insting ibu yang dulu sempat hilang pun sekarang muncul lagi.

Di atas segalanya, saya sudah siap akan kedatangan bayi baru. Siap kurang tidur karena menyusui sepanjang hari dan malam, siap observasi tiap sakit. Siap kembali menjadi ibu untuk mata mungil yang memandang saya nanti. Still counting days

Advertisements

One thought on “Pengalaman 39 Minggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s