Analogi

Sebuah analogi tergambar ketika kerap kali menyamakan diri saya dengan seorang karakter di sebuah serial televisi, Desperate Housewives; Bree van de Kamp. Bree van de Kamp adalah seorang ibu rumah tangga yang sempurna; begitu dijelaskan dalam serial. Orang-orang melihat Bree cantik, rajin, high class; intinya sepertinya dream-wife.

Tetapi yang paling tergambar jelas dalam analogi saya; Bree perfeksionis. Dia bahkan tidak mau melihat satu lipatan pun dalam pakaian yang telah diseterikanya. Ouch. Dan, yang paling krusial; saking perfeksionisnya, dia tidak mau memperlihatkan kesedihannya di depan semua orang, bahkan para sahabat dan keluarganya.

Satu kata, wow. Itu hebat; karena bagi saya, menyimpan rahasia berarti menambah beban pada pikiran. Dan semakin banyak beban di pikiran, berarti puncaknya saya akan kehilangan akal pada akhir minggu. Trust me. Sewaktu SMA, seorang guru terdekat saya pernah ‘memuji’ saya di depan kelas. Dia berkata begini,

“Contoh Asri deh, dia tidak pernah stress; selalu gembira. Karena dia terbuka, tidak pernah menyimpan masalahnya sendiri.”

Hmm. Itu dulu, SMA. Karena memang, selalu saja ada orang/tempat saya menyalurkan permasalahan. Dan seperti orang asma, sebelum menyalurkan permasalahan, saya seringkali sesak nafas, tak bisa berpikir dengan baik.

Dan, menyalurkan masalah itu baik. Sebaliknya, menyimpan masalah hanya akan mendzalimi hati nurani. Saya termasuk orang yang open-minded; bahkan saya banyak menerima komentar rekan dan keluarga yang pernah membaca blog ini: seakan membaca pikiran saya. Bahkan beberapa rekan satu kampus sering mempromosikan blog saya untuk beberapa informasi lebih lanjut; karena saya mendetailkan setiap aspek kehidupan.

Tapi itu baik. Keluarkan saja, jika itu akan membuatmu lega.

Saya sering bertemu dengan orang-orang yang merasa dirinya sudah dewasa; seiring dengan umurnya. Bahkan, lebih tua dari saya. Dan kebanyakan dari mereka, masih mengaku ‘stress’. Saya hanya bisa katakan, ‘kok bisa?’. Kalian sudah mengenal diri kalian berapa lama sih? Seiring usia, seharusnya sudah tahu bagaimana solusi bagi diri sendiri yang tengah dilanda masalah. Saya sudah tahu, dan saya berani bilang; tidak ada stress yang melanda saya. Yeepee!

Tapi dengan catatan, penyaluran masalah itu secara total; jangan setengah-setengah. Kalau setengah, silakan stress lagi.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa saya seaneh ini; bagi beberapa orang. Bagi saya, bercerita permasalahan pada orang lain (baik sahabat, rekan dekat, atau lainnya) adalah sebuah seni. Seni mengenal orang, seni merangkai kata, seni mengatur emosi, seni mendengarkan opini orang, seni menghargai orang, seni dikritik jika memang trnyata menurut orang lain saya salah, seni menerima keadaan, dan seni memaafkan. Karenanya, saya berani bilang, bahwa mereka yang terbuka dengan masalahnya adalah orang-orang yang hebat, berani mengakui kesalahan, berani mengungkapkan masalah, berani untuk melihat keadaan, berani menyibak tabir permasalahan. Salute.

[Dibuat, hanya untuk para sahabat yang tengah dalam masalah. To those, who became my company since two days ago; thanks so much. To those, who caused this fragility of heart, I am trying to forgive. But these are so much that I have no idea what to do. I love you all so much, then I hate you all that much. This heart is so fragile that I have no idea to do for you, let ALlah Do the rest.]

Advertisements

One thought on “Analogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s