Nostalgila SMP

Di suatu saat saya tengah berada di dalam kereta, teringat dengan tiba-tiba keadaan masa-masa SMP. Haha. Kalau bisa dibilang, masa SMP adalah masa transisi dari saya yang sejak SD adalah seorang anak yang polos dan diam menjadi seorang anak yang bragajulan ga mau diam.

Berikut beberapa facts yang mampir di benak saya:

1. Menjadi seksi keamanan pada saat kelas 1 SMP. Dan tentunya bukan sembarang seksi keamanan. Saya saat itu, praktis menjadi musuhnya ‘preman’ di seantero sekolah. Gimana enggak, tiap ada teman-teman ‘preman’ yang merokok, ledek2an, dan semua hal-hal maksiat lainnya, you named it; pasti saya laporkan ke guru BP. Ahaha! Saya bener-bener galak banget, pada awalnya. Karena pada akhirnya, malah nyangkut dengan salah satu ‘preman’. Hah.

2. Menjadi wartawan gosip. Argh, masih mual kalau ingat ini. Ceritanya, saya adalah seorang yang baik hati dan tidak sombong, sehingga entah bagaimana saya pun menjadi tempat curhat banyak orang. Akhirnya, suatu ketika saya pernah menuliskan SEMUA curhatan orang-orang itu di dalam satu buku. Tulisan itu dalam format script radio [berhubung dulu masih jaman2nya saya dengarin radio sepanjang waktu].

Dan suatu saat, entah bagaimana buku itu tersebar ke teman-teman sekelas dan mereka semua pun BACA! Argh. Dan tahu kan curhatan anak cewek SMP kayak gimana? Si A suka si B, si C jadian ama si D, si E kesel ama si F. Bleh. Sempat ada salah satu teman curhat yang sedikit kesal. Tapi dia cuma bilang gini, ‘Sori gw apus (nama-nama yang ditulis) karena gw ga mau orang lain tahu.’ Ya, gimana orang lain ga tw, dia hapus kan SETELAH smuanya baca.

Saya kira, sejak saat itu saya menjadi musuh seantero sekolah karena ga bisa dipercaya. Tapi ternyataa, masih tetep aja pada curhat.. Saya jadi bingung, apakah memang pada mau dipublikasikan. Ouch! Pekerjaan sampingan yang ga bagus banget… Tapi edisi kedua script radio itu pun ada juga.

2. Menjadi penulis dadakan. Ini terjadi saat saya kelas 2 SMP. Entah bagaimana awalnya, akhirnya saya malah langganan menyebarkan cerita pendek ke teman-teman. Topiknya kisah cinta, pastinya. Euwh. Tapi masalahnya [ini rahasia saya, lho], banyak cerita kisah cinta itu yang memang berdasarkan kisah nyata. Ehehe. Entah kisah teman-teman saya yang cerita ke saya [tapi dengan nama disamarkan] atau kisah saya sendiri [juga dengan nama disamarkan].

Ada sebuah cerita yang paling terkenal yang pernah saya buat; judulnya Rendhika, Bagai Angin Berlalu (OMG!!!). Dan itu berdasarkan kisah nyata. Masalahnya, nama orang yang aslinya itu adalah Verdika. Jadi samarannya ga jauh2 amat kan? Akhirnya, mulai deh muncul spekulasi-spekulasi; dikira kejadian yang diceritakan itu SEMUANYA nyata. Saya pun sempat menghindari kerumunan karena tidak ingin diinterogasi. Beginilah, nasib penulis…

3. Membenci pelatih Silat. Ceritanya, sejak kelas 1 saya ikut Pencak Silat. Saat kelas 2, ada sebuah kasus yang membuat saya membenci sang pelatih. Kebetulan, pelatihnya masih muda. Saya lupa apa alasan saya benci dia banget, sampai saya berhenti hadir di tempat latihan. Akhirnya, rekan-rekan saya di Silat pun mendatangi saya, sepertinya disuruh pelatih. Kemudian, mereka sengaja mempertemukan saya dengan si pelatih; dalam briefing dengan anak-anak kelas 1. Eh, baru mau dipancing pembicaraan ama rekan-rekan, saya uda kabur keluar ruang briefing.

Usaha pertemuan kedua, di angkot [yang jelas-jelas saya ga bisa kabur]. Pertama, saya uda naik ama teman saya. Tapi kemudian sang pelatih pun naik. Argh! Pelatih pun ngobrol-ngobrol dengan teman saya, tanpa saya respon sama sekali. Usaha yang bagus, tapi tidak berhasil sampai saya lulus SMP. Sampai sekarang, saya masih mengingat-ingat kenapa saya kesal banget…

4. Jadi bendahara gadungan. Saat kelas 3 SMP, saya menjadi bendahara II kelas. Tugasnya, mencatat pemasukan dan pengeluaran. Tapi, berhubung saya memang tidak berbakat memegang uang, jumlah uang yang saya pegang dan yang tertulis itu TIDAK SAMA! Argh! Saya dan bendahara I sempat dipanggil wali kelas. Dan berhubung saya juga tidak bagus dalam matematika, sepertinya laporan yang saya buat itu salah hitung. OMG! Saya lupa juga bagaimana selanjutnya, tapi seingat saya tidak disuruh ganti. Dan sejak itu pun saya tahu bahwa saya tidak bakat jadi bendahara. Kesalahan besar saat memilih saya.

5. Menghadiri sebuah kajian agama di sekolah. Luar biasa yang datang, mushalla yang kecil itu cuma diisi tak lebih dari setengahnya; hehe. Intinya sedikit yang hadir. Dan saya juga lupa, itu kajian atau pengajian. Intinya yang saya ingat, saya dan dua teman saya datang dan duduk di pojok kanan belakang. Kemudian, saat ada yang menginstruksikan untuk mengambil Alquran di depan; saya pun mengambilkan untuk kami bertiga.

Tapi, sewaktu hendak dibaca; mulai deh bertanya-tanya. Ini kok, kayak bukan Alquran ya? Dua teman saya itu juga bingung, kok tulisan arabnya ga ada tajwidnya ya? Kemudian, salah seorang teman saya yang pertama sadar pun berkata, ‘Ini huruf Arab gundul ya?’ Saya yang belum ngerti maksud huruf Arab gundul pun hanya mengangguk-angguk heran.

Saat kami melihat cover bukunya pun; [saya lupa tulisannya apa, tapi yang jelas] tidak ada tulisan penanda Alquran. Saya hanya berkomentar, ‘Oh.’ Habiss, itu bentuk covernya seperti Alquran. Akhirnya, teman saya yang mengambilkan Alquran untuk kami. Haha. P.S.: Seingat saya, itu buku catatan Pak Murabbi-nya.

6. Menjadi ajudan upacara. Saat itu kebetulan kelas 1 saya yang dipilih menjadi tim elemen upacara. Saya pun menjadi bagian ajudan; tahu kan ajudan? Itu tuh, yang ada di samping pembina upacara. Secara pembina upacara berdiri di hadapan para siswa, jadi saya juga berdiri di hadapan para siswa. Sebagai tambahan informasi, saya sedikit bangga tuh jadi ajudan; karena yang melatih itu salah satu kakak kelas cowok yang diidolakan seantero sekolah. Gyah.

Pada hari-H, saya lupa apakah saya sempat sarapan. Pendeknya, saat selesai tugas pemberian isi pancasila ke pembina upacara [tapi masih berdiri di hadapan semua siswa sekolah], saya mulai merasa ga enak badan. Saya tahu nih panggilannya, kalau saya biarkan bgini aja; bisa langsung pingsan. Tapi mw gimana lagi ya, uda ga ada excuse lagi. Argh, pusing tuh mikirnya.

Akhirnya, entah bagaimana, saya pun memberanikan diri untuk berbicara pada sang pembina upacara yang kebetulan wali kelas saya. Saya pun menyentuh beliau, dan berkata lirih menyatakan saya ga enak badan. Beliau pun, tanpa dengar perkataan saya, sudah tahu saya mau pingsan dilihat dari raut wajah saya yang pastinya pucat. Akhirnya, saya pun dibawa ke salah satu kelas di belakang kami. Saya pun langsung duduk dan berpangku tangan istirahat selama beberapa saat. Wali kelas datang lagi untuk memberikan minuman; baiknyaa…

Saat upacara selesai, kakak kelas yang melatih saya pun mendatangi saya. Beliau pun berkata, ‘Yah, payah.’ Saya hanya meringis dan berkata, ‘Ampun, Bang. Ga kuat tadi.’ Dan seingat saya, beliau menemani saya sampai bel berbunyi. Ups.

Saya kira cerita itu selesai begitu saja. Tapi, ketika saya masuk kelas; saya pun melupakan teman-teman saya. Satu kelas saya kan banyak. Jadi yang dipilih menjadi tim upacara, hanya sebagian. Sebagian lagi menjadi peserta upacara. Nah, yang menjadi peserta upacara pastinya benar-benar melihat saya di depan. Akhirnya, saat saya kembali ke kelas dan duduk; beberapa dari mereka memperagakan saat saya ada jadi ajudan tadi. Ada yang berperan jadi saya dan wali kelas. Sepertinya memalukan melihat saya diperagakan ulang seperti itu. Argh. P.S.: Peragaan itu berlangsung selama kira-kira satu minggu ke depan, saat istirahat atau ketika mereka sedang ingin iseng.

7. Menjadi penggemar sepakbola. Memang, di SMP saya belajar banyak. Perubahan besar adalah saat saya yang kelas 1 dan 2 berlangganan majalah cewek, saat kelas 3 malah berlangganan BOLA. Haha. Ceritanya begini, saya praktis lebih dekat dengan teman-teman cowok daripada dengan teman-teman cewek. Mungkin imbas dari kelas 1, saat saya yang awalnya menjadi musuh ‘preman’ tapi akhirnya menjadi teman dekat mereka. [Ini adalah sebuah fakta, yang saya baru sadar; bahwa berarti saya PUN menjadi salah satu dari mereka alias ‘preman’. Argh.]

Akhirnya, dari mereka lah saya belajar menyukai sepakbola. Kalau tidak salah, waktu itu masih zaman-zamannya Manchester United. Jadi, tiap abis tanding, pasti paginya dibahas. Sebelum tanding juga pasti dibahas. Serunya.

Tapi intensitas bertemu dengan teman-teman SMP sangat jarang. Entah mengapa, benar-benar putus kontak dengan mereka. Terutama dengan yang dekat. Padahal, masih di Bogor juga. Seakan Bogor luas sekali.

Advertisements

2 thoughts on “Nostalgila SMP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s