Belajar Menulis – Menyelami Perasaan

Entah karena PMS atau bukan, yang jelas suasana hati saya hari ini kacau-meracau. Perjalanan dari kota hujan dimulai dengan terburu-buru karena saya ketiduran untuk kedua kalinya, baru bangun jam10 padahal harus mengejar kereta jam 10.46. Dengan panik, saya pun langsung mempersiapkan diri. Tapi, saat hendak menyiapkan barang-barang, saya terhambat dengan menghilangnya 1) tas laptop, 2) kunci sekre. Aduh! Tidak ada waktu lagi. Akhirnya, dengan menyebut nama Allah, saya pun berasumsi keduanya ada di kos di Jakarta. Alamat mesti ke sana dulu nih sampai Jakarta.

Saya akhirnya meninggalkan rumah tepat pukul 10.44. Jeng, jeng! Dua menit lagi, akankah… Dengan yakinnya saya tetap memanggil ojek sampai stasiun, yang jaraknya memang tidak terlalu jauh. Tapi di tengah jalan, saya pun kembali diuji-Nya. Kali ini, dengan terjatuhnya motor ojek! Ini kedua kalinya saya berbaring di jalan! Yang pertama meninggalkan trauma yang sedikit lama, entah yang kedua ini. Cerita jatuhnya tidak penting; hanya nabrak motor depan dan akhirnya kehilangan keseimbangan. Saya pun kembali menaiki ojek sampai ke stasiun, dengan pikiran yang masih panik.

Ternyata, saya diberhentikan di pintu belakang stasiun; which means berbarengan dengan orang-orang dari kereta Ekonomi yang baru tiba dari Jakarta. Itu orang-orangnya kan segambreng, banyak banget. Dan bukan hanya satu kereta, tapi dua kereta. Akhirnya, saya harus rela berdesak-desakan hanya untuk mencapai jalur tiga tempat kereta Pakuan.

Ceritanya, jadwal keretanya berubah. Yang tadinya pukul 10.46 jadi sekitar pukul 11.00. Alhamdulillah. Tapi, menurut sahabat saya yang kebetulan janjian berada di kereta yang sama hari ini, kereta uda penuh. Benar saja. Berdirilah saya, lengkap sudah.

Tapi, bertemu dengan sahabat lama memang selalu menyenangkan. Pagi hari yang dimulai dengan tidak enak itu pun akhirnya saya lalui dengan tawa dan canda bersama sahabat. Cerita-cerita, akhirnya tidak terasa sampai di stasiun Depok lama, yang berarti saya sudah bisa duduk di lantai dengan koran (secara kereta uda tidak berhenti menaikkan penumpang lagi). Tapi, cerita dengan sahabat pun berlanjut; dari mulai dia yang diganggu orang Papua di bus sampai cerita kuliah. Ah, indahnya silaturrahim.

Sampai di stasiun Kota, pukul 12.15. Sedikit panik, karena janji rapat jam 13.00. Sementara jarak Kota-BINUS lumayan jauh. Kenapa saya naik kereta Kota? Yah, karena janjian ama sahabat lama, sekalian emang lagi pengen jalan-jalan. Beginilah jadinya. Akhirnya kami menaiki M08 yang ternyata rutenya subhanallah muter2… Tapi alhamdulillah saya bawa The Alchemist-nya Paulo Coelho, rekomendasi dari seorang teman. Penat panasnya Jakarta terkalahkan dengan pengalaman Santiago.

Singkat cerita, saya tiba di rapat pukul 14.00; itu pun belum pakai shalat. Alhamdulillah, semua lancar-lancar saja. Tapi saya sama sekali tidak menduga kalau ternyata terjadi lagi konflik! Argh! Terakhir saya terlibat konflik saat rapat tahun lalu membuat saya nangis sendiri di kamar mandi, menyesal. Gini nih, orang yang tidak biasa marah. Sekali marah/kesal, gemetarnya minta ampun. Tapi gemetar setelah berlalu, kalau pas marahnya sih bisa ampuuun deh; ga kebayang kalau itu saya.

Tapi, konflik hari ini tidak sekeras tahun lalu; yang bener-bener kalau bisa diulang saya mau tidak mengatakan hal-hal seperti itu. Di depan ketua pula, duh! Alhasil, hari ini saya lebih baik mengalah. Tapi, bukan mengalah untuk kalah. Melainkan mengalah untuk sabar. Pernah denger kan, ketika kita bisa menahan amarah/argumen saat kita bisa menahannya, itu sungguh luar biasa. Semoga ada jalan lain yang lebih baik.

Jelas, sekalipun saya mengalah, hal itu merusak mood saya. Selanjutnya saya pun melaksanakan aksi diam; salah satu cara ampuh untuk meredam amarah/nafsu. Bahkan sempat membuat proposal acara tuh. Tapi di akhir rapat, malah saya ditunjuk ngasih tausyiah. Bagus.

Pulangnya, saya menyempatkan makan malam dahulu. Tapi saya bingung, sebenarnya saya lapar atau tidak. Benar saja, saat makanan dihidangkan saya malah mengantuk. Duh, tidak menikmati. Entah mengapa.

Saya pulang sengaja naik bus, agar bisa bareng dengan seorang teman yang ke Depok. Bus menuju kota hujan lumayan sulit dijangkau. Kalau sudah kehabisan yang di Slipi, harus rela dulu jauh-jauh ke UKI. Tapi, alhamdulillah saya dapat bus yang langsung, walau pakai angin semilir. Langsung deh, kemacetan malam ini dijadikan waktu untuk bertapa; muhasabah pikiran sambil memandangi Jakarta malam hari dan sesekali mengernyitkan hidung mencoba menghindari polusi.

Apa yang saya dapat adalah: benar kata Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Buru-nya, bahwa tidak akan ada seorang pun yang bisa mengerti manusia. Karena manusia itu beragam, memiliki berbagai macam pikiran, tingkat emosi yang berbeda, ide yang berbeda satu sama lain. JIka kita memaksakan kehendak mengerti manusia, kita bisa menjadi gila. Cukup mengerti diri kita saja, maka kita akan memiliki sebuah solidaritas bagi manusia.

Saya termasuk tipe pemberontak, tapi saya bisa luluh hanya dengan hal sekecil apapun. Misalnya nih, saya sempat terharu melihat supir angkot yang saya naiki sudah berumur tua luar biasa, tapi beliau masih semangat. Saya jadi berpikir dan sempat memposisikan diri di posisinya. Masalah segini saja, sudah patah semangat. Tapi lihat beliau, dengan segala keterbatasan materi, beliau masih semangat! Bahkan sempat tidak mau menerima uang saya; karena beliau tidak ada kembalian dan saya tidak diturunkan di tempat yang semestinya. Tapi, nurani saya menolak untuk tidak membayarnya. Akhirnya saya merogoh-rogoh tas dan menemukan dua lembar ribuan. ALhamdulillah, semoga memang rezekinya.

Lain lagi ketika saya ganti angkot terakhir. Jarak yang dekat, ditambah supirnya yang sadis (ngetem lamanya subhanallah saya anggap sebagai sadis, secara memang menyita waktu saya), malah mengembalikan uang 10ribu saya dengan 7500. Wah, saya langsung tahan. Saya katakan dengan tegas, “Ini dekat, bang! Biasanya juga dua ribu!” Entah ada kekuatan apa (karena saya baru sadar, si supir terlihat lebih preman daripada saya), beliau pun mengambil uang 500an dan mengasih 1000, sambil mendumel, “Itu namanya ga biasa!”

Yeah, right. Ngomong saja terus, toh saya yang menang. Hari ini pun, saya akhiri dengan senyum kemenangan. Mengapa? Karena siapa tahu, ada yang lebih berhak untuk memiliki uang ini. Saya tidak melihat usahanya sopir itu bisa seharga dengan 2500. Zaman kenaikan BBM ini, bukan hanya mereka yang susah; kita juga susah. Tapi, semakin kita pintar memanage material kita, semakin terbantu orang-orang yang memang membutuhkan. Istilahnya, sekarang mikir pakai OTAK, jangan pakai HATI!

F08072K8; 22.48 pm

Advertisements

2 thoughts on “Belajar Menulis – Menyelami Perasaan

  1. hmm sprtinya hari yang cukup melelahkan ya, jgn lupa tugasnya ya…

    “Ya Allah, berilah kami kekuatan untuk mengubah apa yang dapat kami ubah, keikhlasan untuk menerima apa yang tidak dapat kami ubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan keduanya…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s