38 week + 0 day

Minggu lalu adalah bencana! Serangan hormon, pastinya. Rasanya lebih seperti sensitif tinggi seperti PMS. Ah. Ada suatu hari bahkan saya lagi ga mood sama sekali. Marah sana-sini, protes sana-sini. Yang kasihan ya orang rumah: suami, mama. Ah. Saya sayang mereka banget deh, walau saya lagi sensitif tetap mengerti. Puncaknya mungkin malam Sabtu ya, saat motor suami ternyata mogok dan suami harus menginap di Jakarta. Rasanya tuuhh, sudah seharian saya ga mood ditambah suami ga pulang: itu dobel hormon!

Jadi untuk mengatasi rasa ga mood, hari Sabtu saya pergi senam hamil pagi-pagi dianter mama. Dari senam hamil mau main ke rumah nenek biar ga penat dan bosan di rumah terus. Ternyata, saat tiba di rumah sakit dan ditensi oleh bidan (rutinitas sebelum senam), tekanan darah saya tinggi. Mencapai 140/90! Bidan bilang jangan ikut senam dulu ya, melihat saja. Saya kaget juga, belum pernah saya dibilang tekanan darah tinggi. Eh pernah sih waktu ke rumah sakit pas diare dan belum makan seharian, tapi itu saya rasanya lemas dan dengarnya juga ga begitu ngeh.

Bidan lalu mengira-ngira kenapa bisa tinggi. Mungkin habis jalan–bisa jadi karena saya naik angkot dan tadi agak jalan terburu-buru. Mungkin sering makan makanan mengandung garam–entah yaa, yang saya tahu saya malah lagi senang makan roti cokelat. Akhirnya sepanjang waktu senam saya tiduran saja di pojokan. Saya merasa mungkin memang karena kecapekan, jadi saya coba tenang beberapa menit. Tapi setelah itu saya ikut juga gerakan senam dikit-dikit. Beberapa kali saya dimarahi mama karena ikut gerakan senam, katanya tekanan darah tinggi memang indikasi agak ‘bahaya’.

Ya sudah saya istirahat, dengan harapan tekanan darah bisa turun. Agak menggampangkan karena ini hal yang baru buat saya. Ternyata saat ditensi lagi setelah senam…hasilnya masih sama. Kaget juga.

Di rumah nenek, saya flashback kira-kira apa yang bikin tekanan darah naik. Langsung kepikiran tentang hormon kemarin-kemarin. Mungkin ini kenapa saya jadi sering marah-marah terus belakangan! Nenek juga mengiyakan. Satu hal yang pasti, saya harus lebih tenang dan lebih positif dengan semuanya. Ya, semua memang tidak akan selalu berjalan seperti yang saya harapkan/inginkan, tapi itu juga tidak menjadi akhir dunia kan?

Tapi belum sehari bertekad seperti itu, langsung diuji lagi sama adik saya yang tidak jadi jemput. Padahal sudah malam dan gerimis. Kesal ga sih, lagi hamil tua, tekanan darah lagi tinggi, mesti jalan nanjak naik angkot pulang ke rumah (karena rumah nenek saya di daerah yang letaknya agak bawah, jadi untuk mencapai angkot bisa naik becak/ojek/jalan kaki, sementara sudah menjelang pukul 9 malam jadi pilihan cuma ada yang terakhir). Mau nangis rasanya mikirin janin ini, takut kenapa-kenapa. Akhirnya jalan juga sih, bareng suami (alhamduliLlah), pelan-pelan. Sampai rumah, saya rasanya rontok sebadan-badan. Gimana sih rasanya rontok? Bukan pegal, karena kalau pegal bisa dipijat–ini rasa yang capek banget banget. Obatnya mungkin cuma tidur.

Besoknya (tadi siang), saya pergi lagi dengan suami karena ada acara keluarga suami. Saya bilang sama Kakak Ara, tetap kuat ya walaupun bunda pergi-pergi ke sana-sini; tetap kuat ya walaupun tekanan darah bunda tinggi. Rasanya pengen beli/pinjam alat ukur tensi darah biar tenang.

Besok pun mau pergi lagi, konsul ke dokter. Ini sudah telat 1 minggu konsulnya, rasanya deg-degan. Kalau sudah telat konsul tuh suka ada aja masalah (seperti diare waktu itu). Padahal banyak peer: tahu berat badan janin, tahu kepala janin sudah turun panggul/belum, mau hitung panggul. Belum lagi pengen tahu tekanan darah berapa. Sangat tidak bisa tenang. 😦

Oh ya, suami bilang mungkin tekanan darah tinggi karena saya tiap hari tidur di atas pukul 12 malam. Mungkin. Tapi mau bagaimana lagi dong? Belum bisa tidur. Dan lagi bukannya pagi harinya saya tidur juga–bahkan lebih lama dari malam hari? Tapi memang saat mau senam hamil itu saya belum tidur pagi hari sih. Nenek bahkan menambahkan, mungkin karena tidak ada suami tadi malam jadi saya tidak bisa tidur nyenyak. Iya juga sih, malam itu memang agak galau dan gimana gitu rasanya. Alhasil suami pun dilarang pergi-pergi dulu (selain ke kantor) sebelum saya melahirkan. Senang. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s