Ramadhan Sekarang……. [many possibilities]

Pertanyaan besar mengapa kali ini saya pribadi menghadapi Ramadhan dengan rasa yang membuncah. Alasan yang paling mungkin adalah beberapa minggu sebelumnya saya berkutat dengan artikel tentang Ramadhan; artikel buletin rohis kampus. Beberapa hari itu, saya memutar otak bagaimana bisa membuat sebuah artikel yang bagus sesuai dengan tema Ramadhan. Karenanya, saya pun menyelami arti Ramadhan itu, mau tak mau. Hasilnya, saya semakin mendalami makna Ramadhan. Dan, alhamdulillah selesai juga artikelnya.

Ternyata, menulis pun berimbas luar biasa. Saya semakin tersadari akan datangnya bulan suci ini. Tapi, mungkin sebelumnya, yang juga luar biasa, adalah dengan menghadiri Tarhib Ramadhan oleh seorang ustadzah yang luar biasa. Semakin mantab melangkah memasuki Ramadhan.

Tapi, mungkin juga karena diikuti dengan kedewasaan yang semakin mantap seiring terpaan hidup yang semakin susah. Benar, guru terbaik adalah pengalaman. Bagi saya, belum bisa mencapai IPK 3 koma 5 sebelum mencapai 2 koma 5. Bagi saya, belum bisa menjadi seorang pembicara sebelum menjadi pendengar. Life is about reflection. We are what we read, we are what we make friends with. Karenanya, dengan kedewasaan itulah saya menatap Ramadhan sebagai waktu spesial. Ramadhan IS special.

Setiap orang memiliki kesan masing-masing mengenai Ramadhan. Kesan saya adalah saat Pesantren Ramadhan sewaktu SMA dulu. Entah mengapa, euforianya nikmat sekali. Terasa banget Ramadhan. Mengapa yah? Mungkin karena ada beliau. Jadi ceritanya, saat saya masih kelas dua SMA, beliau sudah lulus. Ramadhan itu, kata guru saya, beliau hendak datang ke sekolah sewaktu pesantren Ramadhan (menginap di sekolah) untuk menjadi Murabbi. Saat itu juga, saya mulai menghitung waktu kedatangannya. Ahahaha. Lucu.

Walau terdengar aneh, tapi kejadian itu berbekas di hati saya. Benar kata orang, ketika memiliki kejadian menarik di masa kecil akan terus teringat sampai dewasa. Saya pun begitu. Begitu teringat akan Ramadhan, juga teringat akan masa-masa pesantren Ramadhan dulu. Dengan aksi curi-curi-pandangnya (maklum, belum ada hijab waktu itu), aksi memalukan dengan teman-teman aneh dan gila yang sangat kusayangi di depan beliau, sampai aksi perkenalan dengan orang tua. Haha. Mantan orang spesial saya, yang sekarang semoga sudah berada di jalan yang benar untuk menjadi orang spesial negeri ini, seperti mimpi kita dahulu.

Kenapa jadi flashback begini ya. Mungkin, karena sempat bertemu dengan teman-teman SD dan SMA (karena SD dan SMA saya satu yayasan) di facebook. Aduh, teman-teman kecil. Ada teman naik sepeda keliling kompleks rumah nenek, teman ngumpul-ngumpul bareng, sampai teman cerita-cerita. Jadi deh kena sindrom flashback. Teman-teman yang luar biasa; yang Insya ALlah sudah mencapai apa yang dulu dicita-citakan.

Satu hal lagi; mengapa Ramadhan identik dengan Raihan, bagi saya. Dahulu, saat pesantren Ramadhan SMA, ada perlombaan nasyid antarkelas. Kebetulan, selama dua tahun (kelas 2 dan 3 SMA) kelas saya setia dengan lagu Raihan, lengkap dengan marawisnya. Sebagai persiapan, otomatis kami sekelas latihan selama beberapa hari di rumah salah satu dari kami menjelang buka puasa. Karena sering latihan, lagu-lagu Raihan akhirnya meninggalkan kesan tersendiri. Kesan indah, nikmat tentang Ramadhan. Sekalipun lagunya bukan tentang Ramadhan.

SMA memang puncaknya kehidupan saya; saat saya belajar banyak tentang hidup. Belajar tentang menghargai teman, guru, mengambil posisi yang tepat dalam waktu yang juga tepat, belajar Islam, belajar menilai orang, belajar bertingkah laku sebagai wanita muslim, belajar bersikap tenang menghadapi suasana genting, belajar mengapresiasikan cinta dengan Islam. Semua itu, sekarang berguna untuk menghadapi hidup.

Saya sudah bukan lagi orang yang menuntut orang lain untuk mengajari saya, menuntut orang lain menunggui saya, atau menemani saya. Secara perlahan tapi pasti, sekarang berganti orang lain yang menuntut diajari oleh saya. Sekarang berganti saya berjalan ditinggal oleh teman-teman lama; sendiri di dunia yang mau tak mau mengharuskan saya untuk berpikir, berpikir, dan bertindak dengan porsi yang PAS.

Hidup adalah masalah waktu, bagaimana kita menggunakan waktu kita. Waktu yang katanya adalah uang; ternyata itu hanya pikiran orang-orang materialis. Seharusnya kita berpikir, time is priceless. Waktu itu lebih berharga daripada uang atau barang-barang lainnya. Ketika kita kehilangan waktu, kita akan merasa kehilangan hal yang paling berharga yang pernah kita miliki. Kalau interpretasinya masih uang, udah ketinggalan zaman. Apa sih yang sebenarnya benar-benar berharga bagi kita? Tanya hatimu.

Boleh jadi, terlambat. Tapi, saya akan menuliskan sepatah kata bagi rekan-rekan sekalian. Untuk teman-teman alumni SD Bina Insani Bogor, khususnya Angkatan 8; semoga jalan yang telah kalian ambil merupakan jalan yang terbaik bagi masing-masing. Khusus untuk teman masa kecil, yang sekarang menjadi anak salah satu menteri yang sedang mendapat guncangan: whatever he does, support him as your father. Semuanya, serahkan kepada ALlah. Untuk teman-teman alumni SMA  Bina Insani Bogor, khususnya Angkatan 8; semoga Ramadhan ini bisa bertemu kembali di sekolah. Saya sih, memang ke sana secara adik di sana juga. Tapi, semoga kalian juga. Yuk, sapa guru-guru; terutama guru yang diangkat menjadi kepala sekolah.

Untuk rekan-rekan pengurus MT Al-Khawarizmi; ukhuwah yang semakin mantap ini, mari jadikan semakin luar biasa. Insya ALlah, jika memang ALlah tujuannya, tidak akan ada yang bisa memecahkan tanpa izin-Nya. Untuk rekan-rekan redaksi Buletin ICON; boleh jadi edisi kali ini merupakan sebuah titik balik bagi kita untuk memproduksi hasil yang lebih baik. Koreksi, koreksi, koreksi; jangan pernah berhenti mengoreksi diri sendiri. Hanya dengan itu kita bisa mempersembahkan yang terbaik. Untuk sahabat-sahabat saya lainnya, di mana pun kalian berada; do the best. Sebagai sahabat, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian; keputusan tetap di tangan kalian. Ingin melihat orang yang saya kenal sukses di masa mendatang. Lebih banyak lagi.

Kemungkinan terakhir, mengapa Ramadhan ini begitu spesial bagi saya; adalah karena Insya ALlah ini merupakan Ramadhan terakhir yang akan saya habiskan di kampus bersama dengan para pengurus MT AL-Khawarizmi, yang saya cintai karena ALlah. Sungguh, sebenarnya hati ini sudah sedemikian damai kala silaturrahim antar kita terjaga. Apalagi, jika hal itu ditambah dengan suasana Ramadhan. Nikmatnya… Semoga Ramadhan ini dilalui dengan semangat yang luar biasa untuk menjaga ukhuwah dan menjaga iman masing-masing. Dari saya pribadi, saya akan menjanjikan totalitas. Kemudian, semoga Ramadhan ini diakhiri dengan semangat yang luar biasa untuk mengawali perubahan. Sungguh, negara ini butuh change agents yang tahan banting; seperti kita semua nantinya. Insya ALlah.

Advertisements

2 thoughts on “Ramadhan Sekarang……. [many possibilities]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s