Memaknai Kehilangan

Saya bukan diri saya beberapa hari belakangan ini. Saya berbincang, tertawa, berpikir seperti biasa; tapi seperti ada yang hilang.

Saya keguguran minggu lalu. Mungkin terlihat sepele, karena waktu itu masih sekitar 5-6 minggu usianya. Dan saya, didasari kehamilan pertama yang alhamdulillah lancar, bersikap santai sekali. Santai dalam arti, merasa tidak terbebani dan beraktivitas seperti biasa.

Saya pikir itu entirely normal. Bahkan mengecek ke dokter pun ditunda-tunda. Akhirnya Sabtu itu kami ke dokter, pun bukan dokter yang biasa karena antriannya panjang. Saya juga berpikir santai, toh hanya cek ada kantung rahim atau tidak, lalu diberi vitamin, selesai. Perihal nanti mau ganti dokter tidak masalah.

Dan benar kantung rahim sudah muncul. Saya diberi vitamin. Lalu pulang, memberitahu keluarga dan teman dekat.

Seems normal right? I do feel normal.

Senin pun berjalan seperti biasa. Saya masuk kantor, tapi tidak ada jadwal keluar. Ceritanya kantor saya itu dingin sekali, jadi terkadang karena agak ribet bolak-balik wudhu, hari itu saya sengaja mengakhirkan Shalat Ashar agar bisa sekalian Maghrib tanpa wudhu lagi.

Karena dari niatnya juga tidak bagus ya. Alhasil, saat saya hendak wudhu Shalat Ashar itu, I got the very first glimpse of bleeding. Darah.

Darah. Darah, yang bagi wanita hamil itu sangat mengejutkan karena bisa berarti berbagai hal. Saya lemas, tapi mencoba untuk tenang. Hal yang pertama terpikir adalah langsung ke dokter kandungan dekat kantor. Akhirnya, saya menuju RS Abdi waluyo dan langsung bilang suster jaga bahwa saya pendarahan. Beliau pun mendaftarkan nama saya dan meminta untuk menunggu. Saya menunggu hampir satu jam, tapi ruang tunggu kosong. Bingung dan nyeri yang masih menyerang, saya akhirnya memutuskan untuk pindah rumah sakit.

Saya menuju RSIA Bunda. Di situ saya bertemu dokter Syarief Darmasetiawan, SpOG (K) FER, yang mengecek dengan USG 4D. Dokter yang agak berumur ini sejenak diam. Beliau lalu berkata lambat (yang belum saya lupakan), “Ibu, kehamilan ini bukan suatu kehamilan yang bagus.”

Beliau lalu menjelaskan terdapat dua gumpalan di area rahim. Bisa jadi kembar, tapi saya ragu, ujarnya. Kemungkinan besar ini hamil anggur, tapi bisa jadi kista fungsional. Beliau menyebutkan beberapa kemungkinan, yang saya tidak simak dengan baik, sepertinya pikiran saya entah ke mana. Operasi kuretase disarankan, karena menurutnya cepat atau lambat gumpalan ini akan keluar dan akan sangat sakit sekali jika tidak lewat operasi. Tapi akan melihat hasil tes darah untuk melihat kadar HCG. Untuk apa, saya lupa. Saya diberi obat progesteron, untuk menguatkan agar tidak keluar sebelum operasi.

Namun suami menyarankan meminta second opinion dari dokter kami yang biasa, setelah ambil hasil darah hari Rabu.

Hari Selasa saya memutuskan di rumah. Sekitar siang, pendarahan berhenti total, bersih. Saya lega. Karenanya saya pun mengiyakan ketika diminta menghadiri sebuah acara di Lebak Bulus esoknya.

Hari Rabu, seperti direncanakan, kami mengambil tes darah dulu. Lalu, saya langsung menuju arah Lebak Bulus. Di tengah jalan, saya merasa darah keluar lagi. Namun, karena jalanan macet saya terpaksa naik ojek dan rupanya lewat jalan yang tidak rata. Saya membatin berdoa semoga tidak apa-apa.

But it gets worse. Di tengah acara bahkan darah mengalir agak deras sampai ke celana luar. Rasanya seperti pipis yang tidak bisa ditahan, tapi ini darah. Selesai acara saya langsung izin tidak ke kantor lagi dan langsung pulang.

Di tengah jalan ini saya merasa: I have to put an end to this situation. Saya mencoba menguatkan diri, apapun yang terjadi, ikhlas, ikhlas. Sebenarnya kami tidak tahu apa yang terjadi, tapi naluri saya memang merasa ada yang tidak beres.

Dokter kandungan saya yang biasa baru praktek di RS Hermina hari Kamis. Saya merasa kelamaan, sementara pendarahannya sudah lebih banyak dari hari Senin. Akhirnya saya cek ke RS PMI Bogor, dan bersyukur bisa booking dokter yang sama pukul 17:30.

Meet our trusted gynecolog: dr Budi Susetyo Spog. Kami sama-sama sreg dengan beliau dari awal ketemu karena menyediakan waktu konsultasi yang serius. Sebagai pasangan muda yang minim pengalaman, kami banyak pertanyaan dan beliau dengan sabar menjelaskan sampai detil.

Saat mengecek, Dokter Budi menemukan bahwa kondisi kantung rahim saya sudah hancur dan tidak sempurna. Bahkan menurutnya, yang juga diperlihatkan di monitor, darah yang mengelilingi kantung rahim lebih banyak dan tebal. Lalu, beliau berkata, yang menjadi semacam vonis buat saya: “Ini kehamilan yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi.” Ini keguguran, ujarnya kemudian.

Operasi kuretase dijadwalkan besok siang, karena dokter bilang harus menanam sebuah alat selama 12 jam untuk membuka jalan rahim. Alat apa, saya tidak tahu. Saya opname sejak malam itu.

Sebelum keluar, Dokter Budi menyemangati sambil bilang, “Sabar ya Dek.”

Sabar? Saya seperti asing dengan makna kata itu.

Saat itu saya belum memahami mengapa saya harus sabar. Malam sebelum operasi, saat saya dimasuki berbagai macam obat, saya seperti mati rasa. Lebih tepatnya pasrah.

Esoknya setelah operasi dengan anestesi total, saya merasa lega. Lega karena saya tidak merasa nyeri lagi.

Namun rasa itu tetap menyelimuti. Kosong.

Saat bertemu anak, saya berkata, “Ara tidak jadi punya dedek. Nanti yaa.” Sebelumnya, setelah tahu hamil, saya memang sudah menyapih Ara dengan beralasan ASInya untuk adik.

Mungkin perasaan kosong itu selain berasal dari janin yang sudah hilang. Rasanya baru kemarin mulai merasa ada yang hadir di dalam diri, sekarang hilang.

Dan perasaan kosong itu rupanya agak terobati dalam sebuah momen yang novelis wanita kadang menamai sebagai ‘ledakan tangis’. Rasa sedih yang tidak tergambarkan selama berhari-hari akhirnya terluapkan. Minggu lalu rasanya seperti awan hitam yang membayangi di atas saya selama berhari-hari, hingga akhirnya menguap secara perlahan sampai sekarang. Menulis ini salah satu upaya saya melupakan…

…dan mengakui. Bahwa hamil itu tidak mudah. Bahwa proses untuk hamil itu tidak sekadar ‘kecelakaan’, tapi butuh persiapan panjang lebar dari dua belah pihak. Mungkin secara batin siap punya anak lagi, tapi bagaimana dengan fisik? Itu yang agaknya saya kurang perhitungkan, karena jelas fisik saya sekarang dibandingkan 3 tahun lalu itu berbeda.

Jadi, kembali ke pesan Dokter Budi tadi: sabar. Just, sabar.

Advertisements

2 thoughts on “Memaknai Kehilangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s