MUI Dibubarkan? Wajarkah?

indon.gifMUI sebagai wadah persatuan para ulama di Indonesia; yang juga bisa dikatakan menjadi sebuah wadah persatuan umat Islam Indonesia, baru-baru ini disinggung untuk dibubarkan oleh pihak-pihak editorial Tempo. Alasannya, karena mereka dinilai tidak bisa menilai sebuah sekularisme dalam Islam di Indonesia. Bagi mereka, sekali tidak sesuai dengan ajaran agama Islam yang benar, maka ajaran itu sesat.

Fatwa sesat menjadi masalah, dan kerap kali orang-orang seperti saya, yang tidak memiliki pengetahuan mendalam mengenai Islam, menjadi korban dengan diombang-ambingkan dalam sebuah kebimbangan. Sebuah kebimbangan akan keadaan agama yang semakin lama semakin bervariasi. Seakan, sisi kreativitas menyentuh segala aspek dalam kehidupan, termasuk agama.

Bagi saya, Islam tetap satu; tak peduli berapa macam aliran yang ada di dalamnya. Dan itulah yang tidak bisa diterapkan oleh MUI: kesatuan umat Islam. Fakta yang terbaru: golongan Ahmadiyah, yang dicap sesat oleh MUI sejak 1980. Hal yang menjadi masalah adalah ketika sebagian masyarakat melakukan kekerasan kepada beberapa pengikut Mirza Ghulam Ahmad ini dengan mengatasnamakan Fatwa Sesat MUI.

Jadi sekarang, di manakah fungsi persatuan Islam dari MUI? Jelas, MUI tidak berhak mengadili warga yang berbeda dengan keyakinan umat. Memang beberapa aliran kerap mengerikan saya; misalnya saat ada yang mengaku sebagai malaikat Jibril atau kerennya Lucifer. Saya bingung, mau tertawa atau kesal. Atau baru-baru ini, tentang munculnya rasul baru. Hal-hal seperti ini memang diperlukan sebagai penyadaran masyarakat, bahwa ada aliran-aliran seperti itu. Dan juga sebagai refleksi agar masyarakat waspada dan awas.

Pertanyaannya, bagaimana jika masyarakat memang setuju aliran tersebut? Apakah lantas diserbu atau dirazia karena tidak sesuai dengan ajaran Islam tanpa memandang hak asasi manusia? Hal yang juga membingungkan saya; mengapa NII justru tidak digembar-gemborkan seperti Ahmadiyah? Seperti ini, atau saya yang memang tidak terlalu memperhatikan, mungkin. Bagi saya, justru NII yang paling seram, karena merusak generasi muda Islam.

Kembali ke topik. Menurut saya, MUI tidak perlu dibubarkan; sebatas untuk pemberitahuan mengenai keislaman dalam negara. Juga sebagai jembatan penghubung antara ulama dengan pemerintah. Itu masih perlu. Tapi jika dipertanyakan mengenai fatwa sesat… saya sendiri bingung, apakah memang adil jika melihat hanya dari sisi MUI saja. Wa’allahualam bishowab. Tapi bagi saya, take it easy. Semua ada solusinya. Selama kepercayaan saya tidak diganggu gugat, silakan.

Bukannya egois, tapi mau bagaimana lagi? Daripada mengumbar kata-kata sok karena saya juga bukan pakar masalah ini, lebih baik diam. Silence is golden.

Advertisements

5 thoughts on “MUI Dibubarkan? Wajarkah?

  1. “Orang-orang Yahudi telah berpecah menjadi 72 golongan. Orang-orang Nashroni berpecah menjadi 72 golongan. Ummatku akan berpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka, kecuali satu”. Mereka (para sahabat) berkata, “Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang berada di atas sesuatu yang aku dan para sahabatku berada di atasnya”. HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2641), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (444), Ibnu Wadhdhoh dalam Al-Bida’ wa An-Nahyu anha (hal.15-16), Al-Ajurriy (16), Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu’afaa’ (2/262/no.815), Ibnu Nashr Al-Marwaziy dalam As-Sunnah (hal.18), Al-Lalika’iy dalam Syarh Al-I’tiqod (147), dan Al-Ashbahaniy dalam Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah (1/107). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy Al-Atsariy dalam Basho’ir Dzawisy Syarof (hal.75), cet. Maktabah Al-Furqon, UEA.

    Itulah kenapa kira harus mengingatkan mereka-mereka yang menyimpang. Tentu kita tidak mau sodara-sodara kita mengikuti jalan selain jalan kebenaran.
    Memang kadang ada beberapa kelompok yang melakukannya dengan kekerasan, dan saya juga tidak setuju dengan cara tersebut. Pendekatan yang baik sangat diperlukan. Dan MUI harus dipertahankan, bahkan diperbaiki!

  2. adithbodong says:

    asw.
    waduww..bahaya niy. yg namanya sesat adalah sesat. dan fatwa itu memang dikeluarkan oleh lembaga berwenang. MUI tidak sembarangan menyatakan sesat aliran tertentu. Mereka adalah orang yg capable dan mengerti Islam scr mendalam. Kita sebagai orang awam, jgn menjudge yg sebenernya kita blm paham betul. MUI terdiri dari ulama-ulama yg mempunyai jam terbang tinggi.
    Hati-hati terhadap gembar-gembor yg dilontarkan media. krn media di Indonesia dikuasai pihak liberal dan asing.mereka suka menyimpangkan sesuatu yg hak(bnr).
    Lihat AL Quran klo msh percaya Al Quran bahwa di surat Al Fatihah yg disebut induknya AL Quran, ayat 6 : Allah memerintahkan kaum muslim untuk berdoa “ihdinash shirothal mustaqim” (Tunjukilah kami jalan yang lurus!). Jelas, dlm surat Al Fatihah disebutkan, ada jalan yg lurus dan jalan yg tdk lurus, tidak semua jalan lurus dan benar. Ada jalan yg bengkok dan ada jalan yg sesat. Salah satunya Ahmadiyah, yg jelas2 dlm Al Quran disebut nabi Muhammad SAW adalah rasul terakhir, tidak ada nama Mirza Ghulam Ahmad dlm Al Quran. dan tidak ada kitab suci lain setelah Al Quran, yg dlm Ahmadiyah ada yg namanya tadzkirah.
    Jadi kita hrs waspada dgn hal ini. wajar saja MUI mengatakan Ahmadiyah sesat, dgn bukti2 yg ada dan saya jelaskan diatas slh satunya.
    Dan dalil lg yg kuat adlh pedoman umat Islam adalah Al Quran, Al Hadist dan ijma(pendapat ulama). klo kita udh ragu akan ulama, brarti kita ragu pula dgn Al Quran. Ulama adalah pewaris nabi, klo kita sdh tidak percaya dgn MUI apalagi ingin membubarkan, brarti kita tdk percaya dgn nabi. Krn itu td, ulama adalah pewaris nabi.
    Dan yg dbilang td demi sekulerisme agama di Indonesia, MUI juga sdh menyatakan Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme SESAT. Islam adalah agama rahmatan lil alamin (rahmat semesta alam). Islam digunakan sebagai pedoman dlm tiap perspektif dan aspek kehidupan. tidak bs dipisahkan antara dunia dan akhirat.
    wallahualam bishowab. mdh2an bermanfaat dan hati kita ttp lurus.wass

  3. orang awwam banget says:

    hayooo, jangan bilang semua yang sesat juga islam….belajar lagi dehh…jgan keburu publikasi…banyak yang kaget ni baca tulisan antum….afwannn yaa…dan nasehat diatas ana rasa cukup dulu untuk antum pahamin…afwannn..

  4. Ehem
    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Jujur, sebenarnya saya bingung sekali. Saya menulis tidak hendak menggugat aliran sesat ataupun menggugat MUI. Atau pun membahas aliran-aliran sesat yang tengah beredar di kalangan masyarakat. Saya hanya mengutarakan opini perkembangan dari editorial TEMPO, yang sebenarnya bukannya hendak membicarakan AGAMA ISLAM (dengan pembahasan yang benar-benar rumit tentang hadits dan sebagainya), tapi hanya membicarakan bagaimana sikap saya menghadapi aliran sesat.

    Bagi saya, sebanyak apapun aliran-aliran di luar sana, hati saya sudah mantap akan satu tujuan: ALlahu Ghayatunna. Makanya saya bermaksud tekankan dalam tulisan di atas, bahwa saya menyikapi aliran-aliran itu dengan sikap yang LEBIH DAMAI daripada ormas-ormas Islam atau MUI.

    Dan, bukannya menganggap semua yang sesat itu ISLAM. Saya tidak menulis seperti itu atau tidak bermaksud untuk menyiratkan maksud itu. Coba dibaca ulang lagi. Terkadang, pelaku sastra seperti saya seringkali mengungkapkan fakta di balik keindahan kata-kata; sehingga banyak yang sering salah paham.

    OOT. Melihat tulisan Anda lagi (@orang awwam banget), saya rasa saya kenal bahasanya. Ini adalah sebuah ungkapan pendapat. Dan, jika Anda memang salah mengerti, berarti juga Anda salah mengerti saya. Saya kecewa, sebenarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s