Pamit…

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Sulit, meninggalkan tanah air ini. Walau saya terus mencaci maki, tapi itu hanyalah sebuah hasrat untuk melihat Indonesia menjadi lebih baik dari INI. Kapan? Kapan Indonesia bukan disebut sebagai negara koruptor sedunia? Kapan saya bisa merasa nyaman berinteraksi dengan instansi pemerintah? Kapan saya tidak mencaci maki ibu pertiwi lagi?

Hah. Malam ini menjadi malam penuh renungan bagi saya. Sebelumnya, pada siang hari ini, saya sempat menangis meraung-raung karena menyaksikan sebuah dokumenter tentang rangkuman fakta yang hinggap di Indonesia. Ah, semakin ku menyadari bahwa tugas generasi muda sekarang berat sekali. Selain harus membawa hutang sejak lahir, kami pun harus memperjuangkan Indonesia agar masih utuh sampai saya memiliki cucu…

Klise? Saya berani berkata: TIDAK, ini bukan klise! Kalau terus menerus berpikir bahwa Indonesia tidak akan berubah, maka ya Indonesia tidak akan berubah. Tapi saya optimis, INDONESIA AKAN BERUBAH! Pasti.

Saya bukan seorang nasionalis, rasa cinta saya kepada tanah air masih belum membuat saya memakai produk dalam negeri. Tapi, apa yang saya pedulikan adalah masyarakat di sekeliling saya. Siapa yang akan peduli pada mereka? Berhenti menggantungkan harapan hanya pada pemerintah. Ujung-ujungnya yang terjadi hanyalah fitnah yang belum tentu benar. Saya tidak berniat membantu negara ini melalui pemerintah. Kebanyakan mereka melupakan hati nurani. Saya masih belum mau kehilangan hati nurani saya.

Pamit
Kembali ke topik utama. Saya hanyalah manusia biasa, yang terkadang menumpahkan pemikiran dalam tulisan tanpa mengeditnya terlebih dahulu. Ketika saya meninggalkan tanah air, saya hanya memohon satu pada Anda: maaf. Maaf, pada pihak yang pernah tersinggung akan apa yang saya tulis. Saya masih seorang penulis pemula, masih banyak belajar: belajar menumpahkan pemikiran tanpa menyakiti perasaan orang lain.

Maaf pada keluarga saya, rekan-rekan MT Al-Khawarizmi BINUS, rekan-rekan Sastra Inggris BINUS (mampir dong sekali-kali), rekan-rekan litbang MI, rekan-rekan SMA BIna Insani, serta rekan-rekan lainnya yang saya jumpai tak sengaja.

Setiap pertemuan akan ada perpisahan. Jika ini merupakan tulisan terakhir saya, simpan saja. Jangan diambil hati. Tetapi jika Dia masih berkenan saya kembali ke tanah air, nantikan laporan perjalanan saya. :p

Best regards untuk kalian para mahasiswa, calon pahlawan yang akan dicetak di buku-buku sejarah di tahun-tahun yang akan datang. Mari mengubah diri kita sendiri, sehingga kita bisa mengubah Indonesia. Bahkan dunia…

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

4 thoughts on “Pamit…

  1. “I have dreamed of a unified Japan, our country, strong, independent, anda modern, now we have railroads, cannon and western coat, but we cannot forget who we are, and where we come from” (meiji), ingat dimanapun berada jangan lupa dengan negara kita (apa hubungannya sih?), yasudah lah semoga selamat, lancar, berhasil, (apa lagi yah), doakan saudara2 yang masih berada di sini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s