Ramadhan

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tengoklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat
(Untuk Kita Renungkan – Ebiet G. Ade)

Ingin ikut yang lain, mengapresiasi bulan suci ini dalam bentuk tulisan. Tahun lalu, saya masih membantu pembuatan artikel tentang Ramadhan, sehingga bisa menghayati arti bulan itu dengan sendirinya. Tetapi sekarang, tak ada apresiasi spesial dalam menyambut Ramadhan. Mungkin, jika memang dikatakan berarti lebih dewasa dan/atau mendewasakan diri, saya hanya memaknainya dalam hati saja.

Ingin sedikit egois. Bulan spesial ini, tak mau saya bagi dengan yang lain. Bulan spesial ini, hanya untuk saya saja.

Pada kenyataannya, memasuki bulan ini sedikit ironis. Misalnya, saya kehilangan seorang sahabat, tapi ternyata mendapatkan penggantinya lebih banyak lagi. Atau ketika saya kerap kali berpikir hidup membosankan, tidak ada pekerjaan; menjelang Ramadhan ternyata mendapat amanah yang luar biasa. Siapakah bisa berpaling dari-Nya?

Aku menunggu hujan turunlah
Aku mengharap badai datanglah
Gemuruhnya akan melumatkan semua
(Kupu-Kupu Kertas – Ebiet G. Ade)

Manusia sangat kompleks. Berpikir kadang salah, tapi tak berpikir juga salah. Bahagia, juga relatif. Kadang bahagia sekarang, itu pun tak ada yang bisa menjamin sampai kapan. Sedih, tak ada yang bisa menafsirkan. Kadang tersenyum dalam tangis, kadang menangis dalam senyuman.

Hati-hati. Manusia sangat berbahaya. Kompleksitas itu, terkadang menjebak, menjerat, melenakan, atau bahkan mencuri manusia lain. Atau mungkin hanya hatinya. Atau kepalanya. Atau tangannya. Kakinya. Wajahnya. Kukunya.

Setiap waktu engkau tersenyum
Sudut matamu memancarkan rasa
Keresahan yang terbenam
Kerinduan yang tertahan
Luka dalam yang tersembunyi
Jauh di lubuk hati
Kata-katamu riuh mengalir bagai gerimis
Seperti angin tak pernah diam
Selalu beranjak setiap saat
Menebarkan jala asmara
Menaburkan aroma luka
Benih kebencian kau tanam
Bakar ladang gersang
Entah sampai kapan
Berhenti menipu diri
(Kupu-Kupu Kertas – Ebiet G. Ade)

Ramadhan ini merupakan sebuah awal baru kehidupan. Skripsi selesai, memulai hidup baru. Memulai pemikiran baru juga, mungkin. Mencoba tidak menyia-nyiakan ilmu selama empat tahun yang saya dapat. Mencoba, dan mencoba semua hal yang belum pernah saya coba. Tapi, tidak termasuk terjun dari ketinggian, atau bertemu Darth Vader, atau menyalakan korek api. Ah, penakut.

Ramadhan ini, semua orang memiliki arti buat saya. Semua saya sayangi, ingin membagi Ramadhan bersama mereka. Beda sekali dengan persepsi egois saya pada awal tadi. Semua itu karena saya sadar tak bisa seperti sekarang tanpa mereka. Orang tua saya, adik saya, sepupu-sepupu saya, keluarga saya, juga rekan-rekan saya yang lain. Hidup saya penuh warna dengan mereka.

Ramadhan ini, saya ingin berarti. Walau bukan sebuah awal tahun, tapi saya rasakan sebagai awal semangat. Semangat baru, yang walau sedikit demi sedikit saya ambil, tetap terbentuk dan tegas.

-ashreesaatsahurbelumtidurjuga-
Thanks for Om Ebiet G. Ade buat inspirasinya

Adalah Dia di atas segalanya
(Untuk Kita Renungkan – Ebiet G. Ade)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s