Writer’s Block’s Note

Bingung kan judulnya? Iya, saya lagi writer’s block cuma memaksa diri untuk menulis apa aja deh. Semacam doodle tapi dalam bentuk tulisan gitu.

Dimulai dari apa yang saya pikirkan. Sekarang? Hmm. Saya tengah berpikir tentang skenario serial korea, Lovers in Paris. Tidak terlalu terkenal dan udah lama banget, tapi ini satu-satunya serial korea yang saya tonton dan suka banget! Tentang cinta segitiga gitu dan semacam cerita cinderella: wanita miskin yang dinikahi pria kaya. Ah, sempurna ya?

Cuma saya tengah berpikir untuk mengutak atik plotnya. Secara pribadi, saya sih maunya si cewek ini pilih cowok yang satu lagi. Dan sepanjang film saya merasa, porsi hubungan dua cowok itu lebih berat sebelah ke si cowok kaya. (Ah bingung, mending sebut H dan S ya.) Sementara, H dan S itu kakak adik, jadi klo kaya sih sama-sama deh. Si cewek pun pertama ketemu sama S. Jadi menurut saya sih agak ga adil ya buat S, apa-apa jadi yang kedua padahal dia duluan suka.

Tapi setelah saya utak atik (dalam pikiran ya, bukan tulisan), ternyata emang susah banget kalau porsi plotnya seimbang. Misal nih udah sama-sama kaya terus sama-sama ngejar satu cewek. Berarti klo mau seimbang di plot gantian dong munculnya? Nah ituu agak garing ya menurut saya, gampang ketebak. Terus enggak bisa kelamaan plotnya, klo kelamaan jdinya karakter ceweknya ga punya pendirian. Hiihh ga suka karakter begitu.

Jadi, case closed yaa. Haha.

Kalau kepikiran tentang karakter cewek, saya mau berbagi tentang rencana penulisan novel. Ceritanya ada tiga karakter cewek yang sahabatan dengan berbeda profesi, nah beda-beda konflik juga. Terinspirasi dari Candace Bushnell pastinya yaa, yang bisa menjalankan plot dengan berbagai karakter yang porsinya pas (review tentang Bushnell ada di blog self hosting saya, tapi sedang diurus langganannya sama suami hehe). Saya pengen karakternya Indonesia, enggak kebarat-baratan, enggak berlebihan, enggak norak, low profile deh, biasa saja. Intinya masih tetap ada semangat feminisme dan kewanitaan. Ah, enggak jauh-jauh deh kalau saya yang nulis.

Kenapa feminisme? Karena saya, belajar dari skripsi s1 pastinya, tahu hak dan kewajiban wanita. Bukan cuma posisi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Sebagai wanita saya tahu saya punya kewajiban seperti ini, dan saya berhak diperlakukan seperti ini. Tapi saya bukan aktivis, bahkan saya benci feminis. Mereka yang mengaku feminis agaknya tidak tahu kewajiban dan kodrat mereka. Kalau namanya kesamarataan gender, jelas tidak akan pernah bisa sama karena dari Penciptanya sudah begitu. Pemahaman feminisme yang beredar sepertinya hanya masalah ego saja ya. Sekali lagi, mau disamakan dengan pria jadi egonya sama-sama ditinggikan.

Tujuan saya menulis tentang feminisme (dengan pemahaman saya ya, bukan yang radikal) adalah untuk menyebarluaskan pemahaman tentang wanita yang anggun dan menakjubkan (bahasanya ceuu). Silakan jadi apa saja yang diinginkan, tapi tetap tahu posisinya sebagai anak, istri, dan ibu. Karena mau setinggi apapun posisinya di luar rumah, dia akan tetap kembali ke rumah. Habis kemana lagi pulangnya kalau tidak ke rumah?

Dan saya ingin menciptakan karakter yang sederhana. Karena terlalu banyak materi, terlalu berat pertanggungjawabannya ya?

Oke, sekian yaa kilas novel saya. Nanti malah enggak ditulis-tulis karena kebanyakan mikirnya hehe.

Terakhir, saya mau bahas tentang salah satu penulis wanita yang saya kagumi, NH Dini. Beliau ini ibu dari sutradara yang dikatakan sebagai keturunan Indonesia. Tapi saya penasaran dengan kabar yang beredar bahwa dia tinggal di panti jompo dan sebagainya. Saya jadi ingat novel-novelnya yang saya baca yang memang sebagian besar menceritakan kehidupan pribadinya, terutama juga pernikahannya dengan pria Perancis yang akhirnya bercerai (itu yang anaknya jadi sutradara). Lalu saya pun bertanya-tanya apa si sutradara itu pernah baca novel-novel ibunya yang menceritakan kehidupan pribadi orang tuanya?

Bagaimana sih rasanya kalau kehidupan pribadi keluarga kita diekspos?

Apa enaknya sih cerita pernikahan diekspos? Hih! Apakah menghasilkan solusi? Menurut saya malah hanya akan melahirkan masalah baru.

Mengumbar di status juga begitu tuh, sama saja. Enggak tahu tujuannya apa. Kalau berbagi kebahagiaan mungkin saya bisa mengerti ya, saya juga kadang begitu. Tapi kalau curhat atau bahkan memaki-maki, duh. Saya sih mending curhat sama orang yang bener biar dapat solusi, ini kok malah curhat di media yang alurnya satu pihak (novel juga termasuk ya).

Jadi hati-hati ya sama apa yang kita tulis, di mana pun dan kapan pun. Kembali lagi, kita enggak hidup sendiri di dunia ini, kita membawa nama baik orang tua, suami, anak, dan keluarga lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s