Individu dan Masyarakat

Terasa sekali gimana rasanya menghadapi masyarakat ketika kita sudah lulus dan berkecimpung dalam kegiatan masyarakat. Entah bekerja atau semacamnya. Dalam posisi tersebut, susah sekali berpikir egois dan melakukan apa yang kita sukai saja, seperti masa kuliah dulu. Sekarang bukan hanya kita seorang saja, tapi sudah menyangkut hajat hidup orang banyak. Ya, tidak banyak-banyak juga sih. Tapi cukup untuk menjadi semacam ‘hakim’ bagi penentu kepribadian dan masa depan.

Saya cenderung susah berkomunikasi secara lisan. Lebih baik saya menulis email panjang daripada berkomunikasi lisan. Dan jujur saya cukup tersiksa dengan ilmu komunikasi yang saya dapat dari kuliah master ini yang mengharuskan saya banyak berkomunikasi secara lisan. Sampai saat ini juga belum dikatakan berhasil.

Baru-baru ini saya bertemu dengan klien yang semuanya laki-laki. Tim saya terdiri dari saya, teman laki-laki dan teman perempuan. Lalu di tengah pertemuan saya langsung bisa menyimpulkan bahwa klien kami cukup fokus dengan kedua teman saya (yang teman laki-laki karena memang kenalan mereka, teman perempuan saya krena dia perempuan menarik). Bukannya cemburu dan bukannya main gender, tetapi saya cukup tersiksa dengan perlakuan mereka. Oke, saya akui saya lagi kucel dan capek banget dan tidak menarik dibandingkan teman perempuan saya. Tapi apakah itu sebuah alasan mereka mengabaikan saya?

Saya sudah berusaha untuk menarik perhatian mereka dengan ide dan pertanyaan-pertanyaan kritis, tidak berhasil. Saya juga berusaha melihat mata mereka saat berbicara, juga tidak berhasil; mereka tetap fokus pada teman perempuan saya. Rasanya saya ingin pulang saja, tapi demi tugas dan kebersamaan saya tetap di situ sampai pertemuan selesai.

See. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam bermasyarakat. Walau saya kesal, saya tetap berada di sana karena ini tanggung jawab saya. Dan perlakuan klien kepada saya membuat saya evaluasi diri: apa yang salah dari saya? Tidak mungkin mereka berlaku begitu tanpa ada apa-apa. Mungkin cara saya menyampaikan ide dan pertanyaan tidak baik, mungkin perilaku saya saat bertemu tidak menyenangkan, dan mungkin mungkin lainnya.

Benar kata dosen saya: yang akan menilai kita itu bukan dosen penguji skripsi atau thesis di kampus, tapi masyarakat. Saya anggap klien itu masyarakat yang menilai saya. Jangan harap kembali ke zaman kuliah di mana kita masih bisa seenaknya bersikap. Memang baik tidak terlalu memikirkan pendapat orang lain tentang kita. Tetapi sepertinya tanpa mengindahkan pandangan masyarakat, kita terlihat bersikap egois. Misalnya, jika saya abaikan mereka saat ini, bisa jadi di masa datang saya bertemu dengan situasi yang sama lagi. Sama saja kan? Saya tidak menganggap mereka sebagai ancaman atau ditanggapi dengan penuh kebencian. Saya anggap mereka sebagai tantangan untuk menjadi lebih baik. Suatu saat ketika kami bertemu lagi, sikap mereka akan menjadi jauh lebih baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s