Fenomena Harry Potter

Siapa yang enggak tahu tentang Harry Potter? At least, denger kabarnya aja pasti udah kan. Ternyata, di balik kesuksesan karakter ini, ada fenomena tentang kontroversi filmnya yang katanya; 1. kurang disukai dari pada bukunya, 2. berlebihan pada beberapa karakter, dan juga 3. perlu ada pengawasan dari para orang tua.

Stereotipe: Adaptasi Film dari Novel Harus Sama

Stereotipe itu bisa saja benar, bagi yang sudah membaca bukunya. Untuk saya pribadi, yang juga udah baca bukunya, memang mengharapkan sebuah film yang mengisi imajinasi tentang sebuah buku yang fenomenal ketika pertama kali mendengar rencana pembuatan film pertama Harry Potter (and the Sorcerer’s Stone). Dalam benak saya (dan mungkin hampir semua pembaca novel ini), tertera tanda tanya besar tentang dunia sihir di Hogwarts. Hogwarts itu seperti apa ya? Harry Potter mukanya kya gimana ya? Daan, segala hal kecil dalam buku membuat kami penasaran.

Ketika sudah melihat filmnya, rasa penasaran kami pun terisi. Ternyata, Hogwarts tuh seperti ini. Rasanya, lebih enak jika membaca sebuah buku penuh imajinasi yang sudah tergambar dengan jelas. Terima kasih pada Chris Columbus untuk film yang atraktif, tapi cukup mengisi imajinasi kami akan dunia dalam buku.

Tapi hal yang terjadi selanjutnyalah yang membingungkan aku. Film Harry Potter kedua sedang dalam tahap pembuatan dan akan diputar tahun berikutnya. Begitu juga film ketiga, keempat, kelima, (kupikir) keenam, dan ketujuh. Seakan ada sebuah unsur tergesa-gesa dalam maraton film-film ini. Mereka (para produser dan kawan-kawan) mengesampingkan hal yang lebih penting dari sebuah film: karakter.

Dari semua film Harry Potter yang sudah aku tonton, SEMUA karakter Harry Potter dimainkan dengan main-main. Daniel Radcliffe, dia bisa main enggak sih? Sebagai pembaca yang tahu benar bagaimana karakter Harry Potter, aku seakan tidak mendapatkan touch Harry Potter dari seorang Daniel Radcliffe. Kurang mendalami peran, bisa jadi. Beberapa kali aku mendapati dia bersikap kaku. Hello? Kaku! Dalam film? Ko bisa lolos audisi, ya? Oke, dia menang tampang aja, yang emang sesuai dengan deskripsi novel. Kalau dibandingkan, justru Emma Watson dan Rupert Grint yang dikatakan mendapat touch karakter Hermione Granger yang bossy dan Ron Weasley yang kocak. Harry Potter? Well…

Secara pribadi aku kecewa dengan ketidaktelitian akan karakter dalam film ini. Memang adaptasi novel ke film tidak harus semua unsur novel dipindahkan dalam format video. Tapi seharusnya film ini tidak harus kehilangan unsur karakter tokoh utama, sebenarnya. Kalau dilakukan penelitian dan penelurusan lebih lama dan mendetail lagi, mungkin akan ditemukan orang yang lebih baik dari Daniel Radcliffe. Atau, mungkin Radcliffe bisa diolah lagi agar tidak terlihat kaku.

Overweighted Characters

Kalau dilihat, sebuah tantangan besar seorang sutradara menerima tawaran pembuatan film adaptasi novel, terutama novel best-seller yang imaginatif. Jelas tantangan, karena dia akan menghadapi sekian banyak pembaca yang menuntut sebuah gambar dari sebuah buku. Teringat kritik dari pembaca-pembaca the Lord of the Rings series pada sutradara film tersebut. Saat itu aku berpikir, film yang udah keren seperti itu masih dikritik oleh pembacanya. Berhubung aku memang belum membaca bukunya saat menonton film itu, jadi wajar-wajar saja aku berkata demikian. Ternyata, saat ini aku merasakan hal yang sama dengan pembaca the Lord of the Rings.

Beberapa pendapat yang tak sengaja mendukung film Harry Potter mengutarakan bahwa penulis skenario film berhak membuat sebuah karakter. Oke, tapi apakah juga berhak mengubah pemikiran pembaca? Satu contoh kasus, nih. Karakter kepala sekolah Hogwarts, Albus Dumbledore. Dalam buku, Dumbledore adalah seorang yang bijaksana, tenang dalam berbicara, tidak terbawa emosi, pintar, dan adil. Jadi bayangkan betapa terkejutnya melihat karakter Dumbledore di film benar-benar diciptakan sebagai seorang yang berbicara keras dan pemarah (khusus dimulai dari film Harry Potter ketiga). Dumbledore, yang bisa jadi adalah kesukaan dari para pembaca karena kebijaksanaannya, dibalikkan menjadi tokoh yang sama sekali tidak dikenal. Owh, mengecewakan.

Parental Advisory

Menurutku, anak-anak yang ingin menonton film ini adalah: 1. karena sudah membaca bukunya dan penasaran, 2. karena penasaran akan boomingnya film ini, 3. karena diajak kakak/saudara yang sudah membaca buku ini. Pertanyaanya, perlukan parental advisory?

Jawabannya satu inti aja: anak2 sekarang udah pinter, mereka pastinya udah tau yang mana salah dan benar. Ataaau, it could be: sok tau. Bukan apa-apa, berhubung saya selalu berhubungan dengan anak-anak, saya sedikit mengetahui bagaimana mereka: selalu ingin tahu. Tapi anak-anak sekarang trkadang terlalu selalu ingin tahu. Contohnya nih, pas kemarin saya pulang jam stengah11 malem, di angkot masih aja ktemu anak SMP (cowok,1) dan anak perempuan muda (juga seumur SMP,1). Yang cowok enggak tau deh dari mana, enggak jelas. Dia duduk di angkot (yang emang lagi ngetem) trus langsung sibuk dengan ponselnya yang keren (shock juga dah anak SMP ponselnya udah mantep). Yang cewek, dengan masih pake baju SMA, tiba-tiba ngangkat ponselnya. Dia seperti berbicara dengan orangtuanya; dia bilang, ‘Iya uda d jalan mau pulang, abis nonton.’

MG. Anak perempuan SMP pulang nonton jam11!! DIng ding. Untung orangtuanya bukan orangtua saya… Kok bisa yah?

Dunia berputar, zaman pun bergerak. Sekarang anak2 udah pnasaran ama malem, jadi maunya pulang malem. Jadi tinggal menuntut perhatian orangtua/wali, apakah membolehkan atau tidak. Sama dengan menonton Harry Potter itu. Seiring tahun berganti, Harry semakin dewasa. I guess, kdewasaan di film dengan di Indonesia enggak sesuai. Jadi, lebih baik anak2 dipending klo mau ngikutin Harry di film… Ini yang saya pikirkan.

Advertisements

One thought on “Fenomena Harry Potter

  1. Setuju kalo chemistry Emma dan Rupert tuh dapet!! *loh kok nyambung ke situ*

    selama nonton film HP, emang yg dapet feel cuma peran Ron Hermione,, knapa yah??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s