Encore!

Encore adalah ungkapan bahagia fans ketika band favoritnya kembali ke panggung untuk penampilan terakhir di konser. Istilah kerennya dari frasa, “We want more!” Berikut adalah sepenggal pengalaman saya yang saya kategorikan sebagai pengalaman aneh karena terulang kembali. Tapi, tidak seperti fans yang tengah bahagia, saya tidak akan meneriakkan Encore! untuk kejadian-kejadian ini…..

Terjatuh di lubang yang sejenis

DUH. Satu kata yang pas. Saya hanya tidak habis pikir bagaimana saya bisa mudah sekali jatuh. Oke, ada dua kesempatan di mana saya memang harus melewati jalan dalam gelapnya malam. Kami menyebutnya Jurit Malam, dilaksanakan sekurang2nya satu tahun sekali. Tahun ini dan tahun sebelumnya saya masih ikut menjadi peserta dan saya pun dengan sukses………. terjatuh di lubang! Oke, istilah kerennya: kecebur got.

Cerita setahun yang lalu sedikit aneh. Mungkin karena suasana gelap yang mendukung karena saya mengetahui mata saya sedikit tidak bisa fokus di kegelapan. Dalam kegelapan malam (yang benar2 gelap), saya menyusuri jalan setapak sambil memegang teman di hadapan saya. Really, I hate darkness. Biasanya, kalau gelap saya sering melihat yang-aneh2. Tapi masalahnya, yang-aneh2 itu masih nyambung dengan suasana. Misalnya nih, di kegelapan itu tiba2 saya melihat ada sepetak jalan di samping saya. Jadilah saya memilih berjalan di jalan di samping saya itu, supaya bisa berjalan berdampingan dengan teman saya.

Tapi ternyata eh ternyata, itu bukan jalan. Melainkan…. got! Dan kaki saya pun sukses mendarat di got, yang untungnya hanya tinggi sebetis saja. Hal ini juga berimbah pecahnya kesunyian malam itu dengan teriakan saya.

Cerita tahun ini sama sekali tidak terduga. Kali ini gelap sama sekali, bukan hanya karena suasana malam, tapi juga karena saya diharuskan menutup mata. Saat itu, saya pun pasrah saja. Sama sekali tidak memikirkan got. Saya pun serius mengikuti acara sambil bertasbuh memuji-Nya. Berjalan selangkah demi selangkah mengikuti seutas tali rafia. Di hadapan saya terdengar teman saya yang sepertinya melangkah ke dalam air. Teringat empang yang berada di dekat situ. Saya hanya pasrah, jikalau memang benar diterjunkan ke empang.

Saya pun melangkah kembali. Seingat saya, saya hanya diminta terus melangkah. Saya pun melangkah….. sampai tiba-tiba kaki kanan saya yang berada di depan tidak mendapatkan tanah yang landai. Alhasil, turun terus sampai menapaki air. Ampuun, ya Allah. Saya yang memang takut ketinggian mau tak mau kembali memecah kesunyian dan kekhusyukan malam itu dengan teriakan merana. Kaki kanan saya memimpin diri saya jatuh ke sebuah got yang dalamnya hampir sedada saya (beruntung airnya hanya se-matakaki), tali rafia yang tengah saya pegang pun putus. Saking kagernya, tungkai kanan saya menabrak dinding got dengan keras. Sukses menimbulkan benjol berhari-hari.

Anehnya, dua kejadian ini selalu diiringi dengan teriakan.

Telepon aneh bin ajaib

Kejadian yang benar-benar aneh! Sudah dua kali pula kejadiannya; sama2 melalui telepon, sama2 memakai nama dan identitas saya, tapi beda tempat dan beda orang.

Telepon pertama merupakan laporan dari seorang perempuan yang satu kelas dengan saya saat kelas satu esempe. Saat itu kami benar2 baru kenal, tapi sudah satu bangku. Kalau tidak salah, namanya Yulia. Kami sama2 dipilih jadi seksi kelas: saya seksi keamanan dan dia seksi kebersihan. Kemudian suatu hati dia bertanya pada saya, ‘Sri, tadi malem nelepon gue, ya?’

Saya pun heran, karena memang belum tahu nomor telepon rumahnya saat itu. Dengan yakin dan santai, saya pun menjawab, ‘Enggak.’

Kemudian, betapa kagetnya saya karena berikutnya dia malah menyahut dengan ketus, ‘Ah, enggak usah bohong! Gue tahu banget itu elo, itu suara elo! Lagian emang ngaku seksi keamanan! Lo iri ya gue jadi seksi kebersihan? Lo enggak suka? Kalau enggak suka, bilang dong, jangan kayak gitu.’

Pembaca yang budiman, demi Allah subhanahu wata’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, saya menyatakan bahwa saya tidak pernah melakukan telepon itu. Apalagi berkata seperti itu (walaupun tidak tahu juga di telepon orang itu ngomong apa lagi sampai Yulia marah begitu). Sebal, baru masuk udah difitnah seperti itu.

Itulah akhir pertemanan kami. Saya pun pindah duduk ke belakang dengan teman sebangku yang berbeda.

Kejadian yang kedua lebih aneh lagi. Ceritanya beberapa minggu yang lalu, saat saya masih dikejar2 agen Wall Street Institure. Heran, anak sastra inggris diajakin masuk les inggris. Bukan cuma salah alamat, tapi juga kepedean banget saya mau masuk tempat les mahal begitu. Jadi ceritanya, orang di telepon itu (namanya Aril) meminta saya untuk datang ikut Placement Test di WSI pusat di Ratu Plaza. Nih orang kayaknya niat ngajak saya karena saya bilang pernah ke Delta di Ratu Plaza. Padahal saya cuma basa-basi, karena yang ke Delta waktu bukan saya tapi adik saya. Huh, gini deh resiko basa-basi.

ATau mungkin juga karena di awal telepon saya menjawab dengan nada riang gembira. Maklum, saat itu dosen nyebelin Entrepreneurship sedang diganti dengan dosen yang cuek; bahkan saya keluar-masuk kelas beliau biasa aja. Kayak begitu, gimana enggak menjawab dengan riang gembira?

Alhasil dia terus mengejar saya untuk Placement Test. Saya janjikan satu hari, tapi kemudian lupa. Dia telepon lagi, terus minta janji. Saya janji lagi, tapi kemudian benar2 tidak bisa. Dia telepon lagi, minta janji lagi. Saya janjikan hari Jumat, tapi ternyata kebetulan ada acara. Kemudian dia tidak menelepon. Saya pun mengira dia sudah lelah dua kali menghadapi saya. Lalu, saya pun tenang2 saja menghadapi hari.

Hari Sabtu, lewat. Hari Minggu, tiba2 ada telepon dari nomer Jakarta, yang saya kira seseorang yang penting. Ternyata, ‘Halo? Mbak Asri, ini Aril dari Wall Street Institute.’

Saya pun salah tingkah. Mengapa saya angkaaaat?! ‘Oh, eh. Mas Aril.’

‘Iya, Mbak. Saya mau nanya aja, nih. Sekarang bisa datang?’

Nah, lho? Sekarang saya lagi di Depok, Mas, batin saya dalam hati. Sakng kagetnya, saya pun sempat terdiam beberapa saat.

Aril yang merasa saya diam pun berkata lagi, ‘Iya, Mbak Asri. Kemarin kita janjian Jumat kan, ya?’

‘Iya.’

‘Nah, kemarin itu teman Mbak Asri yang dari BiNus udah telepon?’

‘Temen?’

‘Iya, Mbak. Aduh, namanya siapa gitu. Kebetulan yang angkat bukan saya. Dia bilang dia temannya Mbak Asri. Dia bilang Mbak enggak bisa datang Jumat, bisanya Minggu.’

Saya pun speechless. Ini kenapa yah? Itu SIAPAAAA?? Pembaca yang budiman, demi Allah subhanahu wata’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, saya tidak pernah memberitahu kepada siapa2 kalau saya ada janji Placement Test di WSI hari Jumat itu. Apalagi bilang kalau hari Minggu saya baru bisa.

Aril pun bertanya pada saya mau janji Placement Test kapan lagi. Karena masih bingung, saya pun asal saja menjawab hari Rabu depan. Mau nangis saking bingungnya. Kalau ada yang merasa telepon, ngaku aja yaa..

Advertisements

3 thoughts on “Encore!

  1. Ashree W. says:

    Asri, satu lagi tuh yang suka nelponin dari MLM. mirip tapi ngga persis sama sih…namanya juga mereka usaha, cuman jadi ngerepotin aja

  2. waduh… atiati deh kalo dapet tlp dari perusahaan ini dan itu.. banyak loh perusahaan yang bersifat MLM dalam merekrut sdm.. hatihati dalam menganalisa tawaran kerja.. hitunghitung dulu…

    biasanya perusahaan yang bonavit tidak akan pernah melakukan test atau interview di weekend day.. biasanya pasti dihari kerja, ato paling lambat hari jumat.

    biasanya perusahaan yang begitu bergerak di FInance/futures yang gak jelas.

    atiati aja, keep going… perlahan tapi pasti…

    salam,

  3. Ashree W. says:

    @ashree w.: WHO’RE YOU?? Waduh, mesti sering2 log out nich.. Ga aman, ga aman….

    @bimaa: bikin makin sereeem….. Surely to be careful..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s