Diam

Jika kata tak terucap, siapa kita mengharapkan orang lain mengerti kita? Jika kata tak terbilang, siapa mereka berhak menghakimi kita? Jika pikiran tak terbendung, siapa kamu berhak menghentikannya? Jika hati meminta, siapa aku berani diam?

Semua tentang ‘kadang’, semua tentang ‘mungkin’; jika tak butuh kemungkinan, apakah akan menutup mata dari kenyataan? Tak ada yang sempurna. Tapi ada yang saling menyempurnakan. Ada yang matanya tetap terbuka. Ada yang tak pernah menyerah. Ada yang masih mencoba untuk bernafas.

Dan ada juga yang tak bisa bergerak. Berdiri diam, diam saja; tapi pikirannya berputar kencang. Kencang sekali seperti putaran gasing. Setelah berputar kencang, akhirnya gasing berhenti. Mati.

Berjalan saja tak mudah, jika memang pikiran tidak mengikuti. Percuma pindah ke negara lain, jika pikiran tak mengikuti. Percuma menulis, jika pikiran tak mengikuti.

Jatuh. Mati. Diam. Tak bergerak.

Mencoba tidur, pikiran itu pun akhirnya menjelma menjadi sebuah mimpi. Mencoba nonton, percayalah tokoh fiksi tidak membantu banyak. Mencoba melakukan apapun yang tak butuh berpikir, terasa sendirian tanpa pikiran. Tak bisa. Mati. Diam. Tak bergerak.

Siapa mereka berhak menghakimi saya? Siapa mereka berhak menentukan nasib saya? Siapa Anda bisa… bisa ada di pikiran saya? Saya ingin bertanya bagaimana: bagaimana Anda bisa memiliki kunci menuju pikiran saya? Bagaimana Anda bisa mendominasi pikiran saya? Bagaimana Anda bisa membuat saya kesal dan simpati pada saat yang bersamaan? Bagaimana Anda bisa begitu sangat baik hati seakan tak pernah satu kali pun Anda membangkang?

Tapi mengapa tak satu pun kata penolakan saya dengar dari Anda? Atau bahkan kata persetujuan?

Kata Anda selalu bernama diam. Atau jika ada pun, bermaksud tak menjawab. Atau jika menjawab pun, perlu berpikir berkali-kali untuk mencerna maksud Anda. Atau kalau tidak semuanya, diam. Tak bergerak.

Lelah, sebenarnya, membaca Anda. Hanya saja, jika saya berhenti, berarti saya menyerah. Tidak suka meninggalkan sesuatu tanpa jawaban. Atau mungkin tidak akan berhenti saya membaca Anda. Lalu mulai muncul pertanyaan, sampai kapan saya bertahan membaca Anda? Atau, is this worth it?

Mungkin semua yang saya tulis tidak Anda baca. Atau jika Anda baca pun, Anda tak mengerti. Atau jika Anda mengerti, Anda hanya akan memilih diam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s