Stress Tingkat Dua: What?

Kepala berat (pinjem istilahnya Ardi). Langkah berat. Nafsu makan berkurang. Waktu tidur berkurang. Saat mencoba tidur, malah muncul flashback-flashback pikiran yang membuat Anda lebih buruk. Ada saat-saat Anda blackout. Anda pun sudah biasa menangis di mana pun, entah di bus, angkot, kelas, mushalla. Mata Anda sudah tidak butuh eyeliner untuk membuat smookey eyes. Malam hari menjadi teman, siang hari pun menjadi teman. Ada saat-saat Anda membutuhkan CDR jika merasa tidak enak badan (thanks for Mom to always make it available), dan sayangnya itu dibutuhkan hampir setiap hari. Ada saat-saat Anda merasa membutuhkan kopi. Bahkan lagu-lagu di playlist Anda terasa membosankan. Tiba-tiba Anda tidak menaruh perhatian pada hal-hal yang terjadi di sekitar: entah itu kelulusan Ardi, pemilu presiden (yang biasanya tak lepas dari perhatian Anda). Anda merasa memiliki dunia sendiri, memiliki pikiran sendiri. Egosentris Anda meninggi, merasa Anda memiliki masalah paling berat. Anda mencoba memikirkan tempat-tempat untuk hiburan sementara, tapi rencana itu tidak akan pernah terlaksana.

Anda terhibur hanya saat menonton film. Anda terhibur hanya saat bertemu dengan teman-teman senasib. Anda terhibur hanya saat bertemu dengan dosen-dosen yang lebih informatif dan supportif daripada pembimbing Anda. Anda terhibur hanya saat tengah menyebut nama-Nya, terasa nyaman dan aman, karena Dia akan selalu ada bersama Anda saat yang lain meninggalkan Anda.

Pada akhirnya, Anda hanya ingin berteriak, LET ME OUT. I WANT MY LIFE BACK!

Advertisements

One thought on “Stress Tingkat Dua: What?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s