Manis

Diakui atau tidak, rasa rindu ini ada. Selayaknya denyut jantung yang berdetak setiap saat, atau senyum yang terlempar. Atau, hanya sebuah kenangan yang teringat. Atau setiap kata yang terucap. Atau, hanya kemungkinan saja, yang bahkan ternyata merupakan sebuah perumpaan yang tidak pernah terjadi. Jauh dari kenyataan.

Diakui atau tidak, saya munafik. Saya akui itu, akhirnya. Berjalan pun perlu berpikir. Apalagi berbicara. Tak pernah satu kata pun terucap tanpa berpikir sebelumnya. Pernah bertanya suatu saat, ‘Pikiran saya terbuat dari apa sih?’ Tak lelahkah dia untuk berpikir? Simpan barang satu detik saja untuk istirahat. Tapi tak pernah, Dia tak pernah mengizinkannya untuk beristirahat. Kalau begitu, bisakah saya beristirahat?

Diakui atau tidak, saya lelah. Lelah berpikir, pasti. Tapi, tak mau kalah dengan pikiran saya. Dia saja tak pernah lelah bekerja, bagaimana dengan saya? Katanya saya manusia, benarkah? Katanya manusia itu makhluk paling tinggi martabatnya di antara makhluk-makhluk ALlah yang lainnya. Katanya, manusia itu pemimpin, bahkan seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Lalu, bisalah saya menyerah untuk berpikir?

Diakui atau tidak, saya tahu pikiran saya bukan komputer. Dia tak pernah lelah, tidak pernah hang atau blue screen. Dia juga tidak pernah harus dipaksa untuk dimatikan (walau pernah saya berharap suatu saat). Dia juga tidak harus direstart. Pikiran saya luar biasa, subhanaLlah. Saat tengah berjalan pelan, dia pun berlari kencang! Saat tengah berlari kencang, dia pun lebih kencang lagi! Pentium, core, semua kalah dengannya. Belum ada manusia yang menyainginya.

Lalu, masihkah manusia dikatakan pemimpin dunia ini?

Diakui atau tidak, dia akan merona saat senang. Saat sedih? Tak ada yang tahu. Mungkin merona juga, atau malah terus berpikir, tak peduli apa yang tengah melandanya. Dia hanya akan tahu rasa senang, bahagia, gembira. Tak ada rasa sedih, duka, merana.

Diakui atau tidak, ini rasa apakah? Senang? Bahagia? Sedih? Duka? Atau, cinta? Ah, apalah arti rasa cinta? kata pikiran itu. Rasa cinta tak terdeteksi olehnya. Dia tak mengenal rasa itu. Apakah itu manis? Asam? Asin? Pahit? Lalu, kalau bukan cinta, apakah? Benci? Tak mungkin. Dia tidak sedih, dia tidak marah sehingga benci pun tidak.

Diakui atau tidak, saya rindu. Jelas.

Diakui atau tidak, saya cinta. Mungkinkah?

Who needs a dream when there is you?

Advertisements

3 thoughts on “Manis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s