Kisah Para Pengojek Payung

Hujan lebat sore itu. Kel dan teman-temannya bergegas memasuki pelataran sebuah pusat perbelanjaan. Mereka masing-masing berbekal satu senjata ampuh: payung. Beragam bentuknya. Punya Kel cukup lebar, temannya Meg lebih lebar dari punya Kel; ada juga payung punya Res, paling imut di antara teman-temannya.

Tapi anak-anak kecil ingusan yang belum mandi itu bersemangat. Hujan berarti ladang uang mereka. Payung mereka tenteng, atau beberapa sudah memakai payung.

Pusat perbelanjaan itu tengah ramai seperti biasa. Kel dan teman-temannya memasarkan jasa ojek payung mereka. Satu-dua-tiga teman-teman Kel berhasil dipanggil oleh pengunjung pusat perbelanjaan. Mereka beruntung, pikir Kel. Kel kembali memanggil-manggil para pengunjung.

Tapi tak berapa lama kemudian, hujan pun reda. Begitu juga dengan semangat Kel. Yaaaaahh, koor anak-anak kecil yang berkumpul itu. Kebanyakan dari mereka tidak bersuara, hanya memandang jalanan yang lama kelamaan tak dirintiki air hujan. Mereka tahu apa tentang menyuarakan pendapat mereka. Sudah dapat payung untuk hari itu saja sudah syukur.

Kel melangkah gontai, tapi masih berada di sekitar pelataran pusat perbelanjaan itu. Dia melirik ke dalam sekilas, orang-orang itu enak ya tak perlu menggigil kedinginan untuk mendapat uang. Entah kapan Kel bisa berada di dalam pusat perbelanjaan itu, berbusana rapih, wangi, bersih, dan berjalan santai tanpa perlu memikirkan hujan.

Kel meletakkan payungnya. Kebanyakan teman-temannya sudah melakukannya lebih dahulu. Meg berdiri tak jauh darinya. Dia berceletuk, “Kau berdoalah biar hujan!”

Meg mengedikkan bahu kecilnya. “Doa kita orang kecil, sedikit pula; mana mau Tuhan dengar. Doa mereka yang di dalam orang besar, banyak pula; Tuhan pasti dengar.” Lalu, Meg melangkah gontai meninggalkan pelataran pusat perbelanjaan itu sambil menyeret payung besarnya yang sudah dilipat.

Kel memandang punggung Meg yang makin lama makin menjauh. Kel memandang berkeliling sejenak, muka-muka yang ditemuinya hanya muka-muka bahagia. Mana mereka peduli muka masam Kel karena hujan berhenti turun.

Tak lama, Kel mengikuti Meg dan teman-temannya yang lain. Para pengojek payung itu sudah pergi, batin pak satpam sedikit tenang.

Advertisements

5 thoughts on “Kisah Para Pengojek Payung

  1. numpang baca, sekalian studi banding antara tulisan blog pemula sm blog anak sastra. Ternyata beda ya tulisanny dalam dan berarti… Harus banyak referensi πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s