Takut Kepada Allah

Sering sekali mendapat wejangan atau tausyiah untuk memiliki rasa takut hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tetapi sebenarnya, makna kata ‘takut’ bersifat ambigu.

Pernah saya bertemu seorang teman yang me-list hal-hal yang membuatnya takut. Sebut saja dalam list itu terdapat hewan-hewan menjijikkan dan menakutkan, hantu, gagal ujian, dan sebagainya. Tetapi dalam daftar juga tertera: Allah.

Secara kata, mungkin benar untuk ‘takut’ kepada Allah dan meletakkannya dalam daftar tersebut. Tetapi jika rasa takut kepada Allah itu dijadikan sebuah fobia, yang disamakan dengan takut kepada cicak, kucing, ular, dan sebagainya; pantaskah?

Makna kata ‘takut’ kepada Allah sepertinya bukan berarti perasaan takut yang membuat kita menghindarinya. Bukan seperti rasa takut kita kepada hal-hal yang menakutkan atau menjijikkan, yang lebih baik kita hindari. Jelas, Allah, Sang Pencipta Alam, bukan untuk dihindari, bahkan dibenci.

Kebanyakan makna kata ‘takut’ memang berarti menghindari, beberapa bahkan akan berakhir dibenci. Misalnya, takut gelap, takut ketinggian, takut hantu, takut dosen ‘killer’. Atau untuk contoh yang sepele, yaitu misalnya ketika dapat nilai jelek, kita akan takut menghadap orang tua; akhirnya kita pun berusaha menghindar dari orang tua.

Takut kepada Allah lebih spesial. Rasa takut-nya berbeda, bukan berasal dari otak seperti jenis-jenis fobia, tetapi berasal dari hati. Mungkin bisa dianalogikan dengan rasa takut kepada ibu. Ketika kita merasa takut kepada ibu, bukan berarti kita ingin menghindarinya; tetapi lebih ke perasaan ingin membahagiakan dan takut mengecewakan beliau. Karena beliau sangat spesial dalam hati kita.

Sama seperti takut kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala sangat spesial di dalam hati kita, sehingga rasa takut itu merupakan refleksi dari rasa cinta kita di dalam hati. Takut mengecewakan, takut membuat marah/murka, takut kekurangan iman. Itu semua ada dari hati.

Biarkan rasa takut kehilangan cinta ALlah itu selalu bersemayam dalam hati kita; yang membuat kita tidak ingin menghindari-Nya, melainkan ingin membahagiakan-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s