Surat Sahabat II: Rapat, Tur, dan Seminar yang Gagal

Siang, Sahabat. Akhirnya aku berada di sini untuk menceritakan ceritaku kepada dunia. Wah, minggu yang berat aku rasakan. Tapi akhirnya aku berada di tempat yang seharusnya aku berada; Bogor. Tempatku melampiaskan rasa lelah. Itulah mengapa setiap berada di sini, aku hanya tidur, tidur, dan tidur. Biasanya, di Jakarta, ketika sedang tidur, ditelepon kalau ada rapat entah di mana. Nah, kalau ditelepon lagi di Bogor kan ada alasan yang jelas dan konkrit. Bisa jadi sebagai pelarian dari keseharian. Karenanya, di sinilah tempatku melakukan apa yang tidak biasa kulakukan di Jakarta. Misalnya, makan makanan bergizi.

Minggu yang berat berawal dari sebuah rapat. Di sebuah rapat yang seharusnya mulai pukul 9, aku pun datang pukul 9 lewat 5. Sengaja aku datang tepat waktu, karena ada janji kembali pukul1. Kupikir sudah terlambat, ternyata malah kepagian. Di sana aku dapatkan ruangan yang kosong tak berpenghuni. Menunggulah aku. Sekitar kira-kira 45 menit kemudian, barulah datang yang lain. Hal yang mengejutkan adalah, rapat yang seharusnya dihadiri minimal lima orang hanya dihadiri tiga orang. Kecewa? Pastinya. Waktu yang aku habiskan untuk menunggu bisa aku pakai untuk mengerjakan tugas. Dan, karena yang menjadi pokok bahasan tidak datang, kami pun tidak mengerjakan apa2. How wasting my time so much.

Aku kecewa. Berkali-kali. Tapi kali ini entah mengapa, mungkin karena keadaan emosi saya yang sedang labil. Saat rapat itu, aku menangis. Menangis kecewa dan sedih akan keadaan. Too much thinking i’ve done so that i was speechless at that time; ga bisa mengatakan apa2 lagi karena udah trlalu banyak. Katanya mau semangat, tapi KENAPA malah saat satu bulan menuju hari-H terlihat langkah yang melambat? Ini fakta, ataukah saya yang terlalu sensitif? Ini karena saya yang terlalu mencemaskan ke depan atau mereka yang tenang?

Setelah rapat yang mengecewakan, mood saya pun menjadi sangat buruk. Seharusnya ada jadwal tur ke kantor media, tidak menjadi perhatian saya lagi. Benar saja, saya ketinggalan bus tur. Saat bertanya pada proteccom Kijang ke mana bus2nya, mendengar jawabanny yang mengejutkan membuat hati saya hancur. Bukannya saya berlebih2an, tp ini adalah hari yang saya tunggu2. Sebuah mimpi yang terwujud, mimpi saya tur ke kantor target saya. Proteccom itu seakan membaca raut wajah saya yang pucat, tapi saya berusaha tersenyum. Berjalan beberapa langkah meninggalkan kampus, tapi sesampai di depan satu tempat makan, saya pun langsung duduk di pojok dan menangis kembali. WAH, hari itu saya down dua kali.

Tentang tur itu, singkat cerita saya pun berangkat juga ke kantor media itu, dengan dibantu lima orang teman; satu mengkoordinir, satu meminjamkan mobil, satu menyetir, dua menemani dan menunjukkan jalan. Terima kasih ya Allah masih ada mereka. Tapi hal yang selanjutnya terjadi adalah, begitu sampai kantor media itu ternyata tur sudah selesai… Down lagi untuk ketiga kalinya.

Belum selesai. Ternyata malamnya, saya dikabari bahwa besok harus presentasi di sebuah seminar, di hadapan mahasiswa fasilkom. Di situlah saat saya sempat berkata, ‘Somebody please kill me.’ Tapi tidak ada juga yang trgerak untuk membunuh saya. Saya bimbang, apakah kabur tetap presentasi. Tapi dari dua orang yang saya tanya, dua2nya mendukung saya untuk presentasi dan bukannya kabur.

Alhasil, pagi besoknya adalah hari presentasi saya. Enggak banget deh, di depan mahasiswa Fasilkom, presentasi mengenai hubungan E-business yang dbantu dengan sastra. Well, presentasi berjalan seperti biasa. Bahkan bisa dbilang lumayan lancar. Tapi begitu tiba sesi pertanyaan, ada salah satu mahasiswa yang bertanya, ‘Lalu, sisi e-Businessnya di mana?’ WAH, saat itu jujur, yang ada dalam otak saya adalah, ‘Saya juga tidak tahu.’

Saya langsung menyimpulkan, berarti arti e-Business dalam kepala saya dan kepala mereka berbeda. Lantas kalau berbeda, kenapa paper saya diterima? Wah, berarti tidak diperiksa terlebih dahulu dong. Ah, typical negeri banget sih. Terlihat bahwa semua makalah yang masuk bisa presentasi. Kaget juga trnyata Binus bisa seperti ini.

Tapi sejujurnya, mau ada pertanyaan kayak apa pun, saya udah tidak peduli. Yang jelas adalah…. semua selesaaaai.. Aduh senangnya. Kepada dua orang yang meminta saya untuk tetap presentasi, saya mengucapkan banyak sekali terima kasih. Terima kasih, karena telah membantu saya mendapatkan pengalaman memberikan presentasi di hadapan mahasiswa fasilkom, yang pastinya tidak akan saya lakukan lagi dalam waktu dekat.

Advertisements

2 thoughts on “Surat Sahabat II: Rapat, Tur, dan Seminar yang Gagal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s