Daycare, Akhirnya

I’m feeling like Pamela Druckerman right now. Writing at home while the kid is in the creche–or well, daycare.

Minggu ini akhirnya kami mencoba juga menitipkan Sahara di penitipan anak. Kebetulan memang dekat rumah dan pemiliknya sahabat baik rekan kerja saya dulu (whom she speak highly recommended). Jadi, walaupun pernah punya pengalaman buruk dengan daycare sebelumnya, saya agak meyakinkan diri untuk hari ini (iya, tadi malam tidak bisa tidur hehe).

Ternyata memang Sahara sudah bisa dan mau bermain sendiri. Sepertinya dia mengikuti perkembangan alam usianya yang akan menginjak 3 tahun setengah tahun lagi.

Berbeda dengan saat kali pertama coba menitipkan di daycare, usia 1 tahun lebih kira-kira. Dan itu suasananya saya baru minggu kedua mulai bekerja kantor lagi. Ditambah hari pertama itu saya tidak bisa antar karena mesti masuk pagi. Jadilah Sahara nangis saat ditinggal ayahnya dan sepanjang hari diam tidak semangat, cerita pengasuhnya.

Ah rasa menyesal masih ada.

Ditambah lagi hari itu Sahara dijemput neneknya selepas maghrib, di mana teman-teman lainnya sudah dijemput semua. Tinggallah anak saya, menunggu dijemput di sebuah ruko (bukan rumah bermainnya karena sudah tutup), hanya berdua dengan salah satu pengasuh, tidak dikasih makanan pun!

Begitu kok bilangnya bisa dijemput jam berapa saja! Bukan masalah bayar overtime, masalahnya apakah anak saya masih “dipelihara” sampai dijemput?

Saat itu kami langsung mencoret tebal-tebal pilihan daycare. Mungkin di tempat lain daycare-nya lebih mumpuni ya. Ini karena Bogor kota kecil dan daycare tempat saya ini bukan best choice juga sih.

IMG-20150605-WA0001

Foto kiriman pengasuh daycare. Salah satu aktivitas daycare: belajar mencorat-coret. Iya, Sahara memang suka mengemil tapi badannya masih petite karena geraknya pun banyak 🙂

Sampai hari ini. Sampai akhirnya saya pun direkomendasikan itu. Not the best, tapi fair untuk sementara. Berhubung once in a while saya harus ke Jakarta untuk bekerja. Lagipula agak menjauhkan Sahara dari suasana rumah, juga dari anak-anak tetangga yang ngomongnya kasar-kasar (duh).

Tapi saya baru tahu satu hal. Sekalipun daycare memang menyediakan katering, pastikan selalu cek menunya. Sahara ini bukan anak French parenting banget deh, sering sekali buka kulkas dan ngemil. Gimana ya, saya tidak tega melarangnya hehe.

Karena suka ngemil itu saya takut dia kelaparan di daycare. Memang dapat makan siang dan snack dua kali siang dan sore. Tapi untungnya saya bawakan bekal snack 2 buah kue, pasta tumis sayur, buah naga besar, dan 3 kotak Ultra Mimi; karena saat saya tanya snack pagi: wafer cokelat. Tidaaaaakk.

Dan barusan saya cek pengasuhnya, semua snack yang dibawa sudah habis! Kecuali susu pastinya. That’s my girl

Sekarang saya sedang menunggu Ashar lalu bersiap menjemput Sahara. Kangennya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s