Berpikir

Tanpa terasa, waktu terus berjalan. Terkadang, bahkan saat waktu kita berpikir untuk memutuskan sesuatu; saat itulah waktu terus berjalan. Terkadang, saat kita pikir apa yang kita lakukan dengan berpikir bisa menyelesaikan permasalahan; saat itulah masa depan umat menanti.

Kalau dibilang waktu adalah uang, saya tidak setuju. Frasa itu seakan menunjukkan bahwa manusia adalah budak dari uang; sang material yang membuat manusia lebih mencintai dunia daripada akhirat. Saya lebih setuju jika mengambil tagline sebuah kartu kredit, bahwa waktu itu is priceless. Tidak bisa dihitung dengan kata-kata; seperti cinta ibu pada anaknya, cinta seorang Rasulullah kepada umatnya, cinta Sang Khalik pada makhluk-Nya.

Sepenting itulah waktu. Saya sedikit setuju dengan sebuah pernyataan dari seorang penulis karya sastra islami yang fenomenal, Ayat-Ayat Cinta, Kang Abik. Beliau pernah berkata, “Jika ada seseorang yang memiliki banyak waktu senggang, saya ingin membelinya.”

Lalu, apakah benar orang sukses berarti terbilang sibuk? Bagaimana jika sebenarnya dia memiliki waktu cukup untuk semua hal yang harus dikerjakan; hanya saja dia tidak memiliki manajemen waktu yang baik sehingga dia merasa sangat sibuk setiap saat? Kalau begitu, sukses tidak bisa dilihat banyaknya waktu yang dia miliki, bukan?

Bagaimana kalau begini, sukses bukan dinilai dari hasil, tapi dari proses? Ingat dengan kejadian kontroversial tentang perlunya UAN dan skripsi; syarat yang harus dipenuhi untuk lulus dari SMA dan perguruan tinggi. Apakah kerja keras selama SMA hanya ditentukan oleh sejumlah nilai mata pelajaran? Apakah kerja keras selama empat tahun atau pun bertahun-tahun itu hanya ditentukan oleh satu hari ujian pendadaran skripsi?

Jika begitu, di mana arti pentingnya sebuah proses? Jika saya katakan, kuliah bukan untuk mencari nilai tapi untuk mencari pengalaman; apakah pengalaman yang didapat setara dengan harga diri saat menjadi mahasiswa abadi?

Tapi proses itu penting, kata sebagian orang. Gagal atau tidak, itu hasil akhir; yang terpenting prosesnya, di mana kita bisa belajar sesuatu. Itu betul. InsyaALlah ada sesuatu yang didapat dari proses.

Tapi, tidak dipungkiri; sebuah kegagalan menjadi momok yang sedikit menakutkan bagi sebagian orang. Teringat perkataan seseorang (saya lupa entah hadits atau hanya tausyiah) bahwa sebuah jabatan tidak akan datang kepada orang yang benar-benar menginginkannya; kepada orang-orang yang niatnya sudah tidak sesuai dengan syariat; kepada orang-orang yang memiliki tujuan tertentu.

Benar, ALlah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak mengubahnya. Karenanya, kaum itu pun tidak memiliki hak untuk hanya DIAM saja tak bergerak dan menunggu orang lain yang lebih pantas atau lebih responsif untuk bergerak.

Atau untuk memimpin.

Sesungguhnya, setiap individu adalah seorang pemimpin dirinya sendiri. Jadi, seharusnya tidak ada istilah born-leader pada beberapa orang; karena seharusnya predikat born-leader sudah ada pada masing-masing orang.

Paradigma masyarakat membelenggu generasi muda, saya pikir. Emansipasi; Kartini secara tidak langsung seakan membuka gerbang bagi para wanita Indonesia untuk memiliki derajat yang sama dengan para pria. Tapi, akhirnya, apa yang terjadi dengan para wanita Indonesia saat ini? Inikah yang namanya emansipasi, ketika bahkan harga diri tak lagi penting? Bahkan nama baik agama pun diabaikan.

Dan kemudian, masalah uang. Siapa di antara masyarakat yang mencetuskan bahwa uang menjadi sesuatu yang penting? Padahal di Islam, kita mengenal sebuah pernyataan bahwa rezeki setiap orang masing-masing sudah diatur oleh Sang Khalik. Dahulu, saat masih kelas dua esde, saya kerap kali berpikir (dan mengutarakan pemikiran) bahwa setiap orang bahkan para pengemis di jalanan memiliki uang. “Setidaknya, seratus rupiah masa tidak punya.” Tapi zaman sekarang, tidak pernah tega bahkan sedikit pun memikirkan kemungkinan itu.

Zaman berubah, pemikiran pun berubah. Ideologi pun berubah, mulai banyak pengaruh dari pihak luar. Salah siapa? Westernisasi? Kapitalisme? Egosentrisme? Globalisasi? Antroposentrisme? Sosialisme? Liberalisme? Yeah, semua ideologi dan proses sebut saja. Bagaimana jika saya katakan, kitalah yang salah karena tidak membekali diri sendiri dengan tameng ideologi-ideologi berbasis dunia itu?

Syariah Islam? Spekulasi mulai berkembang saat ide penerapan syariat Islam di Indonesia. Sekali lagi, terbentur dengan paradigma masyarakat; terutama paradigma yang sudah mengarah pada Islamophobia; sebuah konsep ideologi baru yang dicetuskan orang-orang laknatullah. Paradigma itu muncul darimana?

Bagaimana jika, ambil contoh, paradigma muncul atas dasar kapitalisme yang sangat berkuasa? Uang, menjadi poros kehidupan; bekerja karena uang, belajar karena uang, berpikir karena uang, bahkan bernafas pun karena uang. Lihat keadaan sekarang, saat sang maestro kapitalisme itu memilih bungkam dengan keadaan Palestina yang teraniaya oleh sekutunya, yahudi laknatullah ‘alaih. Secara otomatis, jiwa dan hati manusia akan terketuk atau bahkan tergedor dengan tragedi kemanusiaan itu.

Lalu, mungkin keadaan pun akan berbalik menyerang sang maestro kapitalisme itu, berawal dari kebrutalan yang tidak dapat diterima dengan akal sehat manusia awam (kecuali mungkin yahudi laknatullah) lalu berujung pada kesadaran sebuah kehancuran dunia yang diawali oleh kapitalisme. Muslim di dunia, termasuk saya, tidak sabar menunggu masa-masa itu; karena itulah janji-Nya. Dan Dia Tidak Pernah Mengingkari Janji.

Jika sudah demikian, apakah arti sukses sebenarnya? Apakah kapitalisme dinilai sukses mempengaruhi masyarakat dunia? Lalu, bagaimana dengan akibat-akibat yang tengah dialami dunia; krisis ekonomi, krisis moral, serta krisis-krisis lainnya yang ditaksir merupakan akibat dari kapitalisme? Apakah sebuah kesuksesan memiliki resikonya masing-masing?

Sebuah pepatah bijak mengatakan, hidup selayaknya sebuah roda pedati. Terkadang berada di masa kesuksesan, lalu terkadang berada si masa keterpurukan. Juga sebuah ungkapan, bahwa ketika seseorang mengalami kesuksesan (dalam artian umum) yang langsung tinggi atau terlalu tinggi, dia pun akan mengalami keterpurukan yang sama mendadaknya.

Jika saya menuliskan solusi, mungkin Anda sudah bosan. Saya pun bosan mendengarkan solusi. Sudah tidak ada lagi waktu untuk berpikir panjang. Istilahnya, jihad sudah di depan mata. Jihad ini dalam artian yang luas, bukan hanya bermakna untuk berjihad di Palestina. Saatnya meninggalkan sikap ragu-ragu, yang nantinya akan menyerang kita balik tanpa disadari.

Ingat saja, time is priceless.

Advertisements

2 thoughts on “Berpikir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s