Penumpang Taksi Pintar

Taksi adalah kendaraan umum alternatif yang biasa digunakan oleh masyarakat ibukota, termasuk saya, yang walaupun pendatang tetapi juga termasuk yang sering beredar di ibukota. Tetapi, mungkin karena sedikit eksklusif, taksi kurang diminati oleh masyarakat ibukota yang tidak memiliki kendaraan bermotor maupun tidak bermotor, seperti saya. Eksklusifnya, menurut saya, adalah karena permainan argo meter yang cukup menguras kantong. Bahkan kalau teorinya argo meter main tergantung jaraknya, menurut saya dia bermain tergantung waktu. Semakin lama waktu yang dihabiskan di perjalanan dengan taksi, semakin tinggi pula angka yang tertera di mesin argo.

Belakangan taksi adalah pilihan saya, mau tidak mau. Bukan karena tidak mau kalah dengan teman-teman yang bermobil, misalnya, setidaknya kalau jawab BBM sedang di mana, bisa jawab sedang di mobil ber-AC walaupun bukan punya saya dan bayar. Bukan, bukan itu. Mungkin salah satu alasannya karena keamanan. Tetapi satu hal yang mendasar adalah saya cenderung manja, lemah, dan malas menghadapi semrawutnya lalu lintas Jakarta. Taksi bukan solusi, pastinya. Tapi ada harga lain yang bisa tergantikan di taksi: menghilangkan penat selepas bekerja seharian karena bisa menyempatkan tidur sejenak dibandingkan dalam busway yang sesak. Dan lagi, saya bisa buktikan bahwa ongkos taksi dalam beberapa rute bisa sama jika menggunakan ojek.

5 Taksi Terbaik Ibukota, Bagi Saya

Pilihan di tangan Anda. Saya tidak menyarankan Anda untuk memilih taksi. Tetapi, jika suatu saat taksi harus menjadi pilihan Anda, berikut rekomendasi saya tentang taksi-taksi terbaik ibukota.

  1. Golden Taksi, warna emas. Saya menulis taksi ini nomer satu karena keamanannya. Mobil taksi ini dilapisi kaca film yang memantul di luar, sehingga orang luar sulit melihat ke dalam. Selain itu, mobil Chevrolet yang dipakai sangat memikat saya karena unik. Dari luar terlihat kecil, tetapi di dalam terasa sangat luas. Dan keunggulan utamanya adalah: tarif lama. Kekurangannya adalah armada taksi ini sangat sangat jarang beredar di ibukota; cukup mengecewakan.
  2. Gamya, warna hijau toska. Taksi ini cukup setara dengan Golden Taksi; tarif lama, mobil taksi Nissan juga terasa nyaman dan luas di dalam dan terlihat kecil dari luar. Tetapi taksi ini tidak dilapisi kaca film memantul, bahkan sepertinya tidak dilapisi kaca film yang tebal sehingga sangat mudah melihat ke dalam mobil. Keunggulannya, cukup sering beredar di ibukota.
  3. Ekspress, warna putih. Sepertinya taksi ini primadona ibukota dalam level taksi. Warna putih yang memikat dari jauh, jenis mobil yang besar, seringnya beredar di ibukota, dan juga tarif lama. Yang menarik, jok penumpang juga dilapisi kain putih; seakan ingin memberi pesan bahwa taksi ini menjaga kebersihan dilihat dari putihnya kain yang melapisi. Kelemahannya dibanding dua taksi sebelumnya hanya jenis mobil yang digunakan: cukup membosankan, bagi saya.
  4. Blue Bird, warna biru. Sebelum saya mengenal dunia per-taksi-an, saya hanya memilih taksi ini. Teringat dulu sepulang dari sebuah acara di JIE Kemayoran, saya dan banyak orang lainnya berebut taksi. Anehnya, setiap taksi lain lewat kami sama-sama tidak menghentikannya. Dari situ saya sadar bahwa kami mencari taksi yang sama: Blue Bird; dan persaingan pun dimulai. Tetapi sekarang, bagi saya jika memang ada yang lebih baik dan lebih murah, kenapa tidak pilih itu? Tarif baru dalam Blue Bird cukup menjenuhkan saya, kadang-kadang, terutama kalau kantong lagi pas-pasan. Keunggulan Blue Bird yang tadinya diagungkan sudah bisa dipenuhi oleh taksi lain. Dan bagi saya, satu-satunya keunggulan Blue Bird yang masih tersisa adalah: brand.
  5. Taksi Cab, warna kuning. Taksi ini unik, disertai dengan tv di dalamnya. Ada teman saya yang mungkin memilih taksi ini di atas taksi yang lain karena ada tv-nya. Tapi jangan terlalu senang dengan tv dalam taksi ini; tidak terlalu memuaskan. Terkadang tidak menyala, suara terlalu besar, remote tidak berfungsi; malah seringkali mengganggu. Satu lagi kelemahan taksi ini adalah kaca film yang tidak terlalu tebal, bahkan tipis mungkin seperti Gamya. Padahal mengapa mereka tidak memasang kaca film tebal ya? Ada atau tidaknya penumpang kan bisa dilihat dari lampu atas mobil, bukan dari jendela. Tetapi taksi ini, bagi saya memiliki bentuk dan fitur yang unik. Walau seringkali mengganggu, tv dalam taksi bisa menjadi hiburan sementara, terutama jika beruntung.

Dari kelima taksi tersebut, yang paling menjadi perhatian saya adalah air conditioner mobil. Sebuah taksi termasuk bagus jika udara dalam mobil tidak sumpek. Berdasarkan pengalaman, taksi-taksi yang namanya tidak jelas memiliki air conditioner yang buruk.

Be Smart

Berdasarkan pengalaman juga, ada beberapa taksi yang memang sengaja meniru merk taksi tertentu agar terlihat seperti merk tersebut dari jauh. Misalnya, beberapa taksi berwarna putih seperti Ekspress (entah juga ya siapa yang duluan berwarna putih) atau berwarna biru seperti Blue Bird. Dari taksi-taksi tiruan ini, yang paling wajib hati-hati adalah taksi tiruan berwarna biru. Wajib hati-hati. Perhatikan apakah ada nama BLUE BIRD GROUP di sisi depan atas mobil. Jika tidak ada, mungkin Anda bisa terjebak dalam taksi yang buruk air conditioner-nya; atau mungkin lebih buruk. Kalau taksi putih lainnya menurut saya cukup baik, misalnya Eksekutif atau Primajasa.

Selain itu, bersikaplah tegas dengan supir taksi merk apapun. Jika dikatakan merk ini supirnya lebih baik dan sebagainya, saya sering menemukan supir merk tersebut tidak ramah kok. Baik dan ramah itu bisa tergantung individu, bukan tergantung merk. Jika sudah mengetahui arah-arah jalan menuju tujuan, pastikan bahwa arah yang Anda ketahui itu yang akan dilalui taksi. Saya pernah tergoda ajakan supir taksi Ekspress untuk lewat jalan Penjernihan sore hari; padahal saya yang biasanya lewat Bendungan Hilir tahu bahwa jalan itu macet karena lampu merah. Benar saja ternyata macet parah. Tapi sebenarnya kemacetan di Jakarta memang tidak bisa diprediksi oleh siapapun, ya.

Namun, jika ternyata Anda tidak tahu arah tujuannya, saya sangat menyarankan untuk taksi Blue Bird. Karena keunggulan mereka itu, brand. Sebuah irasionalitas konsumen, seperti saya, memiliki sebuah kepercayaan dan kenyamanan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat sudah kepepet dan tidak tahu jalan. Beberapa kali saya berterima kasih pada supir Blue Bird yang dengan baik hati mencarikan alamat yang akan saya tuju; maklum lah saat itu masih berstatus pendatang dari luar ibukota.

Di atas segalanya, jangan lupa berdoa sebelum naik taksi apapun. Sekali lagi, bukan merk taksi yang perjalanan Anda, tetapi individu supirnya. Berdoalah agar Anda mendapat supir taksi yang baik, yang membantu perjalanan Anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s