Latte Theory dan Keuangan #1

Sebenarnya saya ga kredibel banget bahas masalah keuangan. Saya boros, suka belanja, kadang bahkan seenaknya aja ngabisin uang tanpa mikir selanjutnya gimana. Saya bahkan cenderung baru sadar untuk hemat kalau saldo rekening uda minim seminim-minimnya.

Tapi sekarang rasanya beda. Belakangan ini saya ga suka belanja lagi karenaa–apa lagi yang mau dibeli ya? Konsep belanja saya tuh gini, beli barang yang emang butuh (atau dipaksa untuk butuh, haha) dengan kualitas dan harga mahal semahal saya bisa beli. Karena buat saya, barang yang kualitas bagus cenderung bersifat long lasting. Dan barang yang long-lasting itu kan bisa bikin hemat banget, karena ga usa beli berkali-kali. Bisa juga sih barang yang kualitasnya bagus tapi harganya minim; itu sih sempurna banget, walau jarang ya.

Makanya pengetahuan tentang barang (atau brand) yang berkualitas dan ga berkualitas itu penting banget. Banget. Tapi mahal yang kebangetan juga belum tentu bagus lho! Saya pernah nemu toko yang prestige bnget deh, tapi pas lihat barang-barangnya hampir persis sama kayak di factory outlet. Halo? Shop smart ya, bok.

Jadi gitu, saya bingung mau beli apa lagi karena saat window-shopping saya cenderung mikir yang saya punya masih bagus; dan alasan ‘masih bagus’ itu kuat lho di pikiran kita. Itu bisa bikin hemat banget. 🙂

Saya jadi ingat seorang perencana keuangan, Ligwina Hananto, pernah ngomong di tweet-nya tentang sebuah konsep Latte theory. Teori itu tentang kebiasaan orang Amerika yang sering banget ngabisin uangnya untuk mampir di coffee shop (sebuah gaya hidup baru), sementara uang buat beli kopi tadi  kalau dikumpulkan bisa buat investasi di bidang lain seperti cicilan rumah. Dan saya ngerasa jleb banget pas baca.

Saya akui ya, saya juga tertular mampir di coffee shop; entah itu sekadar hang-out atau hanya show-off (yaa, you know what I mean). Awalnya oke, harganya bisa terjangkau walau ga jelas pulangnya naik apa, hahaha. Tapi lama-lama, berasa juga ya bok harganya. Misal, harga kopi + cake tiap mampir itu sekitar 50.000 sampai 70.000. Itu kalau dilakukan konsisten 2 kali seminggu aja, sebenernya dengan 100.000 sampai 140.000 itu lumayan banget kan? Gimana kalau sebulan?

Terus yang kita beli apa sih di coffee shop? Makanan, minuman kan? Hilang tertelan kan di perut? Hadeuh, masih antara kesel dan ngerasa bego sendiri pas sadar.

Tapi sebenernya teori itu ga cuma buat kopi aja. Hal-hal remeh yang emang sebenernya kita ga perlu lakukan atau beli, kalau dilakukan atau dibeli secara konsisten berarti sama juga kayak konsep kopi itu. Misalnya ya kayak belanja itu. Ada temen saya, yang seneng banget belanja aksesoris, kayak kalung, belt, dan sebagainya. Suatu hari saya pernah temenin dia belanja, dan dia beli belt yang kayaknya saya pernah liat di rumahnya. Terus saya tanya, “Loh ini bukannya loe punya?” Dan dia jawab, “Iya, punya. Tapi warnanya beda.” Saya ternganga diam, terus, “Ngapain loe beli lagi?” Dia hanya jawab, “Buat punya2an aja.”

Sampai sekarang saya masih ingat jawaban absurd itu: buat punya-punyaan. Bok, menurut loh, beli barang yang buat punya-punyaan itu ga pake duit? Maaf ya, saya bukannya mata duitan; saya berpikir logika aja. Logikanya kan, kalau emang uda punya, terus ngapain beli lagi? Barang yang buat punya-punyaan itu salah satu contoh barang ga penting tapi konsisten dibeli. Ya kan?

Tapi saya ngaku sih, saya dulu juga suka beli barang buat punya-punyaan. Kalau saya, sepatu. Dulu saya suka banget beli sepatu, berbagai warna dan model. Dan alasannya kalau dtanya, ya emang buat punya-punyaan. Alibinya tiap mau beli itu, kalau enggak ‘belum punya model yang ini’, biasanya ‘sepatunya nyaman banget’. Tapi sekarang, mungkin karena intensitas belanja ga sesering dulu (alibi), saya cenderung fokus ke sepatu yang nyaman; syukur-syukur modelnya oke. Dan balik ke konsep belanja saya tadi, saya beli langsung yang mahal sekalian daripada cepat rusak akhirnya beli lagi dan lagi.

Teori ini berguna banget buat saya; sekarang saya jauuuuuh lebih hemat daripada beberapa bulan yang lalu. Ya mungkin itu juga karena belum kepikiran apa yang mau dibeli (hahaha tolong jangan). Tapi emang, tiap mau belanja atau sekadar ngeluarin duit deh, yang dipikiran saya adalah masa depan saya dan keluarga dan anak-anak saya. Panjang ya.

Tapi iya sih, mungkin sekarang saya masih bisa enak-enakan karena masih sendiri. Tapi gimana dengan satu tahun dari sekarang? Apa yang bisa diberikan buat anak? Walau belum ada bakal calonnya ya, atau proses buatnya juga belum (ups); tapi itu nempel terus bok dalam pikiran saya. Dia (atau mereka) adalah tujuan saya untuk hemat dari sekarang, sebelum terlambat.

Beberapa waktu lalu, saya pernah ngobrol dengan mama tentang sekolah anak. Dan saya pun menyebut salah satu sekolah anak yang sepertinya bagus banget dan pastinya mahal. Saya tahu itu mahal, dan mama juga langsung bilang itu mahal. Tapi yaa ga tau yaa, it just popped up in my mind. Kalau saya ga hemat, mana mungkin saya bisa masukin anak ke sekolah itu? *walau bukan mimpi banget ya, hanya sekadar acuan saja*

Karena alasan itu juga saya mengadaptasi teori ini. Keuangan yang dulu saya anggap remeh, sekarang benar-benar saya kendalikan. Demi masa depan. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s