Catatan Kecil Parenting

Jadi orang tua itu banyak mikir. Ini anak belum rencana sekolah, jadi mikir pilihan sekolah itu lain lagi (belum mulai). Sekarang yang sedang dipikirkan adalah gaya pengasuhan anak.

Enggak mau sok teoritis sih. Saya setuju dengan Alissa Wahid, eclectic approach, gaya pengasuhan anak yang sesuai dengan orang tua dan anak; tidak gaya yang ikut-ikutan plek tapi tidak melihat efeknya. Usahanya, dari mulai baca buku-buku pengasuhan anak, baca buku-buku fiksi anak/remaja (iya udah mulai baca, banyak banget lho, cicilnya dari sekarang hehe), sampai mengamati hubungan anak-orang tua di sekitar kami.

Sekarang masih proses sih, belum menemukan benang merahnya. Tapi ya kayak tadi, gaya pengasuhan si-A misalnya belum tentu cocok dengan kami dan anak.

Sementara menunggu metode yang tepat, saya masih terus pendekatan. Terutama karena sekarang sudah bekerja lagi, jadi tiap weekend diusahakan kita bertiga keluar menghabiskan waktu walau cuma belanja sebentar. Kalau tidak begitu, lama-lama saya merasa ‘keahlian’ menghadapi anak (yang dulu sebelum bekerja saya master banget) lama-lama tumpul seiring waktu dengan anak yang berkurang.

Makanya saya masih bersyukur banget kalau misalnya saya atau suami berangkat siang atau pulang cepat, Sahara sama sekali tidak mau dengan pengasuhnya; pasti diusir (literally). Misal mau disuapi sarapan, kalau ada saya pasti sendoknya dikasih ke saya jadi harus saya yang suapi. Ini saya syukuri banget, karena ada juga kan anak yang malah tidak mau dengan orang tuanya walau orang tuanya ada.

Sejauh ini saya masih menganggap attachment itu penting. Bisa berupa peluk, ngobrol, main bersama, baca bersama, menyusui (yang akan masuk tahap weaning). Kalau kata Dr Sears, itu termasuk emotional investment, investasi secara emosi yang diambilnya nanti di masa depan.

Tapi karena jarangnya waktu yang dihabiskan dengan anak, saya kadang suka terharu dengan perkembangan yang terjadi pada Sahara. Bukan hanya tata bahasa yang semakin banyak, tapi juga perubahan emosinya. Misalnya dia sudah bisa membedakan nada suara kami yang baik dan marah, lalu akhirnya nangis kalau dimarahi. Buat saya tidak apa-apa, dia harus belajar. Atau misalnya saat dia tidak sengaja memukul saya, saya pura-pura nangis. Sahara pun langsung memeluk saya lalu bilang “Kacian.” Haha. One step closer deh untuk bilang maaf.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s