Parenthood #1

Saya belum menjadi orang tua, tetapi terkadang saya memposisikan diri saya menjadi para orang tua zaman sekarang. Sedikit naif, ya? Saya hanya mencoba belajar mempersiapkan diri, dan salah satu cara saya belajar bersikap adalah dengan mengubah perspektif.

Ada sebuah tulisan saya baca di sebuah situs Islam, yang biasanya saya kagumi dengan gaya tulisan yang modern, lugas, dan inspiratif. Tetapi kali ini saya membaca sebuah tulisan yang subjektif dan sedikit menohok saya. Hal yang disinggung adalah popular culture.  Penulisnya menyinggung seorang penyanyi wanita barat, yang saya kenal. Inti tulisannya adalah untuk apa mengidolakan penyanyi barat dan mengabaikan khalifah-khalifah muslim.

Ini seperti yang kadang saya sayangkan dari beberapa muslim yang saya temui, terkadang mereka menutup diri dari apa yang diharamkan. Sikap seperti itu yang membuat muslim semakin dinilai eksklusif. Padahal, saat mereka membuka pikiran dengan ideologi barat dengan tetap memiliki ilmu agama setinggi itu, mereka bisa memperluas target dakwah; terutama anak-anak ABG sebagai fanatik penyanyi-penyanyi barat itu.

Dan itu maksud saya tentang orang tua. Dengan berada di zaman seperti ini, saya menyadari bahwa sangat berat sekali menjadi orang tua dari anak-anak yang memiliki banyak pengaruh eksternal seperti itu. Benar, pembelajaran utama dari dalam keluarga. Benar, semuanya kembali dari ibu dan bapak. Dan benar semua teori-teori pengasuhan anak secara Islami yang sudah saya hapalkan itu. Tetapi bagaimana dengan pengaruh lingkungan yang tidak bisa diprediksi ini?

Saya pikir di sini bagaimana calon orang tua bisa belajar menghadapi tantangan dunia di depan, yang akan dihadapi bersama dengan anak-anaknya. Coba buka pikiran dengan menerima berbagai ilmu budaya, termasuk budaya pop. Saya rasa, sebagai orang dewasa, kita sama-sama sudah bisa memposisikan diri dalam masyarakat dan bisa membedakan yang benar dan salah. Ilmu tentang budaya pop hanya dijadikan sebagai senjata simpanan counter attack menghadapi pengaruh-pengaruh buruk yang akan menimpa anak-anak; kita tahu mana budaya yang baik dan mana yang buruk sehingga bisa membaginya pada mereka.

Ada satu makna yang saya ambil dari pembelajaran pesantren. Bukan maksud meragukan, tetapi beberapa kerabat saya yang merupakan lulusan pesantren saya nilai tidak bagus. Walaupun hal itu tergantung individu, tetapi sikap mereka setelah keluar dari pesantren cukup sama; bahkan berasal dari pesantren yang berbeda.

Makna yang saya tangkap adalah mereka hasil dikekang selama dalam pesantren, sehingga ketika keluar mereka merasa bebas dengan berbagai arti. Sehingga yang saya tekankan dalam diri saya adalah dengan tidak mengekang, anak-anak akan bisa memilih mana yang baik dan buruk. Dan di sinilah orang tua membantu mereka.

Simpan yang baik, buang yang buruk. Tetapi sebelumnya akan ada tahap menyeleksi di mana kita menyaring semua informasi menggunakan ilmu. Sebelum diberikan karunia itu, mari menuntut ilmu setinggi langit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s