One Hell of a Love Letter

Berikut adalah kutipan surat Captain Wentworth untuk Anne Elliot, which had successfully made me melted.

I can listen no longer in silence. I must speak to you by such means as are within my reach. You pierce my soul. I am half agony, half hope. Tell me not that I am too late, that such precious feelings are gone for ever. I offer myself to you again with a heart even more your own, than when you almost broke it eights years and a half ago. Dare not say that man forgets sooner than woman, that his love has an earlier death. I have loved none but you. Unjust I may have been, weak and resentful I have been, but never inconstant. You alone have brought me to Bath. For you alone I think and plan.–Have you not seen this? Can you fail to have understood my wishes?–I had not waited even these ten days, could I have read your feelings, as I think you must have penetrated mine. I can hardly write, I am every instant hearing something which overpowers me. You sink your voice, but I can distinguish the tones of that voice, when they would be lost on others.–Too good, too excellent creature! You do us justice indeed. You do believe that there is true attachment and constancy among men. Believe it to be most fervent, most undeviating in.

F.W.

I must go, uncertain of my fate; but I shall return hither, or follow your party, as soon as possible. A word, a look will be enough to decide whether I enter your father’s house this evening, or never.

Ya memang saya akui, Anda bisa ‘meleleh dan tersipu malu (melted and blushed)’ baca surat ini kalau juga baca keseluruhan cerita. Jadi, secara singkat: Captain Wentworth dan Anne Elliot dulunya memiliki hubungan, tapi akhirnya tidak disetujui oleh Lady Russell, yang ceritanya teman dekat almarhumah ibu Anne dan sangat dihormati Anne. Karena Anne saat itu masih 19 tahun, ya akhirnya dia nurut-nurut saja pas dilarang berhubungan. Pisah deh mereka.

Bertemu lagi 8 tahun kemudian, Captain Wentworth ceritanya masih kesel sama Anne, jadi sok ga kenal. Anne juga sih, diem-dieman lah mereka. Padahal mah ya masih ada rasa lah pastinya. Di sini gaya nulis Jane Austen yang klasik terlihat jelas, berbeda dari penulis lain. Yang baca udah geregetan banget, tapi plot berjalan lambat, sangat lambat. Banyak karakter baru, banyak kejadian baru, banyak bahasan-bahasan; yang menurut saya–karena kebanyakan baca novel zaman sekarang–agak tidak penting. Yang ada dalam pikiran saya tuh cuma: cepet deh gimana kelanjutan Captain Wentworth sama Anne! Haha.

Hingga akhirnya, mereka bertemu kembali di Bath (seperti dalam surat). Captain Wentworth sudah merasa yakin bahwa Anne is the one (karena ceritanya dia juga lagi cari jodoh). Tapi ya sudah gitu juga tetep aja malu-malu keduanya. Jadi yang satu malu-malu, yang satu diam saja; ya ga bakal ketemu ini ceritanyaaa! Geregetan banget bacanya ergh. Akhirnya dikasih juga surat ini ke Anne, dikasihnya juga diam-diam di drawing room pas lagi ada beberapa orang di sana. Di poin ini saya tiba-tiba merasa Captain Wentworth berubah jadi Mr Darcy dan saya pun tersipu-sipu bacanya (#penting).

Ga tahu kenapa tersipu-sipu. It happens a lot whenever I read love story, as sharing the happiness of the woman character.

Singkatnya, Anne baca surat trus seneng dong. Pas dia jalan mau pulang, ketemu Captain Wentworth dan jalan bareng lah mereka. Itu pertama kalinya mereka ngobrol bareng di buku ini dari awal. Et cetera, et cetera, langsung balikan lagi…dan menikah deh.

Poin yang bisa didapat dari Persuasion adalah…hey ini Jane Austen! Tipikal karyanya: wanita yang kuat, agreeable (masih belum nemu terjemahan bahasa Indonesia-nya), tidak norak, ladylike–semacam itu deh. Singkatnya, karakter utamanya pasti adalah seorang wanita yang didambakan pada zamannya. Didambakan oleh wanita ya, talking about feminism. Karena bisa dibilang, Anne Elliot adalah karakter yang langka ditemukan pada 1818.

Lalu plot? Ah, sudahlah. Berjalan lambat, gaya Jane Austen. Tiap kejutan itu terasa indah buat saya, yang selalu menyukai kejutan (#kode). Tapi ya memang saya gampangan banget melted sama kejutan sih.

Cuma yang saya agak mikir dari segi plot adalah banyaknya karakter wanita yang dituliskan Austen sebagai (ceritanya) pilihan Captain Wentworth untuk menjadi istrinya. Wanita-wanita itu masih kerabat Anne juga–jadi agak oxymoron ceritanya setiap saat Captain Wentworth hanging out bareng wanita-wanita itu sementara Anne ada di dekat mereka tapi masih diem-dieman sama Captain Wentworth. Lalu ternyata malah wanita-wanita itu memilih pria-pria lain sebagai suami. Ini yang membuat saya pikir, kok sepertinya Captain Wentworth tidak memiliki pilihan lain hingga akhirnya kembali berpikir bahwa Anne adalah yang terbaik untuk dia ya?

Mungkin hal ini agak dilewatkan oleh Austen. Karena, coba kalau dia memasukkan lebih banyak unsur curi-curi pandang dari pihak Captain Wentworth ke Anne selama masa sebelum mereka berada di Bath. Atau putusan Captain Wentworth memilih Anne lebih dulu diceritakan daripada saat karakter wanita lain memilih suami mereka–sehingga dapat disimpulkan bahwa Anne memang pilihan dari awal, bukan pilihan akhir.

Ya ini saya berpikir seperti Austen saat menulis Pride and Prejudice, Elizabeth Bennet jelas pilihan Mark Darcy dari awal cerita sehingga dia bukan pilihan terakhir. Entah ya, saya agak kecewa dengan penjabaran karakter Anne Elliot oleh Austen. Mungkin karena ini karya terakhirnya.

Dari dua karya Austen yang sudah saya baca, jelas ada kesamaan karakter antara Elizabeth Bennet dan Anne Elliot. Sama-sama dijodohkan tapi menolak. Yang membedakan cuma cara perlakuan karakter pria (yang akhirnya dinikahi) kepada mereka.

Saya memilih langsung loncat baca Persuasion (dari 4 karya awal lainnya) karena dari film Jane Austen Book Club, saya dapat kesan bahwa Persuasion bercerita tentang kehidupan pernikahan. Dan saya penasaran banget apa yang ditulis Austen sang feminis-wanita-lajang ini tentang pernikahan. Tapi ternyata masih sama, cerita berakhir dengan menikah–bukan plot tentang menikah.

Satu tips saat membaca karya Austen: fokus. Gaya tulisan klasik yang memuat banyak kata dalam satu paragrafnya, juga sangat detil dalam penggambaran lokasi atau latar belakang karakter. Terkadang bahkan saya sering missed dalam kata ganti orang kedua he/she–terkadang tidak dijelaskan (di awal paragraf atau awal kalimat) bahwa he/she itu maksudnya siapa karena yang dibicarakan bisa lebih dari satu he/she.

Tapi nikmati saja, itu yang bikin indah.

I have loved none but you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s