The Family Stone: Ironis

Ingin melihat sebuah film yang mempermainkan perasaan penontonnya? Ya, here it is. Film ini memiliki plot cerita yang biasa, sebenarnya, yaitu tentang seorang wanita (Meredith) yang hadir ke keluarga besar pacarnya (Everett) yang kebanyakan dari mereka tidak setuju dengan hubungannya. Meredith, akhirnya beberapa kali dipermalukan oleh anggota keluarga Everett sehingga akhirnya dia memutuskan untuk menginap di hotel saja.

Hal yang aneh adalah ketika datang salah satu adik dari Everett (Ben) dan adik dari Meredith (Julie). Saya sedikit curiga kenapa ada sedikit slow motion ketika Meredith bertemu dengan Ben dan Everett bertemu dengan Julie. Tapi, saya tidak sampai mengambil pemikiran serius. Saya terjebak oleh plot normal lainnya. Setiap menonton film tipe seperti ini, akhirnya bisa dikatakan adalah ketika keluarga Everett menerima Meredith dan mereka bahagia dalam pernikahan keduanya. Tapi ternyata film ini mengatakan lain.

Sungguh mengejutkan, ketika yang terjadi adalah Everett bersama dengan Julie sedangkan Meredith malah bersama dengan Ben. See? How complicated. Rumit, tapi menarik sangat. Unik, jarang terjadi sebelumnya.

Tapi, bukan cuma unik. Dengan perubahan pasangan seperti itu, saya tidak begitu suka; sebagai penonton. Unik, tapi terlalu mengambil sisi unik. Saya, yang sejak pertama kali tertanam dalam pikiran tentang Meredith yang akan menikah dengan Everett, sangat tidak suka dengan perubahan ini. Itu merupakan perubahan yang bisa berdampak besar terhadap pemikiran penonton, and it’s not that simple. LIhat saja, dalam hubungan Everett dan Meredith, tiba-tiba Julie datang dan bertingkah baik pada Everett. Aneh, terutama pada Everett, yang pendiam dan saya kira sangat mencintai Meredith. Tiba-tiba, hanya dengan kehadiran Julie, dia langsung jatuh cinta padanya. Begitu cepat.

Seharusnya perubahan seperti ini terjadi secara perlahan, dalam novel lebih bagus. Tapi, film ini terkesan menggambarkan perubahan itu secara terburu-buru, yang malah meninggalkan kesan kasihan kepada Meredith (sekalipun dia mendapat Ben).

Dan, Meredith is another story. Saya pikir, Meredith-lah tokoh utamanya, karena dia yang secara keseluruhan sudah muncul dari awal sampai akhir dan mengalami perubahan yang besar. Jadi saya heran mengapa malah adiknya, Julie – yang notabene baru datang kira2 spertiga akhir CD1 – yang menjadi tokoh utama.

Jadi, ironis sebuah kata yang tepat. Ironisnya sebuah fakta tentang cinta seorang pria pada wanita kemudian beralih kepada adik wanita itu. Lalu, ironisnya sebuah fakta tentang menderitanya seorang wanita yang tidak disukai keluarga calon suaminya. Dan, ironisnya sebuah fakta tentang cinta… Begitu mudahnya dipermainkan.

Advertisements

3 thoughts on “The Family Stone: Ironis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s