Kamera

Suasana ini sangat saya ingat. Kami tengah berada dalam suasana malam Bogor yang dingin dan sejuk. Saat itu malam Ramadhan, saya dan teman-teman tengah menghabiskan waktu di sekolah dalam sebuah pesantren Ramadhan. Kami terhanyut dalam suasana yang tenang, damai, yang tak pernah dirasakan pada hari-hari biasa. Masing-masing dari kami tahu, kami memiliki niat dan tujuan serta perasaan yang sama saat itu.

Atau setidaknya, sebagian dari kami.

Malam itu, saya tengah menunggu rekan-rekan shalat tarawih di aula. Kebetulan saya sedang berhalangan sehingga yang saya lakukan, sayangnya, hanyalah duduk sambil sesekali merenung. Shalat berjamaah sudah mulai. Aula tempat kami shalat, atau setidaknya tempat mereka shalat dan tempat yang lain berada, merupakan sebuah ruangan yang lebar, lengkap dengan AC dan marmer tanpa sajadah. Masih terasa betapa dinginnya malam itu.

Saat beranjak ke raka’at kedua, saya melihat dua rekan seangkatan saya baru memasuki aula. Dua murid laki-laki itu memasuki aula dengan wajah basah air wudhu, terlihat segar. Mereka memasuki aula perlahan, lalu bergabung di shaf paling belakang.

Saya, yang tengah duduk di pojok shaf wanita paling depan, melihat mereka dengan jelas. Mereka berputar dan bertanya pada saya raka’at berapa. Saya menjawab seraya meminta mereka untuk bergegas.

Mereka pun bergabung shalat. Tapi tak lama, salah satu dari mereka mulai bercanda-canda. Lalu terdengar tawa. Saya memperhatikan dengan tatapan dongkol tapi geli juga.

Cukup lama mereka bercanda. Bosan memperhatikan mereka, saya pun memandang sekeliling yang terbilang kosong. Ada satu meja panjang di belakang saya. Saat saya berputar, terlihat sebuah kamera besar yang dipakai oleh kameraman televisi di atas meja. Saya mengenalinya sebagai kamera yang dibawa-bawa pihak dokumentasi panitia pesantren Ramadhan. Dan, yang sedikit mengejutkan, kamera itu berkedip merah.

Saya lalu berputar cepat pada teman-teman aneh saya yang masih bercanda di barisan belakang laki-laki. “Shh,” saya memanggil. Mereka menoleh. Saya pun menunjuk ke belakang. Saat mereka melihat kamera berkedip yang mengarah ke arah kami itu, wajah keduanya langsung pucat. “Itu nyala?” tanya salah satu pada saya. Saya hanya mengangkat bahu sambil meringis. Serempak, keduanya berbalik dan mulai ikut shalat berjamaah.

Saya kembali ditinggal. Diam, hanya terdengar sesekali suara takbir atau surat-surat pendek sang imam. Terlepas dari kamera itu benar menyala atau tidak, apakah kita baru bertindak benar saat menyadari ada yang memperhatikan? Pertanyaan aneh, sama anehnya dengan pertanyaan jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya?

Kenyataannya, yang tak perlu dibahas dan diungkit lagi, bahwa surga dan neraka memang ada, tak perlu jauh-jauh berpikir bagaimana jika tidak ada. Lebih baik berpikir bagaimana untuk mencapai surga dan menjauhi neraka.

Terkadang, manusia seringkali membuat segalanya lebih rumit. Misalnya, jika skripsi tak ada, masihkah kita membaca buku-buku teori yang tebal-tebal? Kenyataannya, skripsi (masih) ada dan daripada berputar menjawab pertanyaan jika tidak ada, kan lebih baik berputar menyelesaikan skripsi itu sendiri.

Bukankah ada sebuah konsep ihsan; keikhlasan beribadah dengan keyakinan bahwa ALlah senantiasa memperhatikan. Tidak terganggu dengan pendapat atau pujian orang lain, terlebih kamera.

Setuju sekali dengan pemaknaan bahwa Allah sesungguhnya ada di hati kita masing-masing. Nikmat. Ringan, tanpa beban. Dan cinta-Nya tak pernah tak terbalas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s