Porn

Cukup jenuh dengan kasus pornografi belakangan ini. Hanya saja saya tertarik menulis tentang ini saat mendengar wawancara dengan artis-artis itu di salah satu stasiun televisi. Salah satunya saya memarafrasekan (imbuhan yang aneh): “Media saja terlalu besar-besaran dalam memberitakannya.”

Hmm. Satu hal saja. Mungkin jika media membesar-besarkan sesuatu, itu memang sesuatu yang patut untuk ‘dibesarkan’ atau diberikan perhatian. Karenanya media benar-benar mumpuni untuk menyetir suara dan perhatian masyarakat.

Begitu juga untuk hal ini. Please, kita orang timur punya budaya dan norma yang berlaku di masyarakat. Mungkin saya terlalu kaku, tetapi begitulah yang secara kasat mata terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia. Banyak anak muda yang mencoba untuk membangkang atau mengabaikan budaya dan norma tersebut, tapi akhirnya malah hanya menjadi berita tidak sedap. Seperti ini.

Terlepas dari siapapun yang berada dalam video itu, atau siapapun yang menyebarkan; ini seakan mencoreng nama Indonesia. Saya pernah terkejut saat menyaksikan berita ini dalam E! News Asia, yang mungkin ditonton berjuta-juta masyarakat seluruh Asia. Dan rasanya beda saat menyaksikan berita ini disajikan dalam acara entertainment internasional daripada dalam acara entertainment lokal.

Setiap kata-kata dalam lead, kata-kata dalam berita; semua seakan mengejutkan. Bahkan saat disebut ‘Sex video in Indonesia’, rasa malu ini sangat membuncah. Dan dari semua itu, orang yang bersangkutan hanya berdalih bahwa media yang terlalu membesar-besarkan? Tidak ada permintaan maaf tentang pencorengan nama Indonesia?

Saya tidak ambil pusing benar-tidaknya isi tayangan itu. Yang jelas video itu sekarang sudah beredar, merusak moral bangsa, menandakan rusaknya moral bangsa, dan juga menambah nilai buruk Indonesia yang katanya negera religius.

Tetapi melihat reaksi orang-orang yang bersangkutan tersebut, baguslah mereka masih punya malu. Memang saat ratusan ribu orang melihat Anda telanjang, apa lagi yang bisa Anda rasakan?

Ketika birahi yang juara, etika menguap entah ke mana.
(Kenakalan Remaja di Era Informatika – Efek Rumah Kaca)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s