Jukstaposisi

Di sebuah pelatihan penulisan waktu saya masi mudaan, salah seorang pembicaranya bilang tentang sebuah kata ‘jukstaposisi’; yang di situ dimaksudkan sebagai kata yang emang ga banyak orang tahu artinya dan sebaiknya dihindari penulisannya di media cetak (tergantung target-pasar-nya, ya). Karena penasaran, akhirnya saya cari tahu artinya. Tapi emang itu kata unik banget jadi saya pun mati-matian ngertiinnya: dari ngerti, trus lupa, cari tahu lagi, ngerti lagi, trus lupa lagi, dan seterusnya. Sampai saya ketemu lagu ini:

Ini lagu deja vu banget ga sih? Kayaknya dulu pernah denger, kan? Ini lagu saya dapat dari penyiar radio, yang ngakunya ga bisa mengartikan lirik lagunya tapi lagunya asik banget. Singkatnya saya penasaran, ubek-ubek liriknya, buka-buka kamus, pikir-pikir logika; hingga akhirnya terangkum sebuah penjelasan singkat tentang arti kata ini (menurut saya, ya):

Cover both sides.

Bok! Cuma gitu doang maksudnya selama ini yang bikin geli-geli penasaran itu. Jadi konsepnya tuh sama banget ama makna jurnalis yang sebenernya: selalu memandang semua hal dari dua sisi yang berbeda.

Lagu ini apalagi, unik banget lho. Si I-nya mencoba mengajarkan jukstaposisi kepada si you. Ini terutama kelihatan banget di reff-nya, ya:

You've got to tolerate all those people that you hate
I'm not in love with you, but I won't hold that against you

Maksudnya, coba deh kasi toleransi ke orang-orang yang bahkan kamu benci. Saya ga cinta sama kamu, tapi saya ga bakal benci ke kamu; biasa aja. Terus juga tentang berbagai macam hal lain, yang banyak dari kita tuh benci. Misal mahalnya properti real estate, yang diplesetin jadi unreal estate; perang di mana2 (biff, bang, pow); atau neverending konflik.

Mungkin banyak hal yang bisa bikin kita kesel atau benci; tapi klo di-jukstaposisi-kan, rasanya gimana jadi orang atau layanan atau barang yang kita benci? Selalu ada cerita di balik layar kan, yang ga semuanya kita tahu. Asal judge aja itu menurut saya sikap bodoh di zaman sekarang. Orang-orang di atas itu ga pintar, tapi mereka punya kekuasaan jadi bisa di atas; kalau kita ikutan ga pintar, uda mah kita di bawah, trus bodoh pula, mau jadi gimana coba?

Menurut saya sih, jukstaposisi itu sikap pintar yang susah banget dilakukan di zaman sekarang. Dare to try?

Advertisements

13 thoughts on “Jukstaposisi

  1. Pingback: Vidya Rachmadhika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s