Mungkin

Ada kalanya, ketika kita berhenti sejenak dan melihat sekeliling. Ada kalanya kita merindukan saat-saat yang pernah kita hadapi, saat bahagia, saat kita hampir tidak merasa dan tidak mengenal apa yang dinamakan dengan keraguan, kegetiran, kesedihan. Atau ada kalanya, kita merindukan saat yang bahkan tidak pernah kita hadapi.

Tapi kita inginkan dengan sangat.

Seperti saya, misalnya. Saat-saat yang saya inginkan adalah saat saya bisa membantu anak-anak jalanan dan yatim dengan hasil keringat saya sendiri. Klise ya? Tapi bagi saya tidak. Itu adalah sebuah cita-cita saya dari sejak SMA, sejak saya masih belum berani terjun langsung ke masyarakat, hanya bisa menangis saja memikirkan anak-anak itu.

Sahabat, mereka adalah makhluk yang tidak berdosa, yang hanya karena ketidakberuntungan saja mereka berada di jalan, dengan nasib tidak jelas. Pernahkah kita, sedetik saja berhenti sejenak dan melihat sekeliling? Melihat mereka, yang mungkin jumlahnya lebih banyak dan kita tidak pernah tahu. Juga membayangkan, mungkin mereka yang lebih cocok menjadi makhluk ALlah yang penuh dzikir dan ikhtiar dibandingkan dengan kita. Mungkin mereka yang lebih cocok menjadi pemimpin negeri ini. Mungkin mereka masa depan negeri ini.

Sehingga, impian saya yang kedua adalah menjadi seorang ibu. Itu akan terasa sangat luar biasa, tetapi saya tahu tidak bisa semudah itu.

Mungkin, karena gerah melihat keadaan manusia dan pemimpin yang entah abu-abu dan bercampur baur belakangan ini, lalu saya berpikir, mungkin jika bukan pada generasi saya, insyaALlah perubahan akan terjadi di masa anak-anak saya. Walau memang generasi saya pun belum berakhir, hanya sebuah pemikiran. Atau mungkin keadaan akan lebih siap menerima perubahan di masa depan.

Masih menyambung apa yang saya simpulkan saat skripsi: bukan pekerjaan, bukan meniti karir, bukan pula memikirkan apa yang akan dipakai atau siapa pakai apa yang harusnya membebani pikiran seorang wanita. Tetapi, memikirkan dia akan menjadi seorang ibu yang seperti apa.

Mungkin berbicara saja mudah, mungkin berteori saja mudah. Tapi saya tahu tidak mudah, tetapi karena itu juga saya tertantang. Ingat saja hukum sebab-akibat, bagaimana kita bisa mengharapkan anak-anak yang akan membawa negeri ini menjadi lebih baik, bagaimana kita bisa menginginkan anak-anak yang membawa perubahan dalam negeri ini di masa depan; jika orang tuanya seperti kita?

Teorinya mudah saja, bagaimana bisa mengharapkan orang lain menghargai kita, kalau kita saja tidak bisa menghargai orang. Juga, bagaimana bisa mengharapkan atensi orang lain, jika kita selalu mengabaikan orang lain. Semua ada akibatnya.

Berhenti mengeluh. Mungkin mengeluh bisa dilayangkan langsung pada Dia Yang Maha Bijaksana. Mungkin saatnya kita mencoba solusi alternatif, daripada terlalu sering memikirkan masalah. Atau terlalu sering berkomentar tentang masalah.

Mungkin kita terlalu membutuhkan sebuah bukti. Kalau begitu, mulai saja dari kita sendiri.

Saya hanya ingin menjadi seorang ibu. Pekerjaan yang lain hanya tambahan, tidak melekat dalam hati. Pekerjaan yang satu ini, wah, sebuah berkah yang sangat luar biasa; sekaligus berat luar biasa. Izinkan, ya ALlah. Izinkan saya menjadi seorang ibu dari calon mujahid/mujahidah yang insyaALlah membawa perubahan di negeri ini.

Izinkan, ya ALlah. Bahkan mungkin jika memang itu adalah amal terakhir hamba.

Advertisements

2 thoughts on “Mungkin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s