Titik Jenuh (about Feminism)

Setelah hampir tiba di penghujung semester pelaksanaan skripsi, akhirnya tiba juga masa-masa jenuh. Bukan, bukan jenuh karena mengerjakan skripsi; tapi jenuh akan topik skripsi tentang Feminisme yang sedang saya bahas.

Semakin dalam saya membaca buku-buku sumber, semakin pusing dan bosan saya dibuatnya. Karena, begini. Saya meneliti tentang perkembangan pola pikir Feminisme dari zaman pencerahan sampai sekarang; total ada tiga periode. Dan setiap periode, saya hanya tahu satu hal: tidak ada perubahan.

Periode pertama feminisme berbicara tentang hak-hak wanita secara politik, entah berpartisipasi secara demokratis ataupun berbicara. Di periode kedua feminisme, masa perubahan pola pikir masyarakat tentang wanita (bahwa mereka punya hak untuk berkreasi sesuai keinginan dirinya) dan, yang paling penting, penyamarataan gender. Kemudian, di periode ketiga lebih terfokus pada penyelesaian periode kedua, yang dinilai belum sukses karena belum ada penyamarataan gender.

Untuk periode pertama, mungkin secara garis besar saya setuju: karena memang wanita juga warga negara yang memiliki hak memilih, berbicara, dan sebagainya. Tetapi, untuk hal lain seperti penanaman pola pikir bahwa wanita memiliki hak yang sama dengan pria; saya tidak terlalu setuju. Mungkin karena ini, perjalanan feminisme beralih menjadi penyamarataan gender. Dan ini jugalah, yang membuat banyak feminis radikal yang berubah menjadi lesbian (you name it).

Karena saya muslim, banyak rekan-rekan yang sudah mewanti-wanti saya di awal saya memutuskan untuk melakukan penelitian. Dan sekarang saya tahu, mereka benar. Saya seakan hendak melempar semua buku-buku itu ke hadapan mereka dan berteriak lantang, “KALIAN TIDAK TAHU TENTANG ISLAM!” Dan bagaimana Islam memperlakukan wanitanya.

Pernahkah mereka berpikir, bahwa memang wanita dan pria diciptakan berbeda dan karena perbedaan itulah yang membuat dunia ini menjadi lebih indah? Oke, mungkin bisa dilakukan diksi yang lebih tepat. Tapi, wanita berbeda karena memang wanita memiliki kelebihan dan spesialisasi yang lebih indah. Juga pekerjaan yang lebih indah dari segalanya: yaitu menjadi ibu.

See? Pria, diharapkan untuk bekerja di luar. Sementara wanita, diharapkan untuk berada di dalam rumah untuk melakukan pekerjaan yang sanga luar biasa; yaitu mengajarkan anak-anaknya pelajaran pertama mereka (entah moral, sopan santun), serta mendidik mereka menjadi generasi luar biasa untuk selanjutnya. Karenanya ada istilah tentang moral bangsa dilihat dari wanitanya. Itu karena mereka nantinya akan menjadi ibu dan menjadi orang pertama yang mendidik anak-anaknya.

Para feminis itu, berpikir menjadi ibu rumah tangga sangat membosankan. Jelas membosankan, karena mereka MEMBELENGGU hak mereka sendiri. Mereka tidak berpikir selain memikirkan suami dan anak mereka, mereka tidak berbelanja selain untuk keperluan rumah tangganya, mereka tidak bekerja selain mengerjakan pekerjaan rumah. Kalau begitu, siapa sebenarnya yang melakukan pelecehan hak asasi mereka? Mereka sendiri.

Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti terpenjara. Tetapi, ada batasan-batasan untuk pekerjaan mereka; terutama karena mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap suami dan dalam hal mendidik anak-anaknya.

Suatu kali saya pernah membaca tentang feminisme radikal, dan sayangnya itu membawa nama Islam. Dikatakan bahwa seorang feminis yang kebetulan beragama Islam, menjadi imam di sebuah masjid di Amerika; disertai pria yang menjadi jamaahnya. Nah yang ini, yang benar-benar salah. Salah satu sasaran para feminis adalah agama, yang dikatakan tidak menyamakan gender pria dan wanita.

Oke. Satu pertanyaan untuk para feminis: what’s wrong with men, anyway? Ada apa sih dengan pria, sampai para feminis menyatakan ‘perang’ terhadap pria, sampai para feminis menuntut adanya penyamarataan hak dan kewajiban wanita dengan pria.

Padahal, hal-hal itu kan malah membuat ribet. Bagaimana jika kita mencoba mengubah paradigma tentang sebuah peraturan (baik tersirat ataupun tersurat). Para feminis menyadari tentang peraturan yang menyangkut wanita tidak sesuai dengan ego mereka yang paling dalam. Lalu, tanpa memikirkan lebih lanjut, mereka memberontak.

Itulah sebuah paradigma yang salah tentang peraturan: peraturan dibuat untuk dilanggar. Bagaimana jika, peraturan dibuat untuk dimodifikasi? Saat zaman pencerahan, memang zaman masih belum stabil dan dibutuhkan sebuah pemikiran-pemikiran. Tapi, di zaman selanjutnya, mengapa para feminis itu tidak berpikir dahulu sebelum memberontak? Well, saya memiliki bakat pemberontak, tapi tidak sampai seperti mereka yang tidak memikirkan baik dan buruknya. Hey, we live in a multicultural community! Belum tentu yang kalian pikir benar memang benar adanya.

Advertisements

7 thoughts on “Titik Jenuh (about Feminism)

  1. saya setuju sekali dengan anda… bukan karena saya seorang pria tapi karena saya pikir memang tidak mungkin wanita dan pria akan sama. Wanita yah wanita dengan segala kelebihan dan kekurangannya, begitu juga pria.

  2. nitami says:

    I agree with your opinion. Saya tertarik dengan feminisme dan ingin melakukan riset tentang itu. Apakah mudah untuk memperoleh referensi pustakanya di setiap Gramedia cabang manapun ? Dank you well

    • Thank you.
      Wah, senang lho ada yg tertarik dgn feminisme. Kalau selama yg saya lakukan, cukup sulit juga mencari bukunya. Karena banyaknya buku dari luar dan jarang diterjemahkan. Biasanya ada di perpustakaan indie, mbak. Coba cari di Freedom Institute, Jakarta. Lumayan banyak dapat sumber feminisme di sana. Di situ bisa difotokopi satu buku.
      Atau kalau tidak dapat juga, berarti pesan online pilihannya, hehe. Good luck, ya!

  3. Ario A says:

    Tulisan yang menarik!!! Namun kalau saya justru agak sedikit bertolak belakang dengan Anda. menurut saya kaum perempuan tidak akan melakukan pemberontakan selama berabad-abad lamanya kalau tanpa adanya pengkajian terlebih dahulu. Hasil tulisan dan anggapan anda justru adalah cerminan nyata dari pemahaman akan gender dan seks yang sering disalah-artikan.

    seks sebagai hal yang kodrati yang diberi Tuhan, dan gender yang dikonstruksi secara sosial dan budaya oleh masyarakat. Sayangnya gender sering kali dianggap juga sebagai hal yang kodrati, yang sudah bawaan dari sananya, padahal pembentukkan karakter pria dan wanita kan melewati tahap selama jutaan tahun lamanya. Gender adalah sesuatu yang bisa dipertukarkan dan diseimbangkan.

    Budaya yang melekat pada masyarakat kita saat inilah hasil produksi masyarakat tersebut. pandangan2 khusus bahwa pria bertanggung jawab di luar dan wanita bertanggung jawab penuh pada ranah domestik tidak bisa dibenarkan begitu saja. Perbedaan yang banyak disebut orang sebagai sumber keindahan dunia *seperti yg anda sebutkan di atas* itu juga merupakan bentuk “cari aman” yang menguntungkan sebelah pihak. Masalahnya bukan sesederhana pembagian tugas di dalam rumah tangga, tapi menuju kekerasan pada perempuan, baik fisik maupun mental, yang terjadi banyak di negeri kita tercinta.

    Saya juga bukan orang yang mengerti tentang feminisme, tapi kebetulan sekali saya juga sedang mengerjakan skripsi tentang feminisme. Dalam feminisme tentu saja ada nilai2 ekstrim yang menimbulkan kontroversi, apalagi dengan agama dan budaya Timur. Akan tetapi selain drpd itu, ada banyak ragam feminisme lain yang bukan meneriakkan kata ‘PERANG’ pada kaum laki-laki, tapi mereka meminta adanya keseimbangan, dan penghilangan bias gender. berbeda memang boleh, tapi bukankah seimbang lebih indah?

    Paling tidak itu menurut saya. 🙂

  4. kin says:

    wah, tulisan nya cukup menarik. ..
    berbicara tentang feminis memang gak da habis nya. . pro dan kontra pasti ada.

    oya mbak, saya sedang menyelesaikan tugas yang ‘berbau’ feminist. tapi , saya kekurangan bahan dan referensi,,kalau mbak ada tulisan atau refernsi yang mengenai feminist dalam bentuk soft copy (pasti punya ) saya minta ya mabak…:)

    makasi sebelum nya

    kin885@gmail.com

    • Semoga bs membantu: coba ke perpus Freedom Institute di menteng. Cukup lengkap referensi buku feminismenya. Atau coba googling aja, google membantu bnget waktu skripsi. Dari website-website itu pasti ada referensi buku-buku feminisme. Coba cari bukunya di http://scholar.google.com/ semoga bukunya full review, hehe. Tapi kalau topiknya cukup bagus untuk dbaca, coba pesan saja. Saya kbanyakan pesan sih waktu skripsi, krena harus dbuktikan. Tapi cukup lama juga nunggunya, sekitar 1-2 bulan.

      Makasih lho, sudah mampir di blog saya yg sudah ga pernah buka. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s