Comfort Zones

Ada beberapa tempat yang seringkali membuat saya nyaman di dunia ini. Beruntungnya, tempat-tempat itu mudah dijangkau dan tidak terlalu jauh dari saya. Beberapa ada di bawah ini:

Comfort Zone #1

kamar

Kamar saya, seperti kebanyakan orang. Bagi saya, berada dalam kamarĀ  seperti berada dalam tempat saya sebenarnya. Menulis, makan, minum, memutar otak, dan semua hal lainnya saya bisa lakukan di dalam kamar. Termasuk juga menyetel lagu dan menyanyi keras-keras, tentu dengan pintu dalam keadaan tertutup. Dalam kamar juga tempat saya menempel berbagai macam poster, tulisan, iklan, atau apapun yang hendak saya tempel. Ada berbagai macam poster-poster acara rohis kampus yang saya tempel, juga beberapa iklan yang kebanyakan dari zaman saya masih menggilai sepakbola.

Benda yang paling banyak berada di sini adalah buku. Kedua terbanyak adalah VCD asli; itu bekas-bekas ‘perampasan’ uang jajan saya saat SMP-SMA demi film-film yang saya sukai. Itu semua asli, karena baru saat saya mulai kuliah saya membeli DVD bajakan. Sebelumnya, seperti kebanyakan penulis yang saya kenal saat masih polos, saya anti bajakan. Benda terbanyak ketiga adalah sepatu. Entah mengapa, saking (sedikit) bangga dengan sepatu pilihan saya sendiri, saya tidak meletakkannya bersama dengan sepatu-sepatu lain. Karena seringkali saya menemukan sepatu saya tengah berada di bawah sepatu kets Ardi yang besar luar biasa. Atau mungkin lebih buruk. Karenanya, sepatu-sepatu bersama kotaknya masih tersimpan rapih di bawah meja.

Mengapa kamar menjadi sangat nyaman, karena kecil, singkat, dan padat. Kamar saya termasuk kecil, menyempil dekat ruang televisi, dapur, dan kamar mandi. Saking kecilnya, lemari saya pun menjadi walking closet bersama dengan lemari anggota keluarga lainnya. Di sisi lain, ada jendela besar yang memperlihatkan keadaan halaman, walau sedikit terhalang dengan pohon. Sehingga, jika berada di dalam kamar, memperhatikan halaman bukan prioritas utama.

Comfort Zone #2

MTMT Al-Khawarizmi, rohis kampus BINUS saya. Saya masuk sejak tahun kedua kuliah, yang tidak saya sesali karena memang merupakan waktu yang tepat. Di sana, bukan hanya saya bertemu dengan orang-orang yang beragama Islam, tapi juga bertemu dengan orang-orang yang tidak akan saya temukan d tempat lainnya. Di sana juga saya bukan saja belajar tentang agama, Islam, dakwah, dan sejenisnya; tetapi juga belajar tentang sebuah humanitas, memahami realitas, menghargai sosialitas, serta memenuhi hampir sebagian aktualisasi diri. Di sana juga, tanpa disadari, saya mulai memaknai arti hidup.

Pretty tough untuk sebuah rohis kampus, ya? Bagi saya, MT bukan hanya sebuah rohis kampus. MT adalah, apa yang saya dan rekan-rekan usahakan, apa yang kami pikirkan, apa yang kami lakukan, apa yang membuat kami tidak tidur, apa yang kami resahkan, apa yang membuat kami senang, apa yang membuat kami sedih, apa yang membuat kami gembira, apa yang membuat kami kecewa, apa yang membuat kami merindukan, apa yang membuat kami tidak berhenti menyerah, apa yang membuat kami ingin kembali, apa yang membuat kami tidak ingin meninggalkan, dan mungkin apa yang membuat kami bersatu seperti sekarang. Bahkan, bagi saya, kata-kata tidak cukup untuk mendeskripsikan comfort zone #2 saya ini.

Sekarang, walau mungkin beberapa hanya tinggal kenangan, tapi tidak dipungkiri bahwa MT masih tetap menyediakan zona kenyamanan. Jika memang sudah bosan berada di kamar, pilihan kedua saya pasti ke sini. Walau mungkin kata orang tempat MT terlihat kecil dan tak terjamah, bagi saya dan mungkin rekan-rekan lainnya tetap berarti. Don’t judge a book by its cover, karena isinya sangat luar biasa.

Comfort Zone #3

Masjid Raya BogorMasjid Raya Bogor, Bogor. Tempat ini sangat spesial, terutama di masa-masa saat saya ‘kehilangan’ MT. Masjid ini sekarang masih dalam tahap renovasi, tapi bagi saya masih tetap membuat nyaman.

Salah satunya, karena di dalamnya terdapat replika ka’bah sebagian di dekat mimbar khotib. Saat melihat replika ka’bah itu, secara otomatis pikiran saya langsung melayang ke detik pertama saya melihat ka’bah di Haram. Subhanallah. Karenanya, jika memang saya sedang merindukan Haram, atau saat saya sedang kufur tak terarah, saya memilih berdiam diri di masjid ini.

Selain replika ka’bah, tempat shalat wanita memungkinkan saya dapat memandang pemandangan Gunung Salak dengan sangat jelas. Subhanallah. Semakin dalam muhasabah di sini. Sekali saya tiba, saya sering menghabiskan sampai Maghrib tiba. Suasananya begitu tenang, tidak terlalu banyak orang. Hanya beberapa rekan ikhwah terlihat berkumpul di satu-dua lingkaran, entah tengah berdiskusi atau mengaji bersama. Benar sekali, salah satu obat hati memang berkumpul dengan orang-orang shaleh dan shalehah; walaupun tidak saya kenal.

Comfort Zone #4

J-COJ.CO Donuts & Coffee, lokasi di mana saja berada. Saya terutama suka dengan suasana lokasi dan background cokelat-nya. Walau warna bisa disandingkan dengan The Coffee Bean & Tea Leaf, tapi saya lebih memilih J.CO untuk produk yang lebih bervariasi. Terkadang, saya menyukai J.CO karena saya sedikit bosan dengan orang-orang asing yang sering berada di tempat-tempat coffee shop lainnya. Untuk J.CO, lebih Indonesian touch, lah. Sedikit lebih ‘membumi’.

Tempat yang nyaman juga sering memberikan inspirasi, banyak inspirasi saat skripsi, terutama. Menu andalan saya adalah Chocolate Blended, tanpa black forest. Dengan ini, bisa berjam-jam dihabiskan tanpa memesan lainnya; seringkali karena sudah terhanyut dalam bacaan. Atau kalau mau variasi lainnya, bisa coba J.Cool topping blueberry, yang sering saya salah sebut jadi blackberry (lengkap dengan raut wajah bingung pramusaji dan raut wajah berpikir saya selama sepersekian milisekon, sebelum saya ralat menjadi blueberry).

Comfort Zone #5

cilimus1Cilimus, sebuah daerah di Cirebon. Awalnya, ini adalah rumah nini buyut saya. Karenanya, saya sering menghabiskan waktu bermain-main di rumah ini. Sekarang, rumah gaya tua yang besar ini sudah disewakan, tetapi tetap dirawat oleh keluarga. Karenanya, saat liburan mengunjungi rumah nini buyut ini, rasanya seperti menjauh dari rutinitas sehari-hari.

Desa Cilimus terletak sedikit jauh dari kota Cirebon. Karenanya, desa Cilimus sangat sepi. Sepi ini berarti tidak banyak kendaraan lalu lalang, tidak banyak debu beterbangan juga karena alat transportasi yang sering dipakai adalah delman. Motor dan mobil pun keberadaannya bisa dihitung.

Rumah nini buyut sangat nyaman. Jika bosan berada di kamar, yang juga cukup besar untuk menampung lebih dari satu keluarga (jika berada di sana, seringkali semua keluarga nenek saya berada dalam satu kamar), bisa keluar ke halaman belakang. Di sana terdapat kolam ikan yang luar biasa lebar. Di dalamnya juga terdapat ikan yang luar biasa besar. Saat saya masih kecil, saya sering berenang bersama ikan-ikan di kolam ini. Tapi setelah ikan yang sangat besar itu dipindahkan ke kolam lain, tentunya.

Atau jika bosan berada di sekitar rumah, bisa menyusuri jalan-jalan di depan rumah. Jalan itu akan menuju tempat pemancingan umum. Dulu saya sering juga menghabiskan waktu memancing di sini, belajar memancing terutama. Di sini saya kali pertama mengetahui bahwa jika memancing, jarum pancing itu mengenai mulut ikan. Dan di sini juga kali pertama saya mendapat ikan.

Jika keluar saat pagi hari, suasananya terbilang sejuk. Terlebih karena suasana masih adem dan sedikit polusi. Jika menemukan delman, bisa disewa mengelilingi desa. Ke arah kanan dari rumah nini buyut terdapat pemandian air panas dan beberapa hotel, sedikit tidak menarik bagi saya. Kalau ke arah kiri, ke arah pemancingan, bisa menemukan jalan raya (yang lagi-lagi tidak banyak terdapat kendaraan) yang pastinya bebas macet.

cilimus2Suatu saat saya diajak paman dan sepupu ke sebuah pasar, mengikuti jalan raya saja. Tapi, pasarnya sangat enak, mungkin karena masih pagi. Dan saat itu saya baru sadar bahwa kami sedikit berada di kaki gunung entah-gunung-apa. Pantas saja suasana terbilang sejuk dan menyenangkan.

Makanan yang biasanya saya dapat di sini adalah serabi asin; yang ini khusus sarapan. Tidak bosan-bosannya, setiap pagi selalu tersedia serabi asin ini di rumah nini buyut. Lalu, seperti yang paman saya beli di pasar ini, terkadang kami membawa oleh-oleh makanan Lepet, berupa beras dan ketan yang dibungkus daun pisang warna kuning. Terkadang ada kacangnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s