Abu-abu

Belakangan ini, terlihat seru sekali mengikuti kasus yang menjerat mantan ketua KPK non aktif, Chandra Hamzah dan Bibit S. Riyanto (hore hapal). Awalnya saya tidak terlalu tertarik, tapi saat suatu malam tak sengaja nongkrong di depan tv dan ‘terpaksa’ menyaksikan siaran langsung Pak Chandra dan Bibit yang dibebaskan sementara lalu disambut di gedung KPK (thanks buat para wartawan yang sigap luar biasa).

Nah saat disambut di gedung KPK oleh mahasiswa dan petinggi KPK lainnya, rasanyaaa… menyentuh sekali. Entah mungkin karena saya masih mahasiswa (bohong) dan karenanya tersentuh saat ada salah satu mahasiswa yang berkata dgn jelas di layar televisi kepada Pak Chandra dan Bibit, “Tapi perjuangan Bapak blum selesai, Pak! Dan Bapak baru dibebaskan sementara, blum dibebaskan sepenuhnya!” dengan mata sedikit berkaca. Lalu diikuti dengan Pak Chandra, yang memang sedang berdiri di sebelah mahasiswa itu, merangkul anak itu.  Malam itu sepertinyaa, pintu kemanusiaan saya terketuk. Dan sejak itu saya menumpahkan perhatian pada kasus ini.

Tapi saya juga tidak lantas berapi-api membela Pak Chandra dan Pak Bibit. Dalam hati yang paling dalam, iya saya membela mereka. Tapi, saya menyadari, semakin lama kita hidup di sebuah dunia abu-abu di mana hal-hal yang benar dan yang bathil tidak bisa dibedakan. Hal-hal yang benar dan yang bathil tadinya entah berwarna hitam atau putih yang pekat terlihat; tapi sekarang semuanya abu-abu, samar, tak terlihat.

Saya benci abu-abu. Tidak tegas, tidak lugas. Jika benar katakan benar, jika salah katakan salah; tidak di tengah-tengah. Dan sayangnya itu warna hukum kita, kan?

Seorang rekan pernah mengingatkan tentang kutipan kata-kata Soe Hok Gie yang kami dengar di filmnya: ‘Politik taik kucing!’ Dan sekarang, saya jelas menyetujuinya. Apa yang memutarbalikkan fakta yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah? Politik. Apa yang menghalalkan segala cara jika ada uang? Politik. Apa yang mencoreng nama baik (jika punya) sebuah negara? Politik. Taik kucing, kan?

Permainan politik dalam kasus Pak Chandra dan Pak Bibit ini terlihat oleh umum. Katanya, kalau dari berita, bahkan pendukung mereka di facebook suda lebih dari 700rb orang. Semoga mereka mendukung dengan hati, tidak hanya ikut-ikutan saja. Dan seperti biasa, kenapa yang menjadi korban selalu rakyat? Padahal rakyat itu banyak kan? Lebih banyak mungkin dari aparat-aparat keparat antek-antek politik itu. Tapi mengapa pula masih sering kalah juga? Uangnya kurang banyak atau perhatian yang kurang banyak?

Saya pribadi, jujur, mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Kasus ini berat, ‘menyiksa’ mental saya yang sakit. Lihat saja, betapa ibu pertiwi tidak akan bangga dengan anak-anaknya yang saling menjatuhkan seperti itu. Setiap bukti rekaman yang diputar, dibantah; mengaku tidak tahu siapa suara yang bersama dia. Jelas-jelas menelepon kok tidak tahu siapa. Tokoh-tokoh baru yang terkait mulai bermunculan, lama-lama tak heran jika salah satunya Anda kenal: karena politik tak kenal jarak dan waktu. Seakan-akan, ingin tertawa sinis sambil menangis melihat tingkah laku mereka di televisi.

Saya tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa menuliskan ini. Dari sekian banyak kasus-kasus yang hinggap di pikiran saya, sepertinya semakin kuat saya ingin melanjutkan pendidikan mendalami ilmu politik (bismiLlahirrohmanirrohim); sehingga suatu saat nanti saya bisa memberikan tidak hanya dalam bentuk tulisan tapi juga bentuk kerja nyata.

Advertisements

2 thoughts on “Abu-abu

  1. belum tentu yg terlihat malaikat itu benar dan terlihat setan itu salah. Belum tentu mayoritas pemikiran org itu benar dan yg minoritas itu salah. Jangan saling menjatuhkan. Ini bukan masalah lembaganya tapi oknum2 bajingannya, dimanapun dia. Perkuat seluruh lembaga yg ada.
    Abu2 akan menjadi putih dan hitam yg jelas, bagi orang2 yg percaya bahwa Allah itu ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s