Tanggung

Saya merasa saya seorang perempuan tanggung. Tahu mengapa? Saya bergabung dalam sebuah organisasi dakwah kampus, tapi sehari-hari saya masih belum menerapkan syariat Islam. Saya yang katanya aktivis dakwah kampus, tapi sehari-hari mendengarkan lagu-lagu yang dengan beat tinggi (dan yang jelas bukan nasyid dan semacamnya).

Cukup berat? Contoh simpel, saya yang merupakan seorang perempuan, terkadang ingin melepaskan beberapa tuntutan zaman pada perempuan. Orang bilang itu emansipasi wanita. Orang bilang itu berasal dari barat.

Ah, semua salah. Semua yang saya lakukan tanggung. Jika memang saya seorang aktivis dakwah, mengapa masih berperilaku yang tidak menunjukkan kredibilitas aktivis dakwah? Terkadang saya iri dengan keadaan organisasi di zamannya senior-senior saya, yang masih kuat ukhuwah dan suasana islaminya. Mungkin zaman sudah berubah, atau saya yang salah. Hak saya memang untuk mendengarkan lagu apapun, atau berperilaku seperti apa pun. Tapi, apakah saya bisa seenaknya saja dengan membawa nama Islam di punggung saya? Insya Allah tidak. Saya bisa seenaknya, tapi dengan Islam; seriously.

Perempuan. Dikatakan sebagai salah satu alasan kenaikan dan kehancuran martabat sebuah negara. Sebesar itukah? Ah, tidak juga. Bahkan buruknya, jika semakin dianggap penting, perempuan akan ngelunjak, membangkang. Tetap saja tetapkan apa yang memang harus ditetapkan, perempuan ya perempuan; tapi jangan dianggap terlalu lemah maupun terlalu kuat.

Advertisements

7 thoughts on “Tanggung

  1. gak usah khawatir, kan aktivis kampus bukan aktivis thaliban..heh..hmmm..setiap generasi adalah produk zamannya sendiri2..selamat berjuang..hmm

  2. ayo berusaha, tidak ada kata tanggung, semuanya adalah bagian dari usaha kita
    “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah : 208)

  3. Saya setuju dengan Bung Iqbal yang mengambil panutan dari Qur’an sebagai petunjuk hidup.

    Namun ada suatu kondisi yang harus kita pahami … pilihannya bukan masuk atau tidak masuk. Kita harus tetap masuk … tidak ada pilihan lain.

    Nah di kondisi ini … kita harus menentukan arah kita selanjutnya … mau sampai sedalam mana kita masuknya. Yang pasti, kita tidak akan pernah masuk sampai ederajat dengan Nabi kan.

    Mengeluh adalah suatu godaan negatif untuk berputar balik.

    Hayuuu … maju terus pantang mundur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s