Bangga, Indonesia

Membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer, sedikit memupuk semangat nasionalisme. Bukan yang radikal, tentu. Pastinya, semangat dan kebanggaan untuk bertanah air Indonesia. Juga semangat untuk memiliki Indonesia. Dan semangat untuk mencintai Indonesia.

Terlebih, saat meresapi kehidupan Minke. Pria itu, yang tadinya membenci tanah airnya karena orang-orangnya begitu terbelakang, akhirnya berusaha keras untuk turut serta membangun negerinya. Dia, yang tadinya menolak untuk berbicara bahasa melayu (belum diresmikan menjadi bahasa Indonesia), akhirnya dengan bangga menggunakan bahasa melayu.

Mungkin ada Minke-Minke yang lain di antara kita di zaman ini. Mungkin ada yang lebih senang menggunakan bahasa lain selain bahasa Indonesia. Tak terkecuali saya. Tapi (bukan maksud membela diri), niat saya mempelajari bahasa asing untuk mencintai bahasa ibu saya lebih besar lagi. Tahu teorinya, kan: kenali, ketahui sisi baik dan buruknya sebelum bisa memutuskan hendak mencintai atau membencinya.

Jadi, setelah genap 4 tahun belajar bahasa asing, saya semakin mencintai Bahasa Indonesia. Refleksinya begini, orang asing bisa bangga punya bahasa itu karena memiliki struktur dan kata yang lengkap, misalnya. Lalu, bahasa selengkap itu banyak yang memakai dan mengagumi, bagaimana dengan Bahasa Indonesia? Jelas, itu tugas warga negara Indonesia untuk bangga menggunakan bahasa mereka.

Hasilnya, setelah 4 tahun belajar bahasa asing, saya masih tetap nyaman dengan Bahasa Indonesia. Malah semakin mencinta. Tiap menulis, saya selalu menggunakan Bahasa Indonesia. Satu intinya, setelah mengetahui produk asing, keinginan berinovasi untuk tanah air biasanya lebih besar.

Itu teori saya. Mungkin tiap orang berbeda, dan mungkin pengalaman saya ini lebih minim daripada pengalaman pembaca sekalian.

Ada satu lagi, pengalaman saya yang ringan tapi membekas di hati sampai sekarang. Terjadi saat saya tengah melaksanakan umroh, tepatnya saat masih menetap beberapa hari di Nabawi. Kebetulan, saat berada di Mekkah, saya selalu menggunakan cadar. Berdasarkan saran tante, yang katanya, ‘Biar ga digodain orang-orang Arab, jadi belanja gampang.’ Haha. Yaa, begitulah keadaan saya di sana, sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Oke, intinya saya menggunakan cadar ke semua tempat, termasuk saat saya hendak memasuki Masjid Nabawi. Di pintu masuk masjid, ada beberapa wanita Arab bercadar yang memeriksa jamaah. Lalu, tibalah giliran saya yang diperiksa. Setelah selesai diperiksa, wanita itu berkata, ‘Okay.’ Lalu, tiba-tiba dia melihat mata saya (kalau istilah Inggrisnya ‘stare’). Dan dia pun langsung berkata, ‘Terima kasih.’

Dan saya pun tercengang. Dengan hanya melihat mata saya, dia bisa tahu kalau saya orang melayu. Dari mata saja. Wow, keren.

Sejak saat itu, saya mulai meresapi arti memiliki sebuah negara. Tak malu sebagai warga negara Indonesia di negeri orang. Juga, tak malu sebagai warga negara Indonesia di negara Indonesia sendiri. Makin bangga dengan Indonesia. Walau tak jarang tersakiti oleh perilaku warga negaranya, tapi ibu pertiwi toh tak bersalah. It’s human error. Manusia memang wadah kesalahan.

Advertisements

2 thoughts on “Bangga, Indonesia

  1. akbar pribadi says:

    “…Dengan hanya melihat mata saya, dia bisa tahu kalau saya orang melayu. Dari mata saja. Wow, keren…”

    kyana dia tahu dari bau nya dech.. hehe 😀

    kiriman sudah di terima bendahara dengan selamat,, syukron jazakallah…

    bagaimana kabar tux hari ini ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s