Knowing dan Dakwah

Bukan maksud menyamakan film terbaru-nya Nicholas Cage dengan tugas insan manusia di dunia. Bukan. Bahkan saya yakin, pembuat film Knowing ini tidak mengerti tentang Dakwah saat membuatnya.

Tapi yang menjadi bahan pemikiran saya saat menyaksikan ini (benar, saat menonton pun saya berpikir. Can anybody stop me for a while from do thinking? Tapi, bukankah saat manusia tidak berpikir berarti dia sudah meninggal?) adalah tentang bagaimana manusia diciptakan berkaitan satu dengan yang lain.

Sebelum lanjut; ada sedikit pesan untuk pembaca. Jika Anda belum menonton Knowing dan berminat untuk menonton, saya sarankan jangan membaca ini lebih lanjut. Karena selanjutnya saya akan membahas tentang plot Knowing, deskriptif sampai ending; dan saya sarankan, jika Anda tahu endingnya sebelum menonton, itu sama sekali tidak seru (karena saya begitu). Tapi jika Anda sudah menonton, atau belum menonton Knowing dan tidak tertarik menontonnya; silakan lanjutkan.

Plot yang Membuat Penasaran

Knowing memiliki sebuah plot yang membuat penasaran; menyeramkan pada awalnya tapi memperbesar rasa ingin tahu. Diceritakan seorang Professor John Koestler, menemukan sebuah kertas yang berisi angka-angka dari anaknya, Caleb. Anaknya mendapatkan kertas itu dari sekolah, yang menyimpan kertas-kertas yang digambar oleh murid-murid 50 tahun yang lalu. Kertas angka-angka yang didapat Caleb dari seorang perempuan bernama Lucinda Embry, murid sekolah itu 50 tahun yang lalu. Lucinda adalah seorang anak yang misterius. Begitulah kesan menyeramkan muncul di sini (duh, kok nulis sambil tegang gini).

Kemudian, Professor John Koestler (Nicholas Cage) pun menyadari ada yang aneh dengan deretan angka-angka itu. Tak lama dia pun menyadari bahwa angka-angka tersebut merupakan tanggal, bulan, tahun, jumlah korban, dan titik koordinat lokasi tragedi-tragedi di seluruh dunia selama 50 tahun. Mantep ga sih tuh…

Professor Koestler pun mulai mencari-cari keterangan tentang Lucinda. Itu juga yang membuatnya bertemu dengan Diana, anak Lucinda (yang ternyata sudah meninggal). Dan ternyata, Caleb dan anak Diana, Abby, sama-sama mendengar bahasa aneh dari pria aneh berjas hitam yang sering muncul tiba-tiba. Pria aneh itu, yang ternyata adalah alien, berbicara bahasa aneh dengan Caleb dan Abby. Professor Koestler pun langsung bersikap protektif pada anaknya, lalu dia bersama Diana dan Abby pun mencari-cari sumbernya.

Tak lama, Professor Koestler pun menyadari tentang kejadian langka yang akan terjadi: peledakan matahari. Jadi, professor astronomi (lupa juga istilahnya apa) itu menyadari bahwa angka-angka yang diramalkan oleh Lucinda 50 tahun yang lalu mengacu pada sebuah akhir dunia. Dan, menurut dia, akhir itu adalah peledakan matahari. Yup, jadi diceritakan matahari akan meledak dan menghasilkan panas yang luar biasa yang mencapai seluruh permukaan bumi, bahkan di bawah tanah.

Knowing dan Dakwah

Lalu, apa hubungannya dengan dakwah? Begini. Professor Koestler diceritakan sebagai seorang atheis. Dia memiliki ayah seorang pendeta, tapi dia sendiri tidak setuju dengan kepercayaan ayahnya. Diceritakan, sejak kematian istrinya, dia tidak percaya adanya Tuhan.

Tetapi, dengan kejadian ini; dengan kejadian bahwa dia bisa mengetahui kapan datangnya kehancuran dunia, dia pun menyadari kesalahannya. Diceritakan, pada akhirnya bumi terbakar oleh peledakan matahari, Professor Koestler tengah berada bersama dengan kedua orang tuanya dan adiknya. Sementara, Caleb, anaknya, diambil oleh alien dan dibawa ke planet lain; yang katanya sih untuk memulai generasi selanjutnya. Kata lainnya; the new Adam and Eve.

Pertanyaan pertama yang muncul adalah: bagaimana jika kita meninggalkan dunia ini sebelum melakukan apa-apa untuk umat? Jika cerita akhir adalah meledaknya matahari yang akan membakar seluruh isi bumi; itu lain cerita (walau insyaALlah tidak sesuai dengan isi Alquran). Maksudnya adalah meninggal, dalam arti yang sebenarnya; tanpa melakukan apa-apa…

Lalu, bagaimana dengan hidup setelah mati? Akankah kita bertemu lagi dengan orang-orang yang kita cintai nanti? Hal ini terpikirkan oleh saya saat Professor Koestler bertemu harus berpisah dengan anaknya; dia harus tinggal di bumi dan meninggal sementara anaknya hidup di planet lain.

Dari ilustrasi film ini, saya mendapat sebuah arti dakwah. Dakwah berarti adalah menyebarkan kebenaran Islam rahmattan lil ‘alamin dan mempersatukan kembali kita di syurga dengan orang-orang yang mencintai kita dan kita cintai karena ALlah di dunia. Benar?

Setelah menonton film ini, rasanya saya tenggelam dengan rasa rindu yang besaaar pada ALlah. Secinta apa pun saya dengan orang tua, adik, keluarga, rekan-rekan, sahabat-sahabat saya; jika tanpa didasari oleh cinta pada ALlah, maka tidak ada artinya.

Professor Koestler berhasil mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang di film ini, tapi tidak dengan di kehidupan nyata. Jika ternyata ada tragedi seperti ledakan matahari dan kita sedang tidak bersama dengan keluarga kita, bagaimana? Jika ternyata hidup kita sampai di sini saja, bagaimana?

Buatlah dakwah itu seindah dan senyaman Anda memandangnya. Bagaimana jika, dakwah yang didasari cinta pada ALlah? Pasti indah, dan pasti nyaman. Atau simpelnya, bagaimana jika dakwah itu diasumsikan seindah cinta ibu pada Anda? Cinta ibu saja sudah indah, ya? Bagaimana dengan cinta ALllah, ya?

Bukankah kita ingin dipersatukan kembali dengan orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita karena ALlah di surga nanti? Karenanya, ayo berdakwah; sebarkan ilmu dan ajak sebanyak mungkin saudaramu untuk nantinya bersatu kembali di surga-Nya kelak. Amin.

Epilog

Lalu, apakah dunia begitu penting? Apakah manusia ada yang sempurna?
Tidak ada, hanya Dia Yang Sempurna. Lalu, mengapa manusia masih banyak
menuntut manusia lain untuk sempurna? Karena, hanya Dia Yang Tidak
Pernah Menuntut. Berikan cinta hanya pada-Nya, dan tidak pernah akan
ada penyesalan. InsyaALlah.

Dipikir-pikir, film ini sebenarnya banyak fakta yang berlebihan. Alur yang panjaaaaaaang, tapi resolusinya hanya satu pada akhirnya. Tapi tidak dinilai garing, karena banyak efek yang keren dan fakta berlebihan itu tidak dilebih-lebihkan; sehingga masih normal. Lumayan-lah, untuk sebuah karya dengan Nicholas Cage.

Thanks for the inspiration that late night.

Advertisements

2 thoughts on “Knowing dan Dakwah

  1. Tapi Genrenya apa ya?
    Apakah Disaster, Mystery, Sci-fi, atau yang lain?

    Tapi knp ya?? ketika emosi lagi naik pas dunia akan berakhir, malah disuguhin adegan Caleb & Abby yang pergi bersama Alien entah ke planet mana. Antiklimaks tuh emosi disitu..

    • hm…kyanya sih dlihat dari efek2nya, itu termasuk sci-fi ya. Tapi ga tahu juga, bukan pakar film saya…
      hehe…do you know?
      ending yg menggantung itu adalah seni, saya pernah dkatakan begitu oleh guru menulis saya.
      emang bikin penasaran, tapi ternyata itu adalah ending yg intelektual. Karena; bikin mikir. Kalau biasanya happy atau sad ending, itu kan uda jelas dan terpampang di sana. Ga usa mikir. Kalau menggantung, menyerahkan setiap penonton laid on their own imagination of ending.

      So does Knowing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s