Loyalitas

Hmm.. Judul terlihat serius, tapi sebenarnya ini hanya sebuah informasi yang tidak terlalu serius. Jadi begini. Sebagai penggemar sepakbola, pastinya punya klub kebanggaan dong? Tetapi, buat saya, klub tidak penting: yang penting pemainnya. Haha. Practically, saya termasuk cukup sering berganti klub sepakbola. Sepanjang hayat ini, sudah ada tiga klub yang menjadi perhatian saya.

Berikutnya akan disebut klub A, B, dan C.

Saya menjadi penggemar klub A sejak SMP kelas 3 sampai SMA kelas 3; cukup lama dan cukup setia juga. Dan, alasan mengapa saya berpindah hati adalah karena bosan. Ck, ck, ck.

Kemudian, klub B; disukai sejak kelas 3 SMA sampai sekitar semester 4 kuliah. Durasi yang sebentar, karena sebenarnya klub B itu menjadi rival klub A; dan dulunya saya benci banget ama klub B. Tapi berhubung saya mengetahui ada seorang pemain yang luar biasa mengagumkan, saya pun berpindah hati. Klo tidak salah, klub B langsung dapat double winner waktu saya berpindah hati. Mungkin saya membawa keberuntungan…

Lalu, klub C; disukai sejak semester 5 sampai sekarang. Mungkin berawal dari Piala Dunia 2006, yang membuat saya memperhatikan seorang pemain; keren dan mengagumkan. Dan akhirnya, pindah hati deh ke klub C.

Sebelum berpindah hati ke klub C, saya adalah anggota group klub B Indonesia. Dan cukup eksis. Dan cukup mengenal beberapa orang. Dan cukup dikenal juga sebagai penggemar sang pemain yang tadi disebut itu…

Dan sekarang pun saya pun bergabung dengan group klub C Indonesia. Dan cukup mengenal beberapa orang.

Oke. Masalahnya sekarang adalah…

Seorang rekan saya di group klub B Indonesia, baru-baru ini menghubungi saya. Saya diminta hadir di acara kopi darat klub B Indonesia. Saya pun sedikit gelagapan. Aduh, mau jawab apa juga bingung; udah lama banget tidak memikirkan klub B. Akhirnya, saya pun mengiyakan sambil mengatakan, ‘Diusahakan.’ Jawaban paling demokratis yang bisa terpikirkan.

Berikutnya, beliau pun membicarakan tentang kinerja klub B belakangan ini. Saya pun menjawab dengan sama demokratisnya. Misalnya, jika dikatakan, “Aduh, performa klub B lagi menurun nih.” Saya menjawab, “Iya, sebal banget.” Padahal, I have no idea how the performance is.

Tapi, tak lama kemudian beliaupun bertanya tentang facebook saya karena hendak diinvite dalam group. Saya pun memberikannya TANPA BERPIKIR terlebih dahulu.

Beliau pun add, saya approve.

Berikutnya, beliau bertanya,

“Kok, ada klub C di profil kamu?”

Ow oh.

Advertisements

3 thoughts on “Loyalitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s