Patah Kembali

Teringat saat saya meninggalkan Tanah Haram Mekkah dan Madinah. Hati saya, dan mungkin hati setiap muslim, seakan patah dan tertinggal di sana. Mungkin kalau dikalkulasikan, satu hati yang penuh; setengahnya tertinggal di sana. Pedih rasanya meninggalkan kota-kota yang sangat membuat hati dan batin tenang. Tak ada yang bisa menggantikan.

Saya tak menyangka, harus kehilangan hati saya lagi. Jika dikalkulasikan, hati yang kini tinggal setengah, terbagi setengah lagi. Dia tertinggal di MT. Dan, sekalipun secara hitungan lebih sedikit, tapi jarak yang lebih dekat membuat rasa kehilangan ini menjadi begiiiiiitttu sakit, dalam, dan susah dilupakan. Saya merasakan benar, jika memang cinta karena Allah; maka memang hanya Allah yang bisa memisahkannya. Jika memang Dia belum Berkehendak memisahkan, hasilnya salah satunya adalah hati saya yang masih tertinggal.

Dan tinggal tersisa seperempat lagi…

Advertisements

One thought on “Patah Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s