Sahara – Cerita Kelahiran

Rabu, 10 Oktober 2012

Pukul 22.30. Waktu itu, saya sedang menemani suami nonton film-film kartun ironi Amerika seperti The Simpsons, Family Guy, American Dad dan sebagainya. Saat itu saya sudah merasa mulas. Tapi ya karena emang amatiran, saya belum bisa membedakan mulas melahirkan dengan mulas buang air besar. Akhirnya saya bolak-balik ke kamar mandi, mencoba buang air besar tapi tidak berhasil. Saya bilang ke suami, sesekali bercanda mungkin ini mulas melahirkan, walau tidak yakin.

Kamis, 11 Oktober 2012

Pukul 2 dini hari. Saya terbangun, seperti biasa. Tapi masih merasakan mulas yang sama, tapi merasa bahwa mulas agak berkala. Mencoba tidur lagi tidak bisa.

Pukul 3 dini hari. Terbangun lagi, masih merasa mulas berkala, tapi belum teratur. Saya mencoba bangkit dari tempat tidur. Teringat artikel bidan, jika merasa kontraksi melahirkan coba untuk banyak bergerak dan rileks. Saya coba untuk berjalan ke kamar mandi dan ruang tengah. Di ruang tengah saya duduk, menyetel TV nonton Hawaii Five-O sambil memakan makanan sisa tadi malam (karena agak lapar). Sambil nonton, saya juga sesekali melirik jam dinding tiap merasakan kontraksi. Beberapa kali, kontraksi terjadi rutin setiap 10-5 menit. Saya coba tenang, walau tidak kepikiran gimana-gimana nanti.

Pukul 4 dini hari. Mama bangun dan kaget mendapati saya sedang di ruang tengah. Lebih kaget lagi saat saya bilang sudah mulas. Mama meminta saya untuk menghitung kembali jeda kontraksi. Saat itu, saya merasakan kontraksi sudah rutin 5 menit sekali. Tapi tetap saya agak ragu, karena pengalaman kontraksi diare yang bikin heboh satu rumah. Akhirnya, saya pun SMS dokter kandungan, bilang bahwa kontraksi sudah 5 menit sekali apa sudah waktunya ke rumah sakit. Sambil menunggu balasan, saya membangunkan suami. Bersama suami, kami mencoba tenang, sempat shalat Subuh berjamaah. Kontraksi masih 5 menit sekali.

Pukul 5. Belum ada balasan dari dokter kandungan. Suami pun mencoba menelepon, tapi tidak diangkat. Ya sudah, akhirnya siap-siap ke rumah sakit. Mama dan suami tidak berangkat kerja.

Pukul 6. Saya, yang masih ragu kalau ini kontraksi palsu, menelepon rumah sakit. Saya bertanya tentang prosedur ibu hamil yang sudah kontraksi tiap 5 menit sekali. Pengangkat telepon menjawab ramah bahwa nanti ibu akan diantar ke ruang bersalin, karena di situ tempatnya para bidan, untuk dicek.

Pukul 6.30. Saya, suami dan mama tiba di rumah sakit. Setelah registrasi, seorang suster datang membawa kursi roda. Saya (dengan soknya) bilang tidak apa-apa, saya jalan saja tidak usah pakai kursi roda (masih dalam rangka ingat artikel bidan tentang banyak jalan saat kontraksi). Suster tetap bersikeras saya naik kursi roda, menjawab dengan ramah. Akhirnya saya mengalah. Itu kali pertama saya naik kursi roda di rumah sakit.

Kami naik ke ruang bersalin. Saya lalu memasuki sebuah ruangan, saya tahu itu ruang observasi. Kemudian suster datang membawa alat pemantau detak jantung janin. Jantung janin dipantau bagus, kontraksi sudah terjadi 5 menit sekali tetapi masih kecil frekuensinya.

Pukul 6.45. Beberapa bidan datang, pemeriksaan dalam. Intruksi para bidan jelas sehingga saya tidak terlalu tegang. Sudah pembukaan 3, katanya. Saya lega berarti benar ini kontraksi melahirkan. Mama dan suami lalu pergi mengurus administrasi di lantai bawah.

Pukul 7. Saya mencoba tenang. Sarapan, baca majalah. Memang setiap kontraksi terjadi saya tidak ingin berbaring, sehingga saya hanya duduk-duduk saja di atas tempat tidur. Bidan datang lagi mendorong meja bertutup kain ke ujung tempat tidur saya. Saya tanya itu apa, dia jawab ini ‘peralatan tindakan’ dokter kandungan. “Buat siap-siap saja karena rahimnya sudah lunak” katanya. Saya agak mencelos saat membayangkan ‘peralatan tindakan’ itu.

Saya lalu bertanya, biasanya sampai berapa lama hingga pembukaan sempurna. Bidan menjawab, tergantung rasa mulasnya kalau konsisten bisa cepat. Saya membatin dalam hati semoga rasa mulas ini bisa konsisten. Bidan itu juga lalu menyarankan saya untuk sesekali jalan-jalan. Saya mengiyakan. Katanya lagi, “Kalau malam, baru mungkin tidur.” Saya mencelos lagi membayangkan menunggu ini sampai malam.

Pukul 8. Tapi ternyata kontraksi sudah mulai kuat. Sama sekali tidak kuat berjalan. Saya coba duduk, tidak nyaman. Akhirnya saya coba berbaring ke kiri, lumayan sekali. Saya mencoba tenang, sambil mendengarkan musik di earphone. Lumayan berhasil.

Pukul 9. Masih kontraksi, sepertinya agak lebih kuat. Hilang sudah upaya untuk memikirkan hal-hal yang bikin tenang (ceritanya hypnobirthing tapi gagal). Masih mendengarkan musik. Tangan suami saya remas-remas. Di seberang tempat tidur juga ada mama saya yang mendoakan. Ah, sebenarnya momen ini sangat mengharukan dan menyentuh. Tapi nyeri kontraksi memaksa saya tidak berpaling pada momen dan fokus ke nyeri. Lalu, bidan datang lagi (kalau saya bilang bidan, ini bukan satu orang ya, ada banyak bidan yang stand by) dan melakukan pemeriksaan dalam lagi. Kali ini, saya mulai agak terbiasa. Sudah pembukaan 4, katanya. Tak lama, datang suster memberikan saya baju ganti.

Pukul 10. Kontraksi makin menjadi rasanya. Masih mendengarkan musik, tapi saya tidak bisa fokus pada musik sama sekali (percuma milih lagu sampai berhari-hari haha). Saya terus memejamkan mata. Suatu saat, seperti ada gerakan dan saat saya membuka mata saya melihat dokter kandungan saya datang. Melihat beliau itu rasanya nyaman sekali, akhirnya ada muka yang saya kenal di sini (selain suami dan mama pastinya). Beliau masih pakai jas dokter rumah sakit lain. Saya lirik jam dinding, saat ini harusnya beliau ada jadwal praktek di rumah sakit lain. Dan lucunya, hari ini saya dan suami biasa konsultasi di rumah sakit itu. Saya sedikit membayangkan jika sedang menunggu beliau karena ada pasien sedang pembukaan di tempat lain. Seperti saat ini.

Dokter melakukan pemeriksaan dalam lagi. Saking mulai nyerinya kontraksi, saya agak tidak merasakan apa-apa saat pemeriksaan dalam. Dokter bilang, sudah pembukaan 4-5, kemungkinan bisa sekitar 4 jam lagi. Tapi entah mengapa, saya merasa tidak akan selama itu. Beliau juga menyarankan untuk bernafas teratur, saya mengiyakan.

Pukul 10.15. Benar saja. Seperginya dokter, kontraksi mulai berasa lebih kuat. Saya menahan nyeri dengan tidak teriak, tapi memejamkan mata dan meremas tangan suami. Saat suami sedang beranjak, gantian tangan mama yang saya remas. Tapi lama-lama saya tidak tega meremas tangan mama. Akhirnya saya tidak mau melepas tangan suami sama sekali. Samar saya melihat di dekat kami mulai diletakkan banyak hal: meja berlampu, oksigen, dan sebagainya.

Pukul 10.45. Saya agak lupa tepatnya, tapi pemeriksaan dalam terakhir menunjukkan sudah pembukaan 8. Dan ini rasanya, tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Kalau ingat saat itu, selalu ingin menangis (haru). Nyeri sekali, seperti sudah diujung tapi tidak punya bayangan apa yang sudah diujung itu. Ada rasa agak bosan. Bidan terus mengingatkan untuk tidak mengejan dulu. Saya rasanya setengah mati tidak mengejan. Saya mulai mengerang di sini, tapi sambil menutupkan muka ke tempat tidur. Tiap kali berasa kontraksi, satu bidan mengurut panggul saya dengan telapak tangannya sekuat tenaganya (mungkin saking kerasnya kontraksi, maka pijatannya juga harus keras). Ini sangat membuat saya lebih nyaman, sedikit.

Pukul 11. Segalanya mulai berjalan cepat. Orang-orang berjalan cepat, berbicara cepat. Kontraksi juga terasa lebih cepat. Sampai akhirnya dokter datang lagi, kali ini tidak pakai jas dokter. Saya diminta berbaring lurus, rasanya tidak kuat dan ingin berbaring miring saja. Saking hebatnya kontraksi, saya terus-terusan mengerang dan memejamkan mata. Sampai akhirnya dokter berkata tegas ke saya: “Lihat saya, dek, lihat saya!” Saya membuka mata. Lalu saya diinstruksikan untuk ambil posisi mengejan. Yang sudah senam hamil tahu posisi ini, tapi rasanya saat itu saya lupa sama sekali. Saya bahkan lupa kalau bisa berpikir (ini serius lho), sehingga sepertinya untuk posisi mengejan harus diinstruksikan oleh bidan dan dokter.

Dokter berkata tenang: “Jangan angkat pan*** nanti robeknya kemana-mana.” Saya pikir, saya tidak tahu kalau pan*** terangkat; itu murni refleks. Saya mulai dikatakan jangan memejamkan mata, oke saya membuka mata. Tapi membuka mata membuat saya panik. Mungkin dokter melihat saya panik dan tidak melakukan hal yang penting dilakukan saat itu, seperti mengejan. Dokter mulai berkata keras: “Dek, mengejan! Mengejan seperti be*** keras kalau kontraksi!” Saya BINGUNG karena instruksi dokter panjang! Akhirnya saya mengejan saja, padahal belum kontraksi sepertinya. Akhirnya saya disuruh tahan. Lalu muncul kontraksi, semua orang sepertinya menyuruh saya mengejan. Saya mengejan, belum terjadi apa-apa sepertinya. Berusaha untuk tidak melihat ke bawah karena saya luar biasa panik. Mata tetap membuka tapi entah melihat ke mana. Kontraksi lagi, saya mengejan lagi. Kali ini sekuat tenaga. Lalu, terdengar tangisan itu.

Pukul 11.13. Suami yang cerita bahwa saya mengejan tidak lama, lalu bayi keluar. Saat mendengar tangisan itu, saya lega. Tapi ya memang saya orangnya panikan, jadi masih tersisa juga rasa paniknya. Apalagi saat dokter mengeluarkan plasenta dan sebagainya. Bahkan saya tidak merasa atau mendengar apa-apa saat ketuban pecah di luar, mengenai dokter dan membasahi lantai, kata suami. Tak lama saat sudah agak tenang, suami berbisik pada saya untuk melihat ke arah kiri: “Itu dedek,” katanya. Sangat mengharukan.

Tapi, setelah saya kira semua baik-baik saja, di ujung ranjang saya melihat dokter duduk. Melihat beliau duduk saja saya sudah merasakan hal buruk akan terjadi. Benar saja, penjahitan dimulai. Jika dirasa kontraksi dan mengejan sudah nyeri, dijahit ini lebih nyeri lagi. Bayi saya mulai diletakkan di dada, IMD. Tapi rasanya saya tidak fokus IMD karena sibuk mengerang nyeri. Saya benci dokter saya saat itu.

Pukul 21.00. Akhirnya bisa bernafas (benar-benar) lega. Keluarga sudah pulang, hanya keluarga inti saja sih terutama mama dan mertua yang paling terakhir pulang. Tidak sengaja pula hanya rekan-rekan terdekat kami berdua yang baru diberitahu, terutama lewat BBM dan Twitter, selain itu mungkin akan saya beritahu esok hari. Belakangan saya tahu suami bahkan menuliskan live report ke grup BBM sahabat SMA saya (numpang di ponsel suami) saat melahirkan.

Saat ini, suami sudah tertidur pulas. Dia pahlawan saya hari ini: dari mulai mendampingi saat mulas di rumah (walau masih mengantuk), tahan tangannya saya remas (walau pastinya buat dia mungkin tidak sakit), menyuapi saya yang sangat lemah setelah melahirkan karena kehilangan banyak darah, membantu saya berjalan dari tempat tidur ke kamar mandi di kamar rawat, juga mendampingi di kamar rawat. Saya teringat sebelum kami berangkat ke rumah sakit, dia sengaja memilih kaos hitam kesukaannya untuk dipakai hari ini. “Ini kaos untuk nemenin kamu melahirkan,” katanya. Kaos produksi dia, tulisannya: ‘True man never leaves his lady” (bisa dilihat di sini). Saya bangga dengannya.

Dan di sebelah suami, di antara kami, Sahara tertidur pulas sekali dalam boks kecilnya. Anakku begitu mungil, mungkin itu sebabnya keluarnya cepat. Saya sudah menggendongnya untuk kali pertama dan langsung terenyuh. Teringat mata kecil yang memandang saya, antara bingung dan mencari kenyamanan, saat IMD tadi. Mata itu, saya yakin, tidak akan pernah saya lupakan sampai kapanpun.

Sahara, namanya. Panggilannya Ara.

Advertisements

13 thoughts on “Sahara – Cerita Kelahiran

    • Haloo. Iyaa pasti terharu krn ada naluri keibuan hehe. Aku lahiran di RS Hermina Bogor, mbak. Wah sudah pertengahan ya, selamat siap2 perlengkapan adek bayi yaa. Pasti berhasil! πŸ™‚

  1. Winda Martrilia says:

    Hmmm.. lahiran sama dokter Budi ya Mbak? Soale setahu saya yang suka manggil pasiennya dengan sebutan ‘dek’ ya si dokter ganteng satu itu hehe… Saya juga lagi hamil mbak, sekarang 21w, insyaAlloh due date pertengahan Maret 2014 dan sama dokter Budi periksanya. Selama ini saya periksa di RSIA Hermina Bogor, tapi saya masih galau mau lahiran di situ juga atau di PMI Afiat, secara dokter itu cuma ada di dua RS itu saja.

    • Betul, hehe. Anak pertama mbak? Saran aku sih mending d Hermina karena setelah melahirkan lebih nyaman krena ada masa2 bayi ditaro d ruang bayi jd kita bisa istirahat. Klo d Afiat kan selalu di kamar bareng kita. Klo untuk 3 hari stelah melahirkan sih menurut aku butuh istirahat bnget kita, bbrp jam ga sama bayi gpp deh hehe. HTH

  2. Winda Martrilia says:

    Anak ke-3 mbak, hehe. Dulu lahiran anak pertama di RS Azra sama dokter Surya Chandra, lahiran anak kedua di RSIA Hermina sama dokter Surya Chandra jg. Antara Azra ama Hermina sih memang mendingan Hermina, nah Afiat ini yang saya masih nge-blank hehe, ada yang bilang kalo lahiran di Afiat secara prosedural harus tetep ke IGD nya yang di belakang itu dulu pas dateng mau lahiran. Ih serem amat ya, itu kan IGD umum yang nyampur ama pasien sakit keras ataupun kecelakaan 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s