Kecewa

Ah. Diri ini kecewa. Tapi sekaligus bangga; radhitubillahirabba wabilislaamidina. Saya ridho, karena saya muslim dan saya berada di tempat yang sama dengan para muslim lainnya di seluruh dunia. Saya terharu, melihat mereka semua dengan semangat berjalan menembus panas dan debu tebal di udara guna bersujud kepada-Nya langsung di depan baitullah. Saya juga senang, melihat mereka tersenyum senang karena akhirnya melihat bangunan yang biasanya hanya mereka lihat pada hamparan sajadah. Saya pun turut sedih, melihat mereka meneteskan air mata kerinduan, rindu akan bertemu dengan Rabbnya. Saya senang melihat mereka, rindu untuk bertemu dan disatukan kembali dengan mereka pada saatnya nanti.

Ah, Allah. Engkau yang mempunyai rencana. Engkau yang menentukan saya berada bersama mereka. Saya sedih melihat mereka begitu semangat, tapi saya yang notabene masih jauh lebih muda dari mereka tidak semangat. Karenanya, begitu melihat mereka, semangat saya terpompa jauh. Entah mengapa, terbawa euforianya. Selalu semangat, walau pilek dan ngantuk.

Pertama melihat baitullah… Hati saya bergetar tak karuan, langsung tunduk menangis. Bersyukur karena diberikan kesempatan ini, tapi juga penuh rasa rindu pada-Nya. Rindu yang sangat mendalam, rindu yang tak terkira. Tak dapat digantikan oleh apa pun. Saya tidak merindukan saudara-saudara di tanah air, keluarga; saya lebih merindukan Rabb saya, yang mencintai saya lebih dari siapapun juga.

Rasanya, hati, mata, dan pikiran saya pun berpendapat sama. Air mata tidak pernah berhenti mengalir, terus mengalir selama saya memutarinya. Bergetar, bersama dengan para muslim lain. Semua menangis, ya Allah. Semua rindu pada-Mu. Semua memohon. Saya pun memohon: agar bangsa Indonesia mendapatkan martabatnya seperti semula.

Tapi saya kecewa. Permintaan dalam hati saya selama berada di sana untuk memohon agar Engkau memanggil saya di tanah haram ini tidak Engkau kabulkan. Mungkin, Engkau masih ingin memberikan saya waktu agar bisa memperbaiki diri saya, atau bahkan negara saya.

Thawaf wada’… Yang paling tidak saya sukai, orang lain pun tidak. Saya kembali bergetar, rindu untuk kembali pada-Nya. Rindu pada-Nya, sangat. Sebisa mungkin, menghalau panas untuk bersujud pada-Nya. Lama sekali, kembali menangis merindukan-Nya. Dan untuk terakhir kalinya memohon untuk dipanggil. Tapi tak kunjung tiba panggilan-Nya. Setelah hati ikhlas meninggalkan Haram, saya pun meninggalkannya; sambil terlebih dahulu berazam untuk kembali membawa semangat yang lebih besar lagi.

Tempat paling menarik… Jabal Uhud di Madinah. Saya tak kuasa menahan tangis, tangis malu karena saya masih belum mencapai seperti para syuhada yang dikuburkan di sana. Tangis malu karena, selama ini saya kira saya sudah berjuang, mengaku lelah akan cobaan; tapi ternyata belum seperti para syuhada. Belum seperti mereka. Bergetar, membayangkan para muslim bertarung di tanah yang saya injak itu. Bergetar, membayangkan mereka memperjuangkan agama sedemikian besar. Saya apa? Mereka lebih berani dari saya…

Mari mengambil makna dari perjalanan ini. Saya semakin mencintai Rabb saya. Pertama tiba di tanah Haram Madinah, saya masih tidak terfokus sedang berada di mana saya. Melihat Masjid Nabawi yang tinggi menjulang, masih belum bergetar hati saya. Tapi setelah shalat shubuh, saya didatangi seorang ibu tua, yang entah berasal dari negara mana, yang kemudian memeluk saya dan memegang kedua pipi saya. Bibir tidak bicara, tapi mata berbicara banyak. Mungkin seperti ini, ‘Kamu berada di tanah Haram, maka sadarlah, buka hatimu.’ Dan terbukalah. Sepanjang jalan menuju hotel, saya menangis memohon ampun untuk diberikan kefokusan.

Pengalaman unik… Sewaktu sandal saya hilang dua kali di Nabawi dan Haram. Sewaktu di Nabawi, saya pede saja jalan tanpa sandal, karena suasana juga sudah gelap bada ISya. Tapi, begitu melihat warung yang menjual sandal, langsung ke sana dan membeli satu. Ha. Satu lagi, sewaktu di Haram. Kebetulan bukan hilang, tapi memang dibawa salah satu jamaah juga dan belum sempat ketemu beliau. Akhirnya, saya pun pulang thawaf dengan kaki telanjang (pake kaos kaki lah). Tapi bedanya, di Haram saat itu tengah panas menyengat bada dzuhur. Benar saja, lantai di luar Haram, subhanallah, panasnya. Tapi saya berusaha menikmati sambil lari-lari kecil menuju tempat tidak panas. Ah, rindu sekali. Rasanya, apapun yang dilakukan begitu ikhlas, sekalipun panas.

Catatan kecil sebelum check out; Business Centre, Red Sea Palace Hotel, Jeddah; 11.35 am

Advertisements

5 thoughts on “Kecewa

  1. Rindu… akan sebuah daerah yang aman dan damai seperti di Tanah Haram Mekkah atau Madinah..

    Rasanya bedaaa banget ketika berada di Indonesia lagi, entah mengapa. Serasa hati saya tertinggal separuh di sana…*

    *bukan hiperbolis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s