Ternyata ORDE BARU yang Membuat Saya Seperti Ini

Seringkali saya bertanya-tanya, mengapa saya memiliki watak seorang pemberontak (dalam arti yang lembut). Seringkali saya heran, karena bahkan di keluarga saya pun tidak segitu-gitu amat. Tanda tanya besar selalu muncul dalam diri saya; apakah saya? Mengapa pikiran saya begitu liar mengembara ke mana-mana tanpa memikirkan waktu sementara sekeliling saya tetap berada di tempatnya? Rupanya, saya baru menyadari mengapa.

Adalah kakek saya, kebanggaan saya. Dahulu, saat beliau masih hidup, saya sempat tinggal bersamanya dan nenek selama tiga tahun tanpa orang tua. Karenanya saya bisa dibilang dekat dengan mereka. Dan karenanya pula, saya pun merasa kehilangan yang sama seperti anak-anaknya saat beliau meninggal.

Tapi, cerita ini baru saya dengar kemarin, dari mama. Cerita bahwa kakek dulu adalah mantan TNI letnan kolonel yang hebat dan pejuang sejati. Singkat cerita, saat mereka sekeluarga berada di Makasar, rezim orde baru sempat menciduk kakek yang diduga termasuk pihak PKI. Selama 10 tahun beliau dipenjara. Mama dan keluarga yang ditinggal pun hidup tanpa beliau selama itu. Diceritakan pula bagaimana perubahan yang terjadi dalam keluarga; yang dulunya mendapat berbagai fasilitas dari jabatan kakek dan hidup berkecukupan menjadi tidak memiliki apa-apa. Saat kakek dipenjara, jabatannya memang dicopot paksa.

Saya merasa sedikit terpukul. Keadaan rezim orde baru yang selalu menjadi pertanyaan dalam benak saya ternyata buktinya berada dalam keluarga saya sendiri! Saya tidak berhenti untuk bersyukur karena bukan saya yang berada di posisi mama saat itu. Bayangkan saja, satu-satunya anak perempuan di keluarga dan harus menyaksikan bapaknya ditangkap dan masuk penjara.

Apakah kakek memang seorang PKI, saya tidak bisa mengatakan karena pastinya saya akan membela beliau. Tapi sejauh yang saya tahu, kakek ditangkap karena berhubungan dekat dengan simpatisan PKI – kakaknya. Ceritanya, saat itu sangat perih terdengar. Setiap orang yang tidak satu haluan dengan orde baru, ditangkap, diasingkan.

Mama juga menceritakan betapa perih hidup mereka sekeluarga saat itu. Kakek dipenjara, tinggal nenek dan lima orang anak hidup dalam segala keterbatasan. Karenanya merupakan sebuah anugerah dan hidayah yang besar karena sekarang lima anaknya hidup berkecukupan. Allah memang adil dalam setiap urusan hamba-Nya. Trauma masa kecil seakan-akan tergubris secara langsung oleh sang waktu. Buktinya, setelah dua-puluh tahun tersinggung bahwa mama sekeluarga pernah tinggal di Makasar, tidak pernah sekalipun mereka menyebutkan bahwa kakek pernah dipenjara karena orde baru.

Mungkin ini mengapa mama sekeluarga tidak ada yang memasuki politik. Mungkin juga ini alasan mengapa saya tidak mendapat restu untuk masuk fakultas hukum dan/atau sospol, yang tadinya sempat menarik minat saya. Dan mungkin ini juga alasan mengapa saya tertarik dengan politik dan antek-anteknya… Karena keluarga saya pernah menjadi korban

Ah, teringat kenangan bersama kakek. Beliau yang diceritakan merupakan seorang yang kuat dan gigih, sekalipun sudah tua. Dulu, rumah pertama keluarga saya diurus oleh beliau. Beliau yang selalu ingin membahagiakan cucunya (yang saat itu baru saya dan beberapa orang). Dulu, saat saya iseng mengatakan mau berenang, beliau langsung mengiyakan. Nenek heran, apalagi saya. Tapi akhirnya kami pergi juga berdua, senangnya. Tapi beliau juga pernah benar-benar tegas. Waktu itu saya iseng mengganggunya saat sholat. Selesai shalat, waah, saya dimarahi habis-habisan. Bahkan sebelum dimarahi saya langsung kabur dan bersembunyi…

Saya sedih sekali membayangkannya. Kakek saya yang sangat saya cintai… Orang yang benar-benar ingin saya ajak diskusi tentang berbagai masalah saat ini. Sayang sekali, beliau tidak sempat melihat saya besar dan dewasa. Tidak sempat berbagi pikiran dengan beliau. Tapi, saya akan berusaha sekuat mungkin untuk membuatnya bangga pada saya. Sebangga saya padanya…

Advertisements

2 thoughts on “Ternyata ORDE BARU yang Membuat Saya Seperti Ini

  1. Semoga kakek antum mendapatkan balasan kebaikan dari Allah atas perlakuan yang tidak adil oleh pemerintah pada saat itu. Antum sbg cucunya adalah buah investasi beliau di alam akhirat bila antum istiqamah menjadi anak yang sholeh. Amal jariyah bagi beliau.

    Cerita antum jg sama dialami oleh kakek ana. tp bedanya kakek ana bukan seorang tentara, tp seorang penjahit. Beliau dipenjara beberapa tahun karena dituduh terlibat PKI coz ketahuan pernah menjahit atribut-atribut PKI (baju, spanduk, syal, dll)… Itu semata-mata karena namanya jg cari duiit. Beliau kerjakan profesional sbg tukang jahit. Ada pesanan yah beliau jahit.
    Yah Alhamdulillah keluarga dari nenek pada bantu, ayah dibesarkan oleh keluarga Kaka Nenek. Ayah sebenarnya gak pernah cerita, tp ana diceritakan oleh tante waktu ana kecil.

    Orde baru banya suka dan duka yah… tp kayaknya banyak duka yang ditinggalkan oleh orde baru. Betul gak? Semoga segala jasa pemimpin orde itu dibalas oleh Alloh dan segala kesalahannya diampuni. Dan orang-orang yang merasa teraniaya pada masa itu mendapatkan rahmat dan ampunan berlipat ganda dari Alloh… Amiiiiiiin.

  2. Yah, begitulah..

    Saya tidak mw trlalu saklek sperti Soe Hok Gie; yang pastinya ingin langsung mengganyang orde baru.. Toh, sang mantan penguasa itu sudah kembali ke hadirat-Nya. Semoga Allah menepati janji-Nya, seperti biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s